Rapor Biru untuk para Senior

Pasca berakhirnya turnamen Singapura Terbuka pekan lalu, para pebulutangkis terutama para senior mengalami kenaikkan peringkat. Di Ranking BWF per 28 Juni 2012, Jawara Singapura Terbuka asal Indonesia, Markis Kido dan Hendra Setiawan (gambar) kembali menjadi ganda putra terkuat Indonesia.

Markis Kido-Hendra Setiawan yang sempat terlempar dari Top 10 akhirnya mengembalikkan supremasinya menjadi ganda putra terkuat tanah air. Setelah menjuarai Singapura Terbuka, mereka naik tiga tingkat ke posisi 5 Dunia, menggeser ganda Olimpiade, Muhammad Ahsan-Bona Septano yang berada satu strip di bawahnya.

Chai Biao-Guo Zhendong dan Koo Kean Keat-Tan Boon Heong yang awalnya berada di peringkat 5 dan 6 masing-masing turun dua peringkat ke posisi 7 dan 8, posisinya digantikan Kido-Hendra yang naik 3 peringkat ke posisi 5 sedangkan Muhammad Ahsan-Bona Septano naik satu strip ke posisi 6. Berhasil melewati Ahsan-Bona, Kido-Hendra menjadi ganda terkuat Indonesia dan selanjutnya menginginkan posisinya sebagai ganda terkuat Dunia.

Markis Kido-Hendra Setiawan kehilangan posisi World No #1 pada 22 Oktober 2009, dimana saat itu Koo Kean Keat-Tan Boon Heong yang menjuarai Denmark Open Super Series naik ke peringkat #1 dunia. Sementara Kid0-Hendra turun ke peringkat #3, dibawah Jung Jae Sung-Lee Yong Dae.

Di awal 2010, Kido-Hendra sempat menduduki peringkat #2 lagi namun kembali digeser Jung-Lee. 24 Juni mereka kembali turun lagi, kala itu ke peringkat #4. Penurunan ranking mereka yang tajam terjadi di tahun 2012. Mereka sempat terlempar dari 10 besar dan puncak penurunan mereka terjadi di Maret ketika mereka berada di posisi #12. Tapi satu persatu turnamen mereka jalani, serta untuk mengejar tiket Olimpiade 2012. Tapi saat penutupan poin Olimpiade, mereka terhenti di posisi #9 yang berarti tidak lolos kualifikasi karena satu negara boleh mengirim 2 wakil di 8 besar.

Tapi setelah penutupan poin itu, mereka malah menanjak grafik rankingnya hingga kini menggeser Bona Septano-Muhammad Ahsan. Menduduki Ranking 5 Dunia, mereka semakin termotivasi untuk kembali menduduki peringkat satu dunia, peringkat yang telah mereka lepas tiga tahun lalu.

“ini gelar juara yang sangat berarti karena saya masih bisa membuktikan bisa bersaing lagi dan siap ambil kembali ranking satu dunia” ujar Kido. Sayang sekali mereka tak tampil di Olimpiade, padahal jika saja di Kejuaraan Asia atau India Terbuka lalu mereka tampil di babak pertama saja, sudah dipastikan mereka bisa tampil di Olimpiade 2012.

P’man and Supersony

Boonsak Ponsana (kiri) dan Sony Dwi Kuncoro (kanan) yang saling melawan di Olimpiade Beijing lalu kini sama-sama sedang mengalami peningkatan grafik permainan. Telah lama tidur, kedua tunggal putra veteran ini sukses meraih gelar tahun ini, yakni Singapura Terbuka untuk Boonsak dan Thailand Terbuka untuk Sony.

Keduanya memang serasa berjodoh. Mereka mengalami kenaikkan tajam di ranking dunia pasca Singapura Terbuka. Boonsak yang merupakan former World No #4 itu kini menduduki peringkat 21 dunia, naik 11 strip dari minggu lalu. Sementara peraih medali perunggu Olimpiade Athena, Sony Dwi Kuncoro naik 7 strip ke peringkat 29 dunia.

Gelar itu merupakan penantian panjang mereka selama lebih dari setahun. Sempat beberapa kali gugur di babak pertama beberapa turnamen yang mereka ikuti, kematangan teknik dan mental mereka lah yang membuat mereka menjuarai gelar itu. Selain itu, ada faktor dimana mereka menjuarai turnamen disaat rehatnya para pemain dunia untuk mempersiapkan Olimpiade.

Jodoh mereka juga terlihat di ajang tertinggi Olimpiade. Tapi Boonsak memiliki pengalaman buruk dengan Sony di ajang ini. Sejak menginjakkan kaki di 3 Olimpiade, 2 diantaranya dipertemukan dengan Sony dan Kedua pertemuan di Olimpiade itu dimenangkan oleh Sony dalam dua gim langsung.

Suami dari Gading Safitri itu dipertemukan dengan Boonsak di perebutan medali perunggu di Olimpiade Athena 2004. Tapi Lajang 30 tahun itu gagal 11-15, 16-17 sehingga harus finish di posisi keempat. Empat tahun kemudian, keduanya tampil di Olimpiade Beijing 2008. Mereka kembali dipertemukan dalam drawing. Sama-sama mendapatkan bye di babak pertama, mereka di pertemukan di babak kedua. Sony kembali menang 21-16, 21-14. Padahal beberapa bulan sebelumnya, tepatnya di Piala Thomas 2008, Boonsak mampu mengalahkan Sony dengan 21-17, 21-15.

Gold Medalist harus kalahkan Gade

Veteran lain yang masih sangat berjaya adalah Peter Gade. Hingga kini ia masih menempati Ranking #5 di nomor tunggal putra, padahal ia sudah berusia 35 tahun. Kenneth Jonassen pun sudah gantung raket, padahal Jonassen adalah tunggal generasi dibawah Gade.

Peter Gade punya sisi magis atau mitos di Olimpiade, yakni orang yang mengalahkan Peter Gade di Olimpiade akan menjadi peraih medali emas Olimpiade. Hal ini sudah dibuktikan di 3 Olimpiade yang telah diikuti Gade, yakni Sydney, Athena dan Beijing.

Di Sydney, Gade dipertemukan dengan Ji Xinpeng di Semifinal. Saat itu Ji Xinpeng menang dalam rubber gim 15-9, 1-15, 15-9 atas Gade. Kalah di Semifinal, Gade pun mengikuti perebutan medali perunggu melawan Xia Xuanze yang dikalahkan Hendrawan di Semifinal lain. Tapi Xia Xuanze lah yang menang di Bronze Medal Match dengan 15-3, 15-5.

Di Athena, kali ini Gade menginjakkan kaki di Perempat Final, bertemu dengan Taufik Hidayat. Saat itu Gade kalah 12-15, 12-15 sementara Taufik lolos menjadi Juara Olimpiade. Di Beijing empat tahun lalu, Lin Dan bertemu dengan Gade juga di Perempat Final. Di perempat final itu, Lin Dan menang dengan skor 21-13, 21-16. Lin Dan lah yang keluar sebagai peraih medali emas kala itu. Percayakah anda? Jika percaya, berdoa Simon atau Taufik akan bertemu dengan Gade di Olimpiade 2012 mendatang.

Gade sangat melegenda, Karirnya terbilang cukup lama. Namanya mencuat pasca Olimpiade 1996, jadi karirnya nyaris 16 tahun dan kini masih menduduki peringkat 5 Dunia. Pasca Olimpiade London mendatang, Gade akan gantung raket dan kemungkinan beralih profesi menjadi pelatih.

Iklan