Review DIO 2012

salam duaribuan…

Djarum Indonesia Open 2012 telah digelar dengan sukses, baik sukses penyelenggaraan maupun sukses prestasi, meskipun ada kekalahan wakil Indonesia di Final, yakni Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir, namun dengan kemenangan Simon Santoso di turnamen berlevel premier ini, kita patut bersyukur.

Disiarkan di Trans7, pertandingan babak Final Djarum Indonesia Open 2012 dimulai pukul 12.00 WIB, Trans7 menyetujui jam tayang ini, selain karena memang waktu yang cukup untuk para pebulutangkis mengembalikkan staminanya setelah babak Semifinal, Trans7 juga memiliki agenda di malam harinya yakni siaran langsung MotoGP yang hak siarnya tahun ini dipegang oleh televisi yang beberapa waktu lalu siarannya hilang di kawasan Banyumas.

Diharapkan selesai sebelum MotoGP disiarkan, ternyata durasi Final ini memakan waktu nyaris 6 jam dengan 5 partai yang berakhir tiga gim semuanya, ini memotong sedikit siaran MotoGP yang sebenarnya mungkin tak direlakan oleh Trans7, jadi mirip-mirip sama televisi sebelah, tidak ikhlas berakhir kekalahan. Berikut ini rangkuman atau review dari Djarum Indonesia Open Superseries Premier 2012.

PERANG MENJELANG MUSIM PANAS

Musim Panas kali ini, Olimpiade akan digelar di kota Ratu Elizabeth, London. Turnamen terakhir yang wajib diikuti pebulutangkis sebelum berangkat musim panas ini hanya Indonesia Open, dan tahun 2012 ini, ketidakhadiran Lee Chong Wei dan Lin Dan di turnamen ini memberikan kesempatan terbuka bagi semua pemain untuk berperang menjuarai nomor Tunggal Putra.

Dari Indonesia Open, para unggulan dari berbagai negara angkat koper lebih dulu. Tercatat ada 24 Unggulan dari berbagai nomor yang tak sampai di Semifinal, dan Unggulan pertama selain Wang Xiaoli-Yu Yang tak sampai babak Final. Ini daftar pemain unggulan yang tersingkir dari babak pertama (13/6) sampai Kuarterfinal (17/6) Djarum Indonesia Open 2012.

Round of 32

  • Chen Jin [CHN/2]
  • Peter Gade [DEN/3]
  • Sho Sasaki [JPN/4]
  • Kenichi Tago [JPN/6]
  • Muhammad Ahsan-Bona Septano [INA/6]
  • Fang Chiech Min-Lee Sheng Mu [TPE/7]
  • Christinna Pedersen-Kamilla Rytter Juhl [DEN/5]
  • Chen Hung Ling-Cheng Wen Hsing [TPE/5]
  • Thomas Laybourn-Kamilla Rytter Juhl [DEN/6]

Round of 16

  • Chen Long [CHN/1]
  • Lee Hyun Ill [KOR/5]
  • Jiang Yanjiao [CHN/6]
  • Ko Sung Hyun-Yoo Yeon Seong [KOR/4]
  • Mizuki Fujii-Reika Kakiiwa [JPN/4]
  • Chan Peng Soon-Liu Ying Goh [MAS/8]

Quarterfinals

  • Wang Xin [CHN/2]
  • Wang Shixian [CHN/3]
  • Tine Baun [CHN/7]
  • Juliane Schenk [GER/8]
  • Chai Biao-Guo Zhendong [CHN/5]
  • Jung Kyung Eun-Kim Ha Na [KOR/7]
  • Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna [JPN/8]
  • Zhang Nan-Zhao Yunlei [CHN/1]
  • Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen [DEN/3]

Di Final, satu-satunya non unggulan yang lolos adalah Sudket Prapakamol-Saralee Thongtoungkam dan mengalahkan unggulan 3 andalan tuan rumah, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir untuk gelar pertama tahun ini. Mungkin ini menjadi pelajaran bagi para seeded yang semuanya akan menjalani pertandingan di Olimpiade London 2012 (kecuali Jiang Yanjiao karena gak kebagian kuota). Banyak faktor yang menyebabkan para unggulan itu tewas sebelum babak Semifinal. Memang semua pemain tidak ada yang sempurna, namun untuk menjadi Juara, paling penting yang harus anda miliki adalah mental juara dan kesiapan.

Mental Juara

Seseorang yang bermental juara selalu pantang menyerah, tenang dan bisa mengendalikan keadaan. Pantang Menyerah sebelum match poin 21 terjadi dan jangan pernah takut terhadap lawan meskipun lawan yang dihadapi adalah unggulan yang lebih tinggi, Ketenangan untuk mengurangi kesalahan-kesalahan sendiri dan selalu berusaha berkonsentrasi, serta bisa Mengendalikan Keadaan untuk mendapatkan poin demi poin dengan tidak mengikuti alur permainan lawan.

Ini dibuktikan dengan banyak kemenangan dramatis di Indonesia Open 2012, seperti kemenangan Tontowi-Liliyana atas Xu-Ma di Semifinal, Saina Nehwal atas Li Xuerui di Final, Simon Santoso atas Wong Ki Wing di babak kedua, Markis-Hendra atas Rian-Rendra di Perempat Final dan banyak lagi para pemain yang memiliki mental Juara.

Kesiapan

Faktor kesiapan juga menjadi faktor utama bagi pemain. Siap teknis dan siap nonteknis patut dimiliki oleh setiap pemain saat bertanding di lapangan. Mungkin para unggulan punya kesiapan teknis (teknik main),  namun kesiapan nonteknis ini yang belum disiapkan untuk berperang di Jakarta. Salah satu faktor nonteknis utama yang berpengaruh terhadap pemain adalah Penonton Istora dan ‘Angker’nya Istora.

Angkernya Istora dan teriakan ribuan penonton Istora mampu membuktikan bahwa Tontowi-Liliyana mengalahkan Xu-Ma di Semifinal, Meiliana-Greysia yang mampu menyulitkan Ganda China, Kekalahan Zhang-Zhao di Perempat Final dan kemenangan Mathias Boe-Carsten Mogensen di Semifinal.

Sedangkan untuk kesiapan teknis, stamina dan fisik yang prima adalah salah satu yang mendukung penampilan. Kelelahaan fisik yang dialami Sony Dwi Kuncoro menjadi salah satu contohnya. Cedera juga bisa membuyarkan permainan pemain, seperti yang terjadi di tunggal putri andalan tanah air, Adrianti Firdasari di babak pertama DIO 2012.

Inilah yang dinamakan Perang menjelang Musim Panas. Perang mental dan kesiapan antar pemain di lapangan. Siapa yang bermental juara dan yang paling siap, dialah yang menjuarai turnamen ini. Perang Mental dan Kesiapan ini akan lebih ketat di Olimpiade 2012 nanti, maka dari itu pemain Indonesia harus benar-benar siap mental, fisik dan nonfisik menghadapi Olimpiade, karena dengan itulah tradisi medali Indonesia bisa terus berlanjut.

AKSI PARA SELEBRITI LAPANGAN

Djarum Indonesia Open memang sangat berkesan, tak terkecuali aksi-aksi para pebulutangkis di lapangan maupun di luar lapangan yang tertangkap oleh kamera. Memang atlet bak selebriti yang selalu dihinggapi kamera dimanapun ia berada. Sama seperti selebritis, para atlet itu juga berusaha menghindar, berikut cerita-cerita atlet di event Djarum Indonesia Open 2012.

Atlet minta Berfoto

Banjir berfoto memang ada di Lee Yong Dae tahun ini, memang biasa karena bukan Lee yang meminta berfoto, tetapi para fans yang berasal dari suporter sampai para wartawan. Namun, Bao Yixin dan Zhong Qianxin membuatnya unik, ia berfoto dengan anak Juara Dunia dan Juara Olimpiade, Taufik Hidayat yang ternyata diidolakan oleh para pemain muda China. Sempat terlihat pemain-pemain muda China itu berfoto dengan anak buah cinta Taufik dengan Ami Gumelar.

Support Keluarga

Support Keluarga benar-benar memenuhi Istora Gelora Bung Karno. Dari dalam negeri, dua istri dari dua pebulutangkis Indonesia, Ami Gumelar dan Gading Safitri (istri Sony) yang hadir saat babak kedua DIO 2012 antara Taufik kontra Sony yang disiarkan oleh Trans7. Sempat beberapa kali kamera menshoot Ami dan Gading yang berada di tribun penonton.

Ibunda Jawara Ganda Putra DIO 2012, Lee Yong Dae juga datang khusus ke Jakarta untuk mensupport anak tercintanya. Ibu Lee sempat dishoot saat laga melawan Malaysia di Perempat Final Djarum Indonesia Open 2012 yang mencuri perhatian para pendukung fanatik dari Lee Yong Dae. Pacar dari Tontowi Ahmad juga menjadi suporter setia Jawara All England 2012, Michelle Harminc, sayang saat berakhirnya laga Final, ia malah mengeluarkan tweet yang mungkin membuat sakit hati para suporter Indonesia dengan mengatakan bahwa Penonton Indonesia tidak setia saat Ganda Campuran Indonesia itu tertinggal.

Komentar Atlet

Pasca tanding, pasti atlet-atlet akan diundang untuk wawancara, namun ada juga yang menolak seperti Chen Long setelah digagalkan Kashyap Parupalli di babak kedua. Namun diluar ia, banyak pemain atau bahkan orang-orang penting yang bersedia untuk diwawancarai, ini beberapa komentar unik.

  • Liliyana Natsir : “Kami ambil sisi positifnya saja dari kekalahan ini, bagian mana yang masih perlu ditingkatkan dan diperbaiki
  • Yacob Rusdianto (Sekjen PBSI) : “Kami menghimbau kepada masyarakat agar terus mendukung atlet bulu tangkis Indonesia, karena mereka sudah memperlihatkan usaha dan perjuangan pada turnamen ini
  • Daren Parks (Wakil BWF) : “Pada tahun lalu, DIOSSP dinobatkan menjadi turnamen bulu tangkis terbaik di seluruh dunia, sepertinya tahun ini hal tersebut akan terulang. Saya melihat stadion yang fantastis, penyiaran televisi yang bagus, dan banyak sekali hiburan di arena Istora”
  • Lee Yong Dae : “Kami sangat senang bermain di Indonesia karena banyak penonton di sini yang mendukung kami
  • Jung Jae Sung : “Mungkin ia (Lee Yong dae – red) akan pindah tinggal disini (Indonesia – red)”
  • Saina Nehwal : “Indonesia adalah rumah kedua bagi saya
  • Simon Santoso : “Gelar ini saya persembahkan untuk Papa, meskipun beliau sudah tidak ada, tapi akhirnya saya membuktikan kalau saya bisa. Selain itu saya juga berterima kasih atas dukungan pelatih, keluarga”

Itu adalah beberapa komentar pilihan yang duaribuan berikan. Kata-kata itu bisa dikembangkan menjadi sebuah news yang menaikkan rating media yang membuat berita itu..

Cari Perhatian

Pemain papan atas juga banyak menarik hati para suporter supaya bisa mendukung mereka, yakni dengan membuka kaos misal. Di dua pertandingan, Di babak kedua, Semifinal dan Final, Lee Yong Dae mengganti pakaiannya saat pergantian gim kedua ke gim ketiga (kalo salah dikoreksi). Sontak suporter yang demam Korea berteriak-teriak kepada atlet yang meraih emas Olimpiade di usia 19 tahun itu.

Selain Lee Yong Dae, tak kalah Mathias Boe juga mengganti pakaian di lapangan. Perang Curi perhatian bahkan terjadi di Final Ganda Putra. Jika Lee membuka baju, Boe membuka celana kalo tak salah. Tapi usia memang membuktikan, Istora lebih memilih Lee Yong Dae untuk diberikan teriakan daripada Boe.

Pecahkan Konsentrasi

Memecahkan konsentrasi lawan memang menjadi andalan jika pemain berada dalam keadaan tertinggal. Di DIO 2012, banyak sekali aksi para kampiun yang mencoba menghamburkan konsentrasi lawan.

Jawara All England 2012, Tian Qing-Zhao Yunlei menjadi salah satu pemain yang dibuat kerepotan menghadapi pasangan terbaik Indonesia, Greysia Polii-Meiliana Jauhari. Pertandingan yang berlangsung 67 menit itu berakhir ketat dengan kemenangan Tian-Zhao 21-16, 17-21, 21-19. Tahun 2012 ini, Tian-Zhao hanya tidak mampu memberikan kemenangan telak melawan 4 pasangan, 3 diantaranya adalah ganda putri asal Indonesia.

Empat pasangan yang menggoyahkan mereka adalah Anneke Feinya Agustin-Nitya Krishinda Maheswari, Jung Kyung Eun-Kim Ha Na, Della Destiara Haris-Suci Rizky Andini dan Meiliana Jauhari-Greysia Polii. Pertemuan dengan Anneke-Nitya dan Jung-Kim terjadi di Korea Open. Di babak pertama, Anneke-Nitya mampu memaksakan deuce kepada pasangan China yang kala itu diunggulkan di tempat kedua. Butuh 3 match poin di gim kedua untuk menuntaskan perlawanan Anneke-Nitya.

Dengan Jung-Kim yang merupakan Ganda Korea Juara India Open 2012 ini, Tian-Zhao butuh waktu 70 menit untuk menang. Di gim pertama, Tian-Zhao sudah gim point 20-16 namun Korea malah menang 26-24. Di gim kedua, China tancap gas menang mudah mudah 21-5 dan di gim penentuan, sempat menipis 13-12 untuk China, bertubi-tubi mereka menyerang Ganda Korea ini dan terbukti menang 21-13.

Perlu diingat dari kedua pertandingan diatas, tak banyak ganda papan atas yang mampu membuat deuce atau bahkan rubber kepada ganda China. Mereka memiliki pukulan, teknik, penempatan dan smash yang keras. Komplitnya mereka dipadukan dengan usia yang masih muda sehingga stamina dan fisik yang sangat prima.

Di Piala Uber 2012, Tian-Zhao kembali digebrak Ganda muda Indonesia, Suci Rizky Andini-Della Destiara Haris, nyaris kalah. Namun mental mereka yang sudah teruji (ketika menjuarai All England) membuat mereka menang 24-22, 19-21, 21-15 dalam durasi 69 menit. Selain memaksa deuce di poin genting, Suci-Della juga memaksa rubber gim. Luar biasa, Ganda negeri lain belum ada yang seperti itu.

Dan di Djarum Indonesia Open 2012 kemarin, Kali ketiga Ganda Indonesia mengobrak abrik Ganda kedua China ini. Ini membuktikan bahwa sekuat apapun tembok China, seiring waktu tembok itu akan retak dan rapuh. Meiliana-Greysia menunjukkan keep flighting yang tinggi. Di gim pertama, pasangan Indonesia kalah, banyak kesalahan yang dibuat kedua pasangan ini sehingga kalah 16-21, namun mereka memperbaikinya di gim kedua. Dari kedudukan 18-17, Pasangan Indonesia terus menerus menekan dan menang 21-17.

Di gim penentuan, sempat tertinggal 6-11, mereka mampu mempertipis menjadi 10-11 bahkan sempat menyamakan kedudukan 13-13. Tertinggal lagi namun bisa menipiskan lagi, Bahkan pasangan Indonesia sempat mengamankan 3 kali match poin di 20-19, namun sergapan yang diberikan Tian tak dapat dikembalikan Greysia, malah menyangkut di net. Memberikan tiket Final ke Ganda China dan menciptakan All Chinese Final.

Selain mengaku terganggu konsentrasinya karena riuhnya stadion, Zhao Yunlei bahkan sempat mematahkan bulu shuttlecock untuk mengaburkan konsentrasi pasangan Indonesia. Bayangkan, demi mencuri satu poin kemenangan, Ganda Nomor 2 China perlu mematahkan shuttlecock beberapa kali, agar shuttlecock bisa diganti untuk mengulur waktu. Standing Applause buat mereka. Greysia sempat mencuri

SUKSES MENGHIBUR

Djarum Indonesia Open sukses menghibur para pendatang dari berbagai daerah. Selain dengan pertandingan yang benar-benar luar biasa dan berkelas, panitia juga sukses menghibur dengan puluhan atraksi yang mendulang pujian dari dunia Internasional.

Selain itu, ulah maskot-maskot unik di pinggir lapangan membuat tawa memenuhi Istora. Namun akhirnya, DIO si maskot tuan rumah bisa berselebrasi mengikuti kemenangan Simon. DIO berdampingan dengan Naga Lung-Lung (Wang-Yu), Gajah Shinta (Sudket-Saralee), Harimau Suju (Jung-Lee) dan maskot India yang mirip gajah juga mewakili kemenangan Saina Nehwal.

Turnamen tahun ini termasuk komplit. Selain booth-booth yang menarik dan lengkap, siaran televisi dan pastinya gemuruh Istora, sajian di dalam lapangan nyaris berbeda. Penyanyi menyanyi ditambah atraksi tari-tarian ini yang mungkin berbeda.

Inilah yang membuat BWF tertarik untuk menjadikan Indonesia menjadi tuan rumah di BWF event seperti Piala Sudirman atau Kejuaraan Dunia. Menurut Sekjen PBSI, September mendatang akan ada bidding dan Indonesia mungkin akan mencalonkan diri. Akankah dengan kebocoran atap yang terjadi saat laga Shixian vs Saina akan tetap dibiarkan??

Istora memang historis, Peter Gade pun berharap tidak dipindahkannya turnamen ini, namun Gade menyatakan Istora memang seharusnya diperbaiki. Sebelum SEA Games 2011, sebanyak 10 miliar digelontorkan untuk merehab Istora, tetapi hasilnya Indonesia malu karena atap Istora bocor saat laga Women’s Team Indonesia vs Malaysia di Istora, November lalu. Jika pun diadakan rehab besar Istora, butuh waktu lama pula, padahal event tahunan itu hanya bisa dilaksanakan di Istora yang memenuhi syarat untuk turnamen DIO berkelas premier.

Kelas Premier memberikan hiburan tanding yang tinggi bagi penonton. Kemenangan Simon Santoso mencetak banyak sejarah, selain menjadi orang diluar China dan Malaysia yang meraih titel Premier Tunggal Putra ini, Simon berhasil menghentikan paceklik gelar tuan rumah sejak tahun 2009.

Melawan Tunggal Peringkat 10, Du Pengyu, Simon Santoso harus melakoni laga rubber gim untuk menang. Pertandingan mulai berjalan sengit saat Simon yang sudah unggul jauh 18-8 nyaris tersusul oleh Du. Pelan-pelan pemain asal China ini mengumpulkan satu demi satu poin hingga memperkecil ketertinggalannya pada kedudukan 18-20.

Satu penempatan bola di depan net yang cukup menyulitkan Du membuat Simon menutup gim pertama. Sayangnya gim kedua menjadi anti klimaks bagi pemain Indonesia rangking sembilan dunia ini. Simon tertinggal jauh hingga 4-11 dan gim penentuan terpaksa dimainkan. Awal gim ketiga juga berlangsung sengit, namun setelah memimpin interval gim pada kedudukan 11-6, Simon seperti tak dapat dihentikan, ia terus berlari meninggalkan Du hingga 17-9. Du yang tak dapat berbuat banyak akhirnya harus mengakui keunggulan Simon dan menyerah pada kedudukan 11-21.

Simon tertunduk, raket ia lempar. Sempat mengkode sang pelatih, ia memilih menyalami lawan dan umpire-service judge sebagai tanda fair play diiringi tepukan tanda terima kasih kepada para penonton di Istora. Setelahnya, Ia pun berlari ke pelatih tunggal putra, Agus Dwi Santoso. Ia meminta pelukan yang lebih mirip gerakan minta gendong. Terlihat pelatih, asisten dan anak didik saling berpelukan dikelilingi oleh berbagai kamera yang terus menyorot dari berbagai sisi. Kado manis bagi sang ayahanda yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu, senyum Simon, senyum Indonesia.

HANYA MENANG MUSIMAN

Kekalahan Tontowi-Liliyana di Final Indonesia Open 2012 mengingatkan kita akan kekalahan mereka tahun lalu. Ini seperti de Javu saat momentum kekalahan di Partai Final Djarum Indonesia Open Superseries Premier 2011.

  1. Saat Final 2011 mereka kalah dari Zhang-Zhao dalam rubber gim, padahal di pertemuan sebelumnya (SingOpen) Owi-Butet menang lawan duo ZZ. Di tahun 2012, Sudket-Saralee mengalahkan mereka juga rubber gim, padahal di pertemuan sebelumnya (India Open), Owi-Butet menang lawan Sudket-Saralee.
  2. Sebelum Final DIO 2011, Butet-Owi meraih hattrick juara (2 Superseries + 1 Malaysia GPG), kejadian sama terulang di Final DIO 2012, mereka juga memenangkan 2 Superseries (All England-India) dan Swiss GPG.

Tetapi yang paling saya khawatirkan, prestasi musiman ini kembali terjadi di 2012. Pasca kekalahan di Indonesia Open 2011, Prestasi Owi-Butet tak bagus di kancah papan atas, mereka tak meraih gelar besar pun setelah Hattrick itu, paling banter hanya Grand Prix Gold, padahal untuk ranking mereka, titel Superseries harusnya bisa digenggam. Pasca Hattrick 2012, Owi-Butet rasanya juga patut benar-benar berbenah, karena yang akan dihadapi adalah Olimpiade.

Mereka menjadi tulang punggung Indonesia di Olimpiade, padahal mereka baru dipasangkan 2 tahun, tak seperti Sudket-Saralee yang telah nyaris 2 Olimpiade (10 tahun) dilalui bersama atau Markis-Hendra yang juga dipasangkan 4 tahun jelang Olimpiade 2008. Benar-benar miris, pemain muda harus dibebani emas di Kejuaraan tertinggi dan paling bergengsi..

salam duaribuan…

Iklan