Semifinal DIO 2012 di Trans7

salam duaribuan…

Djarum Indonesia Open Superseries Premier 2012 sudah melewati babak perempat Final kemarin. Secara keseluruhan, semua berjalan baik, walaupun memang Sony tidak mampu melawan Du Pengyu karena kelelahan, tetapi jempol patut diberikan kepada puluhan suporter Indonesia yang setia mendukung pemain kita.

Taufik Hidayat dan Muhammad Ahsan adalah dua pebulutangkis yang pernah menggumamkan kata untuk tetap mendukung meskipun mengalami kekalahan di account jejaring twitter miliknya. Memang benar, siapa sih yang mau kalah. Atlet pun gak mau, tetapi berbagai faktor dapat mempengaruhi pola permainan pemain/pasangan di lapangan.

Dan kemarin sewaktu siaran, Sigit Budiarto dan Bung Daryadi yang menjadi komentator lapangan menyinggung mengenai banyaknya faktor non teknis dan harus dipersiapkan oleh para pemain jika ingin bermain di Istora. Mau tahu faktornya? tilik news dibawah karena kita update mengenai jadwal siaran DIO 2012 untuk babak Semifinal yang dimulai pukul 14.30 WIB di Trans7 dengan berbagai hiburan.

  • MD : Mathias Boe-Carsten Mogensen [DEN/3] vs Koo Kean Keat-Tan Boon Heong [MAS/8]
  • WD : Meiliana Jauhari-Greysia Polii [INA] vs Tian Qing-Zhao Yunlei [CHN/2]
  • MS : Simon Santoso [INA/7] vs Kashyap Parupalli [IND]
  • MD : Markis Kido-Hendra Setiawan [INA] vs Jung Jae Sung-Lee Yong Dae [KOR/2]
  • XD : Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir [INA/3] vs Xu Chen-Ma Jin [CHN/2]

Indonesia berhasil menempatkan 4 wakil disana, namun sayangnya tiga ganda Indonesia harus menemui unggulan kedua di nomor berbeda. Kans besar ada di Simon, apalagi di beberapa pertemuan melawan Kashyap, Simon selalu menang. Tetapi Kashyap perlu diwaspadai karena ia mengalahkan Chen Long di putaran 16 besar lalu. Sementara 3 ganda Indonesia lain menemui jalan berat karena di pertemuan terakhir mereka terjadi kekalahan untuk ganda Indonesia.

Bagi Kido-Hendra, kemungkinan masih besar mengalahkan Jung-Lee, karena pertemuan terakhir mereka terjadi rubber set, dimana mereka kalah 11-21, 21-17, 19-21. Namun pendukung Istora yang banyak remaja putri dari salah satu situs mengaku mendukung keduanya, yang menang akan mereka dukung di Final nantinya.

Berbeda dengan Meiliana-Greysia, keep flighting yang ditunjukkan mereka di Perempat Final, dukungan dari pelatih yang terus menerus meneriakan fokus kepada mereka ditambah dukungan ratusan penonton Istora yang pasti mendukung pasangan ganda putri terkuat Indonesia ini mungkin saja tidak berakhir dengan skor telak seperti di Perempat Final Kualifikasi Uber 2012, dimana saat itu Tian-Zhao menang 21-7, 21-9.

Pembuktian Tontowi-Liliyana untuk emas Olimpiade bisa dilihat dari laga Semifinal petang nanti. Mereka akan menghadapi unggulan kedua asal China, Xu Chen-Ma Jin. Jalan Owi-Butet jika mengalahkan Xu-Ma lebih mudah, pasalnya di top half, ganda terkuat, Zhang Nan-Zhao Yunlei dikalahkan veteran Thailand, Sudket Prapakamol-Saralee Thongthoungkam.

Malam Minggu, Ayo ke Istora

Malam minggu ini, Istora akan menggelar babak Semifinal DIO 2012 dan 5 partai diantaranya akan disiarkan oleh Trans7. Bagi anda yang bisa menyempatkan diri ke Istora, panitia memberikan berbagai hiburan seperti yang disebutkan diatas. Hiburan itu diantaranya adalah Cherrybelle, Judika dan Laser Show.

Pertandingan DIO 2012 untuk babak Semifinal akan digelar pada pukul 11.00 WIB dengan dua pertandingan sesama China yakni Wang Xiaoli-Yu Yang vs Bao Yixin-Zhong Qianxin dan tunggal putri Wang Yihan vs Li Xuerui, namun Trans7 menyiarkannya pada pukul 14.30 WIB dengan menghadirkan 8 pertandingan selanjutnya. Sambil menunggu, sepertinya akan ada perfoma dari penyanyi-penyanyi itu yang mungkin juga akan mencoba mini court di Kompleks Istora.

Dipastikan pertandingan itu berlangsung sampai malam, bagi anda yang sudah selesai mendukung pemain Indonesia atau merasa bosan, anda dan pasangan bisa berkunjung di booth yang ada di kawasan Istora Gelora Bung Karno.

Booth itu seperti both Official Marchandise, booth PB Djarum (gambar) sampai bisa beristirahat atau ingin duduk di kursi OSIM yang berkualitas? siap rogoh kocek anda lebih dalam lagi. Perusahaan yang berpusat di Singapura itu menjadi sponsor dari OSIM BWF World Superseries dan Superseries Premier.

Tunggu apa lagi, Nova Widianto, sang asisten pelatih ganda campuran di Pelatnas sudah mencoba kursi OSIM. Ke Istora, bawa pasangan, teman, keluarga dan jangan lupa aksesoris mendukung pemain Indonesia yang tersedia juga booth-booth disana. Indonesia Pasti Menang.

DJARUM INDONESIA OPEN – DAY 4

Indonesia Open hari keempat Jumat kemarin memberikan memori besar karena jawara bertahan ganda campuran terhenti, bahas komentator dan berbagai kesan pemain Indonesia yang kemarin bermain di babak Perempat Final.

Sony terhenti sendiri

Sony menjadi pemain Indonesia sendiri yang terhenti di tangan pemain asing. Bermain melawan pemain unggulan 8, Du Pengyu, Sony mengaku sudah kelelahan dan kehilangan konsentrasi di lapangan bahkan ia sempat frustasi dan down.

Melawan Du, perolehan sempat ketat bahkan di awal gim kedua, Sony memimpin 9-4, namun memang karena lelah. Ia pun kalah 14-21, 15-21 dalam waktu 52 menit. Tetapi Du Pengyu memang ulet, dia pantas menang. Selain tampil prima dan mampu mengembalikan semua bola Sony, Sony juga kekelahan karena bermain penuh di Thailand Open, dia juga memulai turnamen ini melalui babak kualifikasi yang digelar Selasa dengan dua pertandingan. Publik memakluminya, Sony lelah. Biarkan ia istirahat.

Di Semifinal, nomor tunggal putra masih ada Simon Santoso yang mengalahkan Dionysius Hayom Rumbaka 21-17, 21-7. Simon sendiri mengaku Hayom tidak sabar melakoni laga kontra seniornya itu. Di babak empat besar, ia akan melakoni laga melawan Kahsyap Parupalli dari India yang mengalahkan Hans Kristian Vittingus dengan 21-15, 21-14. Melawan Simon, Kashyap mengaku tak takut, ia hanya takut akan sentimen publik Istora yang pastinya akan melawannya nanti sore. Kita juga akan melihat maskot apa yang akan dikeluarkan panitia untuk menghibur di pinggir lapangan mewakili India, maskot garuda DIO sendiri sudah pasti siap melakukan selebrasi untuk kemenangan Simon.

Menyinggung perang maskot, kemarin si Rubah Katsu harus terbaring menangis diinjak oleh garuda DIO saat pertandingan nomor ganda putri, Meiliana Jauhari-Greysia Polii mengalahkan ganda fenomenal Jepang unggulan 8, Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna yang di Olimpiade Beijing menjadi Semifinalis (Fourth Place). Meiliana-Greysia menang 21-13, 21-16.

Berdasarkan wawancara, Greysia mengaku sudah belajar dari kekalahan di 4 pertemuan sebelumnya. Ini juga merupakan pembuktian mereka menuju Olimpiade London 2012. Dari situs resmi BWF, Greysia-Meiliana disebut sebagai pasangan penggebuk (Meiliana – heavy hitting from the back) dan playmaker (Greysiaplaymaker in front). sebuah kombinasi yang dijaga hingga kemenangan 43 menit itu.

Sementara Pasangan ganda putra peringkat 7 dunia, Markis Kido-Hendra Setiawan mengalahkan rekannya yang berasal dari Djarum, Rian Sukmawan-Rendra WIjaya dengan skor 21-18, 21-9. Padahal di gim pertama, Rian-Rendra sempat unggul jauh 17-11 namun berbalik kalah 18-21. Di gim kedua, pasangan emas Olimpiade 2008 itu unggul jauh dan menang 21-9. Di Semifinal, mereka melawan Jung Jae Sung-Lee Yong Dae.

Di nomor ganda campuran bagian bottom half, jika Xu Chen-Ma Jin menang mudah dari Tao Jiaming-Huan Xia dengan 21-11, 21-12, pasangan All England, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir harus melakoni laga rubber 21-15, 15-21, 21-11 oleh pasangan kakak beradik Markis Kido-Pia Zebadiah Bernadet. Dalam pertandingan itu, di kedudukan match poin 20-10, service Owi yang menyangkut jadi candaan kedua pasangan itu, bahkan sempat tersorot ketika Owi mengusap-usap rambut Butet. Candaan itu bahkan berlanjut sampai di ruang ganti. Di Semifinal, ganda yang digadang-gadang membawa emas Olimpiade bagi Indonesia itu akan melawan Jawara Korea Open 2012, Xu Chen-Ma Jin.

Persiapan nonteknis di Jakarta

Di siaran langsung yang dipandu oleh Bung Daryadi bersama dengan Sigit Budiarto (Susi Susanti pindah ke studio, masih juga sering memakai kata “agak” dalam komentarnya). Sigit Budiarto menyebutkan bahwa ketika setiap pemain datang ke Istora Senayan di Jakarta untuk bertanding, mereka harus siap dengan berbagai persoalan nonteknis.

Yang paling utama adalah mental bertanding, itu berdasarkan pengalaman Pribadi dari seorang Sigit Budiarto kemarin saat menjadi komentator lapangan di siaran bulutangkis Trans7. Mental bertanding akan sangat diuji jika seorang pemain bertanding di Istora Senayan Jakarta, apalagi jika melawan pemain Indonesia, karena ribuan penonton akan meneriaki lawan Indonesia.

Hal ini terlihat dalam pertandingan Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna melawan ganda putri nomor 1 Indonesia, Meiliana Jauhari-Greysia Polii. Saat mendapatkan poin pertama di gim pertama, Satoko sempat melihat tribun penonton, dan mungkin ia gugup sekali sehingga beberapa kali smash Meiliana dan Greysia diarahkan kepada Satoko dan memang mendulang poin di gim pertama.

Karena fanatisme penonton Istora pula, Djarum Indonesia Open menjadi salah satu turnamen premier bergengsi. Di babak pertama pada hari Rabu saja, terhitung Istora layaknya stadion negara lain saat Final, mungkin karena memang masyarakat Indonesia kebanyakan lebih menonton di babak awal karena tiket yang tidak terlalu mahal, namun sebanding dengan kualitas pertandingan yang luar biasa, bahkan ketika ditanyai, Ia lebih memilih menonton langsung di Istora pada babak awal lalu saat babak akhir ia menonton lewat televisi (Trans7 – red).

Sementara itu, Istora kemarin mendapatkan pukulan. Istora tersipu malu ketika air hujan deras menerobos masuk ke lapangan Istora Gelora Bung Karno. Parahnya, pertandingan itu berada di Court TV, saat Saina Nehwal melakoni laga Perempat Final melawan Wang Shixian. Meski bisa diatasi, Pertandingan itu berlangsung 96 menit dan menjadi pertandingan terlama.

Jika hujan kembali melanda Istora, terlebih saat Trans7 meliputnya, ini bakal menjadi pukulan berat, dimana seluruh Indonesia akan tahu bagaimana keadaan Istora, di saat kucuran dana triliunan rupiah dari pemerintah malah dikorupsi sampai Hambalang pun runtuh. Gade sendiri menyatakan bahwa Indonesia harus tetap mempertahankan Istora, namun pemerintah juga harus memperbaiki Istora yang berusia tua. Istora sendiri dibangun menjelang Asian Games di Jakarta.

Saat laga Shixian vs Saina, kedua pemain unggulan ini melakoni baru melakoni gim ketiga. Saat skor 5-7, pertandingan terhenti akibat air yang mengucur deras dan membasahi court meskipun pertandingan kembali dilanjutkan usai lapangan dibersihkan. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Saina Nehwal 21-17, 21-23, 21-19.

Peristiwa ini menjadi ulangan kebocoran ketika pertandingan Women’s Team SEA Games 2011 antara Malaysia vs Indonesia. Yakni di pertandingan gim ketiga antara Adrianti Firdasari vs Cheah Li Ya Lidia.

Sentimen ‘anti-china’

Sentimen anti China menyeruak di Tribun penonton Istora. Ketika laga Perempat Final kemarin, ketika ada pemain negara lain melawan China, pasti publik Istora mendukung lawan China. Hal ini seperti terjadi antara Sudket-Saralee yang berhasil menundukkan unggulan pertama, Zhang Nan-Zhao Yunlei dengan 18-21, 21-18, 21-17.

Selain itu pula Istora mendukung Saina Nehwal yang mengalahkan Wang Shixian, Mathias Boe-Carsten Mogensen yang mengalahkan Chai Biao-Guo Zhendong dan Sung Ji Hyun yang mengalahkan Wang Xin. Sepertinya Publik Istora sangat ‘anti China’.

Teriakan itu sepertinya bakal terulang hari ini, bahkan lebih keras karena pemain Indonesia lah yang melawan pemain China, yakni Owi-Butet melawan Xu-Ma dan Meiliana-Greysa melawan Tian-Zhao. Kekalahan Zhang-Zhao menjadi yang paling diangkat di berbagai media, Sudket Prapakamol-Saralee Thongthoungkam membalas kekalahan straight set atas Tao Jiaming-Tang Jinhua di Final Thailand Open 2012 dengan menuntaskan Zhang Nan-Zhao Yunlei di Perempat Final kemarin.

Sentimen anti-China ditanggani dingin oleh pemain China itu sendiri. Di Babak Perdelapan Final kemarin, Chen Long yang dikalahkan dua gim langsung oleh Kashyap Parupalli ternyata seusai bertanding tak mau diwawancara oleh media yang menunggunya. Ia lebih memilih menghindar dari sergapan media. Sentimen anti-China dibalas sentimen anti-media.

Modisnya Putri-putri Denmark

Putri-putri Denmark yang biasa tampil di kejuaraan papan atas, seperti Tine Baun dan duet Kamilla Rytter Juhl-Christinna Pedersen memiliki style sendiri dalam bertanding. Dalam gambar diatas, terlihat Christinna Pedersen memakai pakaian biasa namun rok nya yang berbeda.

Rok Christinna itu dipadukan berbeda dengan celana pendek yang pas dengan paha nya. Jika kita melihat putri-putri China, kita teringat rok-rok mereka yang panjang (Lu Lan) dengan celana pendek yang tidak terlihat di balik rok nya. Namun Rok pemain China itu sedikit longgar sehingga mudah dalam pergerakan.

Sedangkan Putri-putri Jepang lebih memilih mengekspos paha-paha mereka. Sebenarnya, rok yang pendek itu bermaksud untuk memudahkan mereka dalam pergerakan (footwork), tetapi banyak yang memanfaatkan untuk melihat mulusnya paha-paha pemain Jepang.

Sedangkan pemain ganda Denmark diatas, mereka memakai Rok yang pendek sekali namun celananya juga panjang, jadi terlihat lebih sopan namun pergerakannya juga tidak terganggu, jadi ini mungkin bisa menjadi contoh bagi pemain putri Indonesia agar footworknya tak terganggu namun tetap enak dipakai dan tidak menimbulkan birahi bagi yang melihatnya seperti yang saat ini ditentang oleh berbagai negara mengenai masalah rok.

Sementara untuk tunggal putrinya, Tine Baun, semakin tua makin modis. Di babak Perempat Final kemarin, ia kalah dari Wang Yihan dengan skor 19-21, 24-26. Modisnya ia terlihat dari pakaian yang dikenakannya sewaktu bertanding melawan Yihan kemarin.

Ia memakai pakaian serba putih dengan memperlihatkan bagian bahu nya. Setiap pakaian yang dikenakan oleh para pemain pasti untuk menunjang tampilannya, bukan untuk mencari perhatian atau bagaimana. Seperti Tine Baun, dia memakai bahu yang terbuka, karena panasnya Istora yang disebabkan teriakan-teriakan oleh para pendukung yang memadati venue itu.

salam duaribuan…

Iklan