Firda berpangku Kursi Roda

salam duaribuan…

Tunggal Putri harapan Indonesia yang dipilih mewakili Indonesia di Olimpiade London 2012, satu bulan mendatang mengalami musibah cedera saat mengawali pertandingan di babak pertama turnamen Indonesia Terbuka 2012. Ini merupakan penentu masa depan Firdasari di bulutangkis Indonesia.

Firdasari seharusnya mengawali pertandingan Indonesia Terbuka melalui babak kualifikasi, namun karena mundurnya Pi Hongyan, akhirnya Firda langsung masuk babak utama karena berstatus unggulan pertama kualifikasi. Ia tempatkan di poll atas menghadapi Wang Yihan, juara bertahan dan pemuncak unggulan turnamen ini.

Firdasari mengawali laga dengan baik. Ia mendapatkan poin lebih dahulu meski Yihan dapat menyamakan kedudukan. Ia sempat unggul tipis 5-3. Pertandingan baru 10 menit,

Di kedudukan 7-6, Firda yang akan melakukan jumping smash merasakan sakit di telapak kaki kanannya (kakinya tidak berfungsi). Bahkan menurut Firda, bagian tengah telapak kakinya itu bunyi dan seketika terasa tidak bertenaga sama sekali. Firda pun meminta break dan melepas sepatu namun malah menurut Firda rasa sakitnya bertambah, kaki kanannya lemas sampai atas, bahkan pemain berusia 26 tahun itu menitihkan air mata saat dokter menanganinya di lapangan.

Dia tidak melanjutkan permainan. Wang Yihan pun menang dengan skor 7-7 Retired dan ke babak kedua esok hari melawan Eriko Hirose. Penonton yang memenuhi Istora Senayan pun tak henti-hentinya memberi semangat dengan meneriakkan nama Firda.

Karena tak kuat berjalan, Firda terpaksa harus menggunakan kursi roda saat keluar lapangan. Mungkin jika sampai bunyi, ada kemungkinan serius, tapi semoga tidak dan bisa sembuh kurang dari 4 minggu karena Olimpiade London sudah menjelang.

Menurut Ricky Subagja, persiapan Firda menuju Olimpiade cukup bagus, namun dengan kejadian seperti ini, Firda belum dipastikan berlaga di Wembley Arena atau tidak. Firda sempat memberikan pernyataan mengenai targetnya yang ingin menyamai Maria Kristin Yulianti yang di Olimpiade Beijing 2008 lalu meraih medali perunggu, menjadi orang kelima non China yang meraih medali di nomor tunggal putri (setelah Susi, Bang, Camila Martin, Mia Audina).

Jika Firdasari unggul dalam penempatan bola dan smash keras, bahkan putri-putri kita mengandalkan jumping smash (Febe dan Firda), Maria Kristin memiliki gaya bermain yang terkenal dengan gaya ‘Queen of Three Games’ dimana ia siap capek mengembalikan semua bola, apalagi dengan pemain China, selain itu ia memiliki mental juara, tidak seperti atlet-atlet yang sering gugup menghadapi poin kritis dan sering melakukan kesalahan (inilah yang dianggap dunia bahwa Indonesia tak cocok dengan sistem reli poin yang setiap kesalahan menjadi poin bagi lawan).

Mental utama Kristin, terlihat saat ia melawan Saina. Sering tertinggal oleh bintang India itu, Kristin mendapat motivasi dari Hendrawan bahwa kesempatan bermain di Olimpiade tidak datang dua kali, sampai disini saja kemampuanmu?? Menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Pelatih. Terbukti benar, jika ia bersinar di 2008, kariernya anjlok di 2012. Ini mungkin buat motivasi buat Butet dkk di Olimpiade 2012, kesempatan ke Olimpiade tidak dapat dua kali, apalagi di nomor tunggal putri yang selalu mendapat wildcard di Olimpiade setelah masa Mia Audina, jadi tunjukkan kamu layak tampil sebagai pemain kelas Olimpiade.

Kristin pun mengubah pandangan dunia barat. Perjuangan heroiknya di Olimpiade antara dirinya dan Lu Lan pada 16 Agustus 2008 menjadi tontonan utama masyarakat bulutangkis di Eropa saat itu, melebihi Gold Medal Match di nomor ini.

Jika anda melihat nomor tunggal putri menjadi nomor yang tidak bergengsi, membosankan sampai tak ada klimaksnya, Kristin mengakui. Namun ia juga menyangkal bahwa “Tak ada cara lain mengalahkan China, hanya berani Capek”. Terbukti dengan loop, dropshot dan penempatan bola, meski tidak memiliki jumping smash tajam, ia dapat membuat publik Eropa menganggap pertandingan ini adalah pertandingan yang melebihi final Olimpiade di nomor yang sama, tunggal putri.

Sukses Sony, Sukses Li Mao?

Prestasi itu tidak instan, begitulah ucapan dari berbagai cendekiawan sampai motivator darimana pun dia berada. Jadi jangan pernah menuntut untuk menilai seseorang sebelum ia menunjukkan hasil. Li Mao yang menjadi kepala pelatih nomor tunggal di Pelatnas Cipayung membuktikannya. Dalam waktu kurang dari setahun, Sony meraih gelar pasca cedera, Simon tampil luar biasa sebagai tunggal pertama di Piala Thomas, bahkan Firda mengaku cocok dengan pelatih ini.

Di nomor tunggal putra, ada nama Agus Dwi Santoso (entah masih melatih atau tidak, banyak issue mundur dari pelatih-pelatih Cipayung) dan Wong Tat Meng di pelatih nomor tunggal putri. Mereka dibawah Li Mao yang baru menjabat awal 2011 lalu. Ia bahkan mengatakan sudah merancang program di Indonesia. Namun ternyata masyarakat berekspektasi buruk terhadap pelatih asing. Tapi lagi-lagi jawabannya, Tidak ada yang instan untuk prestasi.

Prestasi cemerlang di Era Sutiyoso, merupakan bakat yang diasah dari regenerasi era Chairul Tanjung (generasi Kido, Vita, Nova, Butet, dsb), jadi dapat kita simpulkan bahwa hasil prestasi saat ini merupakan simbol regenerasi Sutiyoso. kenapa kita tidak menyinggung Sutiyoso, dulu terlena dengan Rentetan Jawara Superseries sampai Juara Dunia dan Juara Olimpiade, bahkan Runner Up Uber 2008. Namun semua hal itu membuat PBSI terlena, renegerasi mungkin dinomorduakan.

Di Era Sutiyoso, atlet-atlet yang diturunkan selalu itu-itu saja, tetapi memang hasilnya memuaskan, jadi mereka selalu menurunkan atlet-atlet itu terus menerus (ex : Nova-Liliyana, Markis-Hendra, Sony). Tak ada bagian untuk atlet-atlet junior, sehingga namanya atlet junior saat itu tidak muncul ke permukaan.

Pada akhirnya, Djoko Santoso menjadi orang yang paling disalahkan. Tidak ada prestasi, padahal Bulutangkis selalu menuntut prestasi, meski pemerintah tak mendukung dengan dana. Itulah yang membuat pemain yang pernah membela Indonesia memilih bekerja di luar negeri dengan alasan minimnya gaji dan kesejahteraan, seperti Minarti Timur dan Rexy Mainaky yang kemarin berhasil mengantarkan anak didiknya ke babak utama Djarum Indonesia Open 2012.

Mencoba menimbang Li Mao, ada pernyataan bahwa ada atlet yang mengeluhkan mengenai tidak cocoknya ia dengan pelatihan dari Li Mao. Li Mao sendiri pernah bergabung di Timnas China sebelum era 2000. Ia memutuskan keluar bersama Li Lingwei (kini nominasi IOC Member) karena tidak sepaham dengan Li Yongbo.

e-mail nyata Lee Yong Dae?

Di situs resmi BWF tepatnya di halaman Komisi Atlet BWF (http://bwfbadminton.com/page.aspx?id=14866), duaribuan menemukan hal menarik. Komisi Atlet yang didirikan tahun 2008 itu mencantumkan nama Lee Yong Dae sebagai member nya.

Selain sebagai duta Solibad, Lee Yong Dae dan 5 orang lain, yakni Kaveh Mehrabi (Iran), Emma Mason (Skotlandia), Tania Luiz (Australia), Rodrigo Pacheco (Peru) dan Pedro Yang (Guatemala) didapuk menjadi anggota BWF Athlete’s Commission. Tujuan dari komisi ini adalah mewakili pandangan atlet di BWF Council.

Di halaman itu pula, ada foto dan nama member dari Komisi Atlet itu. Uniknya juga dicantumkan alamat email dari masing-masing member di bawah nama nya, termasuk Lee Yong Dae (ini LYD dari Korea, soalnya di fotonya itu gambar dia). Dibawah namanya, ada alamat e-mail govl6412@hanmail.net.

Apakah e-mail itu buatan Lee Yong Dae? miliknya atau dikelola oleh orang lain? I don’t know… Tapi saya rasa LYD tak familiar dengan media sosial, ia kan atlet profesional, walau sudah meraih All England dan emas Olimpiade.

Shenzen jadi Penutup Musim

Pada tahun 2011, China ditunjuk menggelar turnamen Superseries Finals untuk edisi 2011 dan 2012. Di tahun lalu, Liuzhou dipilih menjadi venue dari turnamen itu. 4 dari 5 gelar diraih oleh China, hanya Mathias Boe-Carsten Mogensen yang berhasil meraih gelar mengalahkan Chai Biao-Guo Zhendong di Final.

Tahun 2012, China menunjuk Shenzen yang tahun lalu menjadi tuan rumah Universiade 2011. Shenzen akan menjadi tuan rumah 2012 Li Ning BWF World Superseries Finals yang akan digelar dari 12-16 Desember di China Resources Shenzhen Bay Sports Center. Seperti tahun lalu, ini merupakan turnamen penutup musim bagi pebulutangkis papan atas.

Selain menyediakan total hadiah USD 500.000, nantinya juga akan diumumkan pemain terbaik tahun 2012, yakni Best Male & Female Player of The Year yang tahun lalu dimenangkan Lee Chong Wei dan pasangan Wang Xiaoli-Yu Yang.

BWF Superseries Finals merupakan turnamen yang mempertemukan 8 pebulutangkis di Top 8 Superseries Standing berdasarkan perfomanya di 12 turnamen OSIM BWF World Superseries and Superseries Premier mulai dari Korea Open sampai Hongkong Open. Dengan ketentuan bahwa pemain yang berlaga di Shenzen nantinya maksimal diisi oleh 2 pemain/pasangan dari satu negara di setiap nomor.

salam duaribuan…

Iklan