Thomas-Uber Indonesia tak sehati di 2006

salam duaribuan…

Setelah Thomas-Uber 2004 diuraikan dalam artikel Thomas & Uber Cup 2004 dalam Suasana Pemilu (duaribuan.wordpress.com/TUC-2004) dan Nguber Thomas 2008 (duaribuan.wordpress.com/TUC-2008), kini giliran duaribuan membuka lebar Thomas & Uber Cup edisi 2006 dimana Jepang menjadi Tuan Rumah gelaran dua tahunan ini. Mau tahu kilasan balik dari Thomas dan Uber Cup 2006 ini?

Tahun 2006 adalah masa kelam dari Bulutangkis Tim Beregu Indonesia, setelah gagal mempertahankan Piala Thomas di Jakarta pada 2004, PBSI di bawah pimpinan Sutiyoso kembali dihujat atas Ketidaklolosan Tim Piala Uber Indonesia ke Putaran Final di Jepang. Ini lah kilasan balik Piala Thomas & Uber 2006.

Kali pertama bagi Sendai

Thomas & Uber Cup 2006 digelar di Jepang, dan ini menjadi kali pertama dalam sejarah, Putaran Final Thomas dan Uber digelar di dua kota berbeda, yakni Sendai dan Tokyo. Tokyo sendiri telah menjadi tuan rumah untuk Piala Thomas di tahun 1964 dimana kala itu Jepang dikalahkan Thailand di babak Semifinal. Dalam keikutsertaan Jepang di Piala Thomas, belum sekalipun Jepang menjadi Runner Up.

Kedikdayaan Jepang sangat terlihat di Piala Uber. 3 Kali tuan Rumah sebelum penyelenggaraan Piala Thomas dan Uber digabung, Jepang memenangkannya di depan publik sendiri. Jepang menjadi tuan rumah di tahun 1969, 1972 dan 1981 dan memenangkan Piala Uber itu. Hingga saat ini, Jepang menjadi negara terbanyak kedua yang pernah membawa Piala Uber sebanyak 5 kali.

Sejak digabung mulai edisi 1984, Piala Thomas dan Uber sudah tak ramah lagi dengan Jepang, termasuk saat Jepang menjadi tuan rumah di tahun 1990, kala itu Thomas Jepang terhenti di Babak Penyisihan Group B setelah dikalahkan Indonesia dan Denmark. Sedangkan Tim Uber Jepang terhenti di posisi keempat setelah di Babak Semifinal kalah 0-5 dari Jepang (belum ada knockout system) dan di Babak Perebutan Tempat Ketiga kalah 0-5 dari Indonesia.

Semenjak itu, Tim Jepang terkadang berkutat di delapan besar atau paling mentok Semifinal pada setiap Putaran Final. Dan di tahun 2006, Jepang dipilih menjadi Tuan Rumah. Kini, Tak hanya Tokyo yang dipilih, Sendai, venue nya Sendai City Gymnasium. Kedua kota bagi tugas, untuk Penyisihan Grup dan Playoff untuk Kuarterfinal sedangkan Tokyo menjadi host untuk Kuarterfinal sampai laga Final. Putaran Final edisi 2006 digelar 28 April – 7 Mei 2006. Berbeda dengan saat ini yang digelar satu pekan, gelaran tahun 2006 lalu sepanjang 10 hari.

Bagian Promosi Shinzanken

Dipilihnya Sendai kala itu menjadi menarik ketika promosi Kereta Cepat Shinkanzen berhasil menarik minat dunia. Penerbangan Internasional yang turun di Bandara Internasional Narita, Tokyo membawa para Tim Thomas Uber dari seluruh penjuru dunia. Karena babak penyisihan digelar di Sendai, pihak Jepang pun sekaligus memberikan promosi dengan transportasi para Tim Thomas-Uber lewat Kereta Shinkanzen.

Tokyo dan Sendai terpisahkan jarak sekitar 360 km. Bisa lewat penerbangan, namun media transportasi Shinkanzen pun dipilih. Lewat kereta cepat ini, perjalanan bisa secepat 2 jam dari Tokyo-Sendai. Kecepatan kereta ini bisa mencapai 300 km/jam, sungguh cepat.

Sendai ini terletak di Prefektur Miyagi di Pantai timur Jepang. Teringatkah anda gempa dan Tsunami di tahun 2011, sedikit wilayah di Kota Sendai (meskipun bukan bagian pusat Sendai) mengalami dampak Gempa dan Tsunami. But, yang pasti, Piala Thomas dan Uber 2006 kala itu juga membawa dampak sendiri bagi Shinkansen, si kereta cepat yang ternama asal Jepang itu.

Di era modern, ini mungkin kali pertama bagi YONEX menjadi sponsor untuk Tuan Rumah Piala Thomas dan Uber (mungkin baru sekali dari tahun 2000 sampai 2012). Dengan logo yang berupa matahari dan kok terbang menjadi catatan tersendiri. Di bagian bawah akan ada banyak sekali foto-foto souvenir dan cinderamata dari Piala Thomas dan Uber 2006 dengan logo seperti diatas.

Kualifikasi : Thomas-Uber tak sehati

TU.jpg

Masih digelar oleh International Badminton Federation (IBF), ada hal unik dimana Sistem reli poin 3 x 21 diterapkan untuk kali pertama di event ini. Atau karena baru atau bagaimanakah, sehingga Tim Putri Indonesia tak mendampingi Tim Putra ke Jepang. Tim Uber Indonesia terhenti di Kualifikasi Piala Uber Zona Asia 2006 yang kala itu digelar di Jaipur, India.

Kualifikasi di Jaipur ini mencatatkan sejarah seperti India yang meloloskan Tim Thomasnya ke Putaran Final di Jepang dan yang paling menyedihkan, sejarah ketika Tim Uber Indonesia tak lolos ke Putaran Final.

Jaipur menggelar Kualifikasi 15-19 Februari 2006 untuk memilih masing-masing 5 spot untuk Zona Asia. Tim Thomas Indonesia berada di Grup B bersama Vietnam dan Thailand. Di Jaipur, Tim Thomas beranggotakan pemain tunggal seperti Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Markus Wijanu sedangkan untuk ganda ada pasangan Luluk Hadiyanto-Alven Yulianto, Markis Kido-Hendra Setiawan, dan Candra Wijaya (tanpa Sigit Budiarto karena cedera).

Ketidakhadiran Sigit tak banyak membuat kesulitan Tim Thomas ke Jepang, Tim Thomas menjadi Juara Ketiga dalam Preliminary Thomas Asia 2006, di laga Semifinal, Tim Indonesia kalah atas Malaysia 2-3. Kedua poin Indonesia dirah oleh kedua ganda, Luluk-Alvent dan Markis-Hendra. Di laga Playoff 3th Place, Tim Indonesia bertemu tuan Rumah, Indonesia menang 3-1 dan hanya kalah di Tunggal Kedua, dimana Simon kalah atas Arvint Bhatt 13-21, 15-21.

Sedangkan Tim Uber beranggotakan Fransiska Ratnasari, Maria Kristin, Adrianti Firdasari, Wiwis Meilynna, Jo Novita, Greysia Polii, Lita Nurlita, Rani Mundiasti, Natalaia Poluakan, dan Lilyana Natsir yang tergabung di Grup Y bersama Korea, Malaysia, Taiwan dan Iran.

Tim Uber kacau, menang 5-0 atas Iran di hari pertama, tiga partai lainnya berakhir kekalahan, kalah 0-5 atas Korea dan kalah 2-3 atas Malaysia. Namun, di laga terakhir yang menentukan melawan Tim Taiwan, meski menang 3-2, Indonesia gagal lolos ke Jepang, pasalnya Indonesia duduk di posisi 3, kalah agregat poin atas Malaysia yang lolos ke Sendai-Tokyo sebagai Runner Up Grup Y.

Di laga Final, mengejutkan Malaysia menjuarai Kualifikasi Thomas sedangkan Korea mengalahkan Taipei di Final Kualifikasi Uber. Sedangkan Hongkong dan Singapore menjadi tim kuda hitam yang berhasil lolos. Berikut daftar Tim yang berlaga di Putaran Final Thomas-Uber 2006 di Sendai-Tokyo.

Thomas Team 2006

  • Asia : China, Korea, Indonesia, Malaysia, India
  • Europe : Denmark, England, Germany
  • Pan America : USA
  • Africa : South Africa
  • Oceania : New Zealand
  • Host : Japan

Uber Team 2006

  • Asia : China, Korea, Chinese Taipei, Hongkong, Singapore
  • Europe : England, Germany, Netherlands
  • Pan America : USA
  • Africa : South Africa
  • Oceania : New Zealand
  • Host : Japan

Tim Thomas Indonesia di Putaran Final

Tim Thomas Indonesia yang masih dipunggawai Taufik Hidayat di tahun 2006 sudah menunjukkan peningkatan meskipun dengan pemain-pemain debutan dan nyaris tanpa senior. Jika di tahun 2004 masih ada Flandy Limpele, Eng Hian, Tri Kusharyanto dan pemain tunggal Wimpie Mahardi, di tahun 2006, Indonesia menerima Luluk Hadiyanto, Alvent Yulianto, Sigit Budiarto dan tunggal baru Markus Wijanu.

Di perebutan Piala Thomas, Indonesia berada di Grup B bersama Korea dan New Zealand, Indonesia sukses menang 5-0 atas New Zealand dan 3-2 atas Korea. Indonesia pun lolos ke Perempat Final tanpa harus melakoni Playoff. Namun sayangnya Indonesia harus menerima mendapatkan undian yang tidak menguntungkan, pasalnya berada di poll atas bertemu China di Semifinal.

Di Kuarterfinal, Indonesia bertemu dengan Tim Thomas Jepang. Uniknya, Tim Thomas Indonesia kompak dengan melukis lengan kanan atas dari pemain dengan bendera merah putih, seperti terlihat diatas. Melawan Jepang, Tim Indonesia terlebih dahulu ketinggalan setelah Taufik kalah atas Shoji Sato, namun dibalas di 3 partai selanjutnya, dimana Luluk-Alvent, Sony Dwi Kuncoro dan Markis-Hendra menang atas lawan-lawannya.

Di laga Semifinal, Indonesia dipertemukan dengan unggulan pertama China pada 5 Mei. Bertemu China, Indonesia kalah telak 0-3. Taufik Hidayat pun kalah 16-21, 8-21 atas Lin Dan, padahal Desember kemudian di Asian Games Doha, Taufik meraih emas mengalahkan Lin Dan di Final dengan 21-15, 22-20.

Luluk-Alvent sempat memaksakan deuce di game pertama, namun kalah 22-24, 17-21. Laga berakhir ketika Sony Dwi Kuncoro kalah dari Bao Chunlai 17-21, 22-24. Di Laga Final lain, Denmark berhasil kembali melaju ke Final setelah mengalahkan Malaysia 3-2 pada 5 Mei.

Megahnya Venue Thomas-Uber 2006

File:2006-08-19 1442.jpg

Venue Thomas dan Uber 2006 ada di 2 kota, yakni Sendai dan Tokyo. Di Senday, ada Senday City Gymnasium berkapasitas 7.000 penonton yang digunakan untuk Kejuaraan Dunia Basket 2006. Sedangkan di Tokyo, gedung olahraga indoor berkapasitas 10.000 penonton menjadi venue untuk perempat Final sampai Final Thomas dan Uber 2006.

File:Tokyo Metropolitan Gymnasium 2008.jpg

Tokyo Gymnasium (Tampak Depan)

Tokyo Gymnasium saat Putaran Final 2006

Bendera Indonesia di Tokyo Gymnasium

Pendukung Indonesia melihat para ofisial Indonesia yang berjersey Merah

Megahnya Tokyo Gymnasium

Para Ofisial Tim Indonesia (ada Markis-Hendra, Candra, Simon)

Spanduk dari Sekolah RI Tokyo – JAYA INDONESIA, GAMBATE KUDASAI

Venue Tokyo Gymnasium ini layaknya gelaran bulutangkis di berbagai negara, pasti ada publik setia pendukung Indonesia, yang kala itu banyak berasal dari para mahasiswa dan pihak KBRI yang memeriahkan acara itu, meskipun hanya Tim Thomas saja.

Final : China VS Eropa

Photo:<!--###IMAGE_BRIEF###-->

Final Piala Thomas maupun Final Uber di tahun 2006 mempertemukan China dan Eropa, yakni Denmark di Thomas dan Belanda di Uber. Setelah mengalahkan Indonesia di Semifinal, China melibas Denmark di Final dengan skor meyakinkan 3-0.

Dalam laga Final pada 7 Mei, Lin Dan mengalahkan Peter Gade 21-19, 21-19, sementara Denmark nyaris memaksakan partai keempat ketika kedua partai setelah Lin VS Gade terjadi Rubber. Di partai kedua, Cai Yun/Fu Haifeng menang rubber atas Jens Eriksen/Martin Lundgaard Hansen dengan 19-21, 21-11, 21-18. Kemenangan rubber juga dicetak Bao Chunlai atas Kenneth Jonassen, Bao menang 21-12, 12-21, 21-12. Ini menjadi gelar keenam bagi Tim Thomas China kala itu.

Kemenangan China itu semakin lengkap ketika Tim Uber China juga mengalahkan Belanda yang tidak diunggulkan. Kala itu, Belanda menggunakan taktik drawing. Menang 5-0 atas England, Belanda kalah 2-3 atas Hongkong. Hongkong pun menjuarai Grup X. Belanda mengikuti Playoff di Sendai.

Dalam Playoff melawan juru kunci Grup A, USA, Belanda menang 3-0. Berada di poll bawah dimanfaatkan Belanda karena tidak bertemu China. Belanda Nyaris kalah atas 5 kali Juara Uber yakni Jepang di Perempat Final, untung saja Belanda menang 3-2 dan lolos ke Semifinal. Keuntungan lain Belanda adalah ketika Chinese Taipei berhasil mengalahkan Korea dengan 3-2, Belanda terhindar dari Korea yang kuat di sektor Ganda itu.

Di Semifinal, Belanda menang 3-0 atas Chinese Taipei dan untuk kali pertama mencetak sejarah melaju ke Final. Di laga Semifinal yang berlangsung 4 Mei itu, dipertandingkan 3 tunggal karena ada pemain Belanda yang merangkap. Mia Audina membuka kemenangan Belanda setelah mengalahkan Perak Kejuaraan Dunia 2011, Cheng Shao Chiech dengan skor 21-19, 21-17. Kemenangan selanjutnya dicetak Judith Meulendijks dan Karina de Wit lewat straight set. Belanda 3-0, Ke Final.

Di Final, terjadi ulangan partai Gold Medal Match WS Olympic 2004 antara Mia Audina VS Zhang Ning. Mia berhasil memaksakan rubber, meski kalah 18-21, 21-19, 18-21. Kedua partai selanjutnya menjadi milik China, Judith Meulendijks dan Rachel van Cutsen kalah telak atas Xie Xingfang dan Jiang Yanjiao. Piala Uber untuk kesepuluh kalinya singgah ke China.

Cinderamata Thomas-Uber 2006

Seperti janji saya diatas, kini kita akan lihat beberapa cinderamata atau souvenir dalam Kejuaraan Thomas-Uber 2006 di Sendai-Tokyo.

Ada dasi, gantungan kunci, pin, pembuka kaleng dan berbagai souvenir menarik lainnya.

Tragedi Wong Choong Hann

News Photo: Park Sung Hwan of South Korea shakes hands…

Pemain Tunggal Malaysia, Wong Choong Hann terkena tragedi di Piala Thomas 2006, dimana ia mengalami cedera saat Kuarterfinal Thomas 2006 melawan Korea, sampai ia pun harus dilarikan ke rumah sakit, bahkan sempat Dokter mengira bahwa Wong tidak dapat bermain lagi. But, sebuah keajaiban terjadi.

Ketika itu Thomas Bulan Mei, ia menderita cedera parah di bagian otot tendon nya, namun 6 bulan kemudian mengejutkan, ia tampil di Asian Games Doha sebagai anggota Tim Malaysia yang berhasil mendapatkan perunggu. Bahkan di tahun 2007 ia berhasil menjadi Runner Up China Masters 2007, tidak diunggulkan, Wong malah melibas Chen Hong (unggulan 2) di babak pertama, Sony Dwi Kuncoro di babak kedua, Kenneth Jonassen (unggulan 8) di babak perempat final, Przemyslaw Wacha di semifinal namun harus mengakui ketangguhan Lin Dan di Final.

News Photo: Wong Choong Hann of Malaysia talks with his…

Bahkan di tahun 2008, ia membalas kekalahan di Olimpiade 2004 dengan menggilas Taufik Hidayat di babak kedua Olimpiade 2008 dengan skor 21-19, 21-16. Sayang, ia dikalahkan Hsuan Yu Hsing dari Taipei. Turnamen pertama setelah ia kembali dari cedera adalah Denmark Open 2006, namun ia harus kalah di Round 1 atas Peter Gade dengan skor 17-21, 12-21.

Awal digunakannya Sistem Reli 3 x 21

Thomas-Uber 2006 kali ini menjadi titik balik sistem perhitungan poin bulutangkis, masih IBF, Tim Thomas-Uber harus melakoni laga dengan sistem reli poin 3 x 21. Dalam rapat yang digelar juga di Tokyo, anggota IBF sepakat memakai sistem reli ini di setiap turnamen.

Menurut Deputy Presiden IBF, Datuk Punch Gunalan mengatakan bahwa sistem reli poin itu mempunyai banyak keuntungan, di antaranya :

  • waktu jalannya pertandingan lebih dapat diprediksi, sehingga televisi lebih senang menyiarkannya.
  • tim dari negara-negara yang tidak terlalu kuat bulutangkisnya lebih menyukai sistem skor ini karena skor love game (pertandingan yang berakhir dengan salah satu pemain mendapat poin 0) tak terjadi.
  • kebugaran pemain ikut terjaga. Selama di Jepang, hanya pemain Malaysia Wong Choong Hann yang mengalami cedera di lapangan.

Sistem skor reli poin pertama kali diujicoba dalam Invitasi kejuaraan Dunia di Cina akhir tahun lalu, namun resmi digunakan dalam turnamen IBF pada Februari 2006.

Foto Tim Thomas Indonesia

Taufik Hidayat

Luluk Hadiyanto-Alvent Yulianto

Sony Dwi Kuncoro

Sony Dwi Kuncoro & Joko Supriyanto

Markis Kido-Hendra Setiawan

Itulah berbagai ulasan mewarnai Jelang Putaran Final Piala Thomas dan Uber 2012 mendatang…

salam duaribuan…

Iklan