Rivalitas Susi Susanti dan Bang Soo Hyun

salam duaribuan…

Setelah Rivalitas Lin Dan-Lee Chong Wei lalu, kini dalam suasana Hari Kartini, duaribuan menghadirkan Rivalitas dari Susi Susanti dan Bang So Hyun. Kedua Pebulutangkis itu sangat mendominasi setiap turnamen di era 90an, yang bahkan membuat nama negara masing-masing bersinar.

Bang So Hyun adalah pebulutangkis asal Korea sedangkan Susi Susanti dari Indonesia. Dalam setiap pertandingan di era awal 90an, keduanya selalu mendominasi. mau tahu siapa yang lebih unggul dari keduanya?

Olympic medal

File:Badminton 2008.png

Ini lah ajang bulutangkis tertinggi di dunia, yakni Bulutangkis Olimpiade. Kali pertama masuk ke Olimpiade di tahun 1992, Selain Susi, Sarwendah Kusumawardhani juga ikut dalam Olimpiade itu, sedangkan Korea mengirim Bang Soo Hyun dan Lee Heung Soon.

Ini adalah kali ketiga di pertandingan internasional Susi bertemu bang So Hyun. Susi yang menjadi unggulan pertama berhasil mulus ke Final. Sedangkan Bang harus melakoni laga rubber melawan Sarwendah Kusumawardhani di Kuarterfinal Olimpiade 1992. Namun Bang menang 11-2, 3-11, 12-11.

Di Semifinal, Bang menang mudah 11-3, 11-2 atas Tang Jiuhong dan memberikan tiket Final pada Bang. Final Bang dan Susi kala itu cukup menegangkan. Di 2 pertemuan sebelumnya, Susi menang straight set, yakni di Indonesia dan Thailand Open di tahun 1991. Namun di Olimpiade Barcelona itu, Susi harus menguras keringat sebelum menang 5-11, 11-5, 11-3.

Saat victory ceremony, diatas panggung kemenangan, Bang berdiri di samping Susi yang menerima medali emas, sedang Bang hanya meraih perak. Susi menangis gembira, sedang Bang menangis sedih. Bang merasa hatinya sangat hancur. Bang hanya merasa, semua pengorbanan nya dan latihan yang keras di negaranya selama ini sia-sia. dan bahkan sempat mau mengundurkan diri dari dunia bulutangkis tapi dukungan dari pelatih dan keluarganya dia pun bangkit dan berlatih dengan keras kembali.

Pembuktiannya terjadi di tahun 1996, Bang berhasil meraih emas, dan di laga Semifinal mengalahkan Susi Susanti. Menjadi unggulan kedua, Susi bertemu lawan kuat di Kuarterfinal, Han Jingna dari China. Ia harus bermain rubber 3-11, 11-4, 11-8. Di Semifinal, ia kalah 9-11 dan 8-11 dari Bang So Hyun. Kemenangan atas Susi di Semifinal, membuatnya percaya diri, menghadapi Mia Audina di Final, Bang So Hyun menang telak 11-6, 11-7.

Kekalahan Susi atas Bang di Semifinal tak membuat Susi pulang dengan tangan hampa.  Bronze Medal Match kala itu diperkenalkan untuk semua nomor, termasuk Tunggal Putri. Semua pebulutangkis yang kalah di babak Semifinal mengikuti Bronze Medal Match. Susi dan Kim Ji Hyun yang kalah dari Bang dan Mia Audina di Semifinal pun dipertemukan. Dengan skor telak 11-4, 11-1, Susi pun mendapatkan perunggu.

Setelah Olimpiade Atlanta ini, Susi dan Bang pun memutuskan gantung raket dari dunia bulutangkis, Bang lebih dulu pensiun padahal masih muda. Awalnya Susi belum mau gantung raket, namun Susi yang pensiun karena hamil buah cintanya dengan Alan Budikusuma.

World Championship title

Indonesia patut bangga memiliki Susi. Dia meraih emas di World Championship 1993, setahun setelah Olimpiade Barcelona. Dan lagi-lagi mengalahkan Bang So Hyun di Final. dengan skor ketat 7-11, 11-9, 11-3. Keduanya melaju ke Final setelah mengalahkan pebulutangkis China, Bang mengalahkan Tang Jiuhong dan Susi mengalahkan Ye Zhaoying. Kalah dari Susi, Bang pun hanya mendapatkan medali perak.

Karir keduanya di Kejuaraan Dunia diawali di tahun yang berbeda, Susi lebih dulu di tahun 1987, sedangkan Bang mengawali Kejuaraan dua tahun setelahnya, yakni 1989. Di tahun 1987, Susi hanya sampai Babak Kuarterfinal, sebelum kalah 8-11, 10-12 dari Gu Jiaming.

Di 1989, Susi yang menjadi unggulan hanya sampai di Babak Kuarterfinal, kalah 5-11, 6-11 dari Huang Hua asal China. Sementara Bang yang merupakan debutan kalah di babak kedua dari Pebulutangkis Swedia, Catrine Bengtsson dengan skor jauh 6-11, 7-11.

Di Tahun 1991, Bang sudah naik kelas, namun ia hanya sampai babak keempat, kalah dari unggulan pertama, Tang Jiuhong dengan rubber 11-12, 12-11, 2-11. Sementara Susi berhasil meraih medali perunggu setelah kalah dari Tang Jiuhong di Semifinal dengan skor 4-11, 1-11.

Di Tahun 1993, seperti dijelaskan, Susi berhasil naik kasta lagi, kini menjadi Juara, sedangkan Bang menunjukkan perkembangan pesat dan menjadi Runner Up. Kejuaraan dunia yang digelar tiap dua tahun ini kembali digelar 1995. Susi dan Bang harus sama-sama kalah di Semifinal, sehingga mereka menjadi peraih medali perunggu saja. Susi kalah dari Bang Soo Hyun 11-5, 8-11, 2-11 sedangkan Bang kalah dari Han Jingna dengan skor 6-11, 4-11. Kekalahan mereka membuat terjadinya All Chinese Final yang menjadi awal dominasi China di bulutangkis.

Di Tahun 1997, Susi masih mengikuti World Championship yang digelar di Glasgow, Susi hanya sampai Kuarterfinal sebelum kalah dari Gong Zhicao dengan skor telak 5-11, 2-11. Sementara Bang sudah pensiun. Uniknya, diantara 8 Kuarterfinalis kala itu, 6 diantaranya China, sedangkan 2 lain adalah Mia Audina dan Susi dari Indonesia. Padahal, itu jenjang World Championship, tapi China sudah benar-benar mendominasi.

World Grand Prix & World Cup

Susi melengkapi hampir semua gelar ini. Di World Grand Prix Finals, Susi menang 6 kali dan 5 diantaranya berturut-turut dari 1990-1994. Sementara, Bang So Hyun tak punya satu pun gelar ini. Sedangkan di World Cup, Susi menang di tahun 1989, 1993, 1994, 1996 dan 1997.

Bang selalu mengikuti dua kejuaraan ini, terutama World Grand Prix. Namun, keperkasaan Susi sangat nyata di era itu. Di tahun 1990, Bang hanya sampai babak Kuarterfinal, kalah dari unggulan pertama, Li Lingwei 10-12, 7-11. Sementara Susi yang menjadi unggulan kedua sukses mengalahkan Tang Jiuhong rubber di Final.

Keperkasaan Indonesia bahkan terlihat di World Grand Prix Final 1992, dimana diantara 5 nomor, Tunggal Putri terjadi All Indonesian Final, dimana Susi Susanti menang 9–11, 11–3, 11–4 atas Sarwendah Kusumawardhani. Sayang, Susi gagal meneruskan gelarnya di tahun 1995, namun Susi kembali menang di tahun 1996 saat ia mengalahkan Ye Zhaoying 11-4, 11-1.

All England career

Susi memiliki gelar yang lebih banyak di banding Bang di Kejuaraan tertua di dunia ini. Susi telah 4 kali juara sedang Bang hanya sekali. Bang So Hyun menjadi Runner Up di tahun 1992 dan 1993. Di tahun 1992, Bang kalah dari Tang Jiuhong dengan skor 12-9, 10-12, 1-11. Sedang di tahun 1993 kalah dari Susi Susanti dengan skor 11-4, 4-11, 1-11.

All England memang salah satu titel paling prestisius yang harus dimiliki oleh para pebulutangkis dunia. Selain sebagai turnamen tertua, All England kini juga dipatok setara dengan turnamen Kejuaraan Dunia maupun Olimpiade.

Bang akhirnya menunggu penantian gelar ini di tahun 1996 saat ia menginjakkan kaki untuk ketiga kalinya di Finall All England. Melawan Ye Zhaoying, Bang Soo Hyun menang 11-1,11-1. Turnamen itu menjadi turnamen All England terakhirnya. Kemenangan Bang di All England itu menghantarkannya menuju podium Juara Olimpiade 1996. Semoga Tontowi/Lilyana mengikuti jejak Bang.

Laga Bang di Jakarta dan Susi di Seoul

Susi Susanti dan Bang Soo Hyun memang musuh bebuyutan, termasuk di kandang lawan. Di Korea, Susi sudah mampu menunjukkan keperkasaannya. Sejak turnamen ini digelar pada tahun 1991, Susi sudah memenangkannya di tahun 1995, sedangkan Bang sudah mencatatkan namanya sebanyak 3 kali di Korea Open, yakni 1993, 1994 dan 1996.

Di tahun 1992, Bang yang menjadi unggulan pertama sukses melaju ke Final, namun kalah dari wakil China, Tang Jiuhong dengan skor 6-11, 3-11. Di tahun 1993, Susi ikut dalam turnamen ini untuk kali pertama. Menjadi unggulan pertama, Susi cukup mudah melaju ke Final, sebelum kalah dari Bang So Hyun yang menjadi unggulan kedua dengan skor 9-12, 5-11.

Di tahun 1994, Bang diuntungkan dengan absennya Susi, meskipun tidak menjadi unggulan pertama, namun Bang berhasil mengalahkan rekan senegaranya, Kim Ji Hyun di Final dengan skor 11-5, 11-5. Di tahun 1995, Susi membalas kekalahan di Final Korea Open 1993. Susi menang 3-11, 11-7, 11-9 atas Bang So Hyun, Susi pun sukses mempermalukan Bang di negeri sendiri.

Bang menunjukkan keperkasaannya kembali dengan menang atas Yan Yao di Final Korea Open 1996 dengan skor telak 11-3, 11-0. Kala itu Susi absen dalam kejuaraan tahunan di Seoul itu. Di tahun itu pula, Bang terakhir kali berlaga di turnamen Korea Open, karena setelah itu ia pun gantung raket.

Sementara di Indonesia Open, Susi menjadi ratu dengan memenangkan 5 gelar Indonesia Open di tahun 1991, 1994, 1995, 1996 dan 1997. Susi menginjakkan kaki di Final Indonesia Open pada 1990, namun kalah dari Lee Young-suk lewat pertarungan rubber game 11-1, 8-11, 4-11. Susi memenangkan gelar ini untuk pertama kali di tahun 1991, menang atas Lee Heung-soon dari Korea dengan skor 11-8, 11-3. Di tahun 1992, Susi tak berhasil masuk Final, namun kekecewaannya terobati dengan emas Olimpiade di Barcelona.

Susi nyaris kembali menang di Indonesia Open, namun kembali dikalahkan Ye Zhaoying di Final. Rivalitas Bang dan Susi kembali ditunjukkan di Final Indonesia Open 1994. Lewat adu rubber, Susi kembali meraih gelar setelah menang 2–11, 11–0, 11–7 atas Bang So Hyun. Setahun kemudian, di tahun 1995, Susi kembali bertemu Bang. Kini Susi menang straight set 11-6, 11-7.

Bang tak ikut serta di Indonesia Open 1996. Di Final, Susi menang atas wakil China, Wang Chen dengan skor 11-8, 11-8. Gelar beruntun ini kembali diraih di tahun 1997 dengan mengalahkan rekannya Meiluawati dengan skor 12-10, 11-4. Ini merupakan penutup yang bagus bagi Susi, pasalnya ia sudah tak berlaga di Indonesia Open mulai 1998.

Kejuaraan Beregu

Di event kejuaraan beregu, Susi berhasil membawa pulang Piala Uber dan Piala Sudirman ke Jakarta, sedangkan Bang hanya bisa mengirimkan Piala Sudirman ke Seoul.

Di tahun 1989, Susi menjadi yang pertama mengantarkan Indonesia meraih Piala Sudirman. Keajaiban yang ditampilkan Susi membuat publik Istora terkesima. Tertinggal 0-2 di dua partai pertama dan nyaris kalah, Susi berhasil membalikkan keadaan. Susi menang 10-12, 12-10, 11-0. Dua partai berikutnya menjadi milik Indonesia, Indonesia menang, Piala Sudirman tetap di Jakarta.

Di 2 tahun setelahnya, 1991 dan 1993, berbalik Bang So Hyun yang mengantarkan Korea merebut dan mempertahankan Piala Sudirman. di Piala Uber, Susi membawa Indonesia menjuarai di tahun 1994 dan 1996 serta Runner Up di tahun 1998. Sementara itu di Piala Uber, Bang belum pernah membawa nama Korea meraih Piala bergengsi itu.

Namun Bang pernah membawa Korea menjadi Runner Up Piala Uber di tahun 1992. Kala itu di Semifinal, Bang menang atas Susi Susanti di partai pertama dengan skor 11-6, 11-2. Bang memang mampu menyamai Susi, namun Korea belum menyamai Indonesia kala itu.

Asian Games

Piala Uber memang satu dari berbagai gelar yang belum dimiliki Bang, namun Susi juga punya titel yang belum didapat, yakni Juara Asian Games.

Susi mengikuti 2 Asian Games, yakni di tahun 1990 dan 1994. Di tahun 1990, Susi sukses meraih perunggu setelah memasuki Semifinal namun kalah 11-7, 1-11, 7-11 atas Tang Jiuhong. Sementara di tahun 1994, Susi kembali harus menerima perunggu meskipun menjadi unggulan pertama, pasalnya di Semifinal ia kalah 4-11, 5-11 atas wakil Jepang, Hisako Mizui.

Bang So hyun yang memulai debut di tahun 1994 sebagai unggulan kedua sukses memanfaatkan kesempatan atas kekalahan Susi di Semifinal. Bang menang dan berhak atas satu keping emas di Tunggal Putri. Di Final kala itu, ia menang 11-4, 11-6 atas Hisako Mizui.

Di tahun 1998, Bang yang sudah pensiun tak membuat minat Susi untuk mengikuti Asian Games kala itu. Susi pun rela atas 2 perunggu yang didapatnya di dua Asian Games sebelumnya.

Tak Tergantikan

Susi Susanti dan Bang Soo Hyun menjadi 2 pebulutangkis yang mendominasi era 90an. Berbeda dengan yang Bang, Susi lebih dihargai di dunia internasional, selain sebagai wanita pertama peraih medali emas Olimpiade, Susi juga mendominasi hampir setiap kejuaraan melebihi Bang, terutama di Piala Uber dan Kejuaraan Dunia, sehingga Susi pun diberikan penghargaan Hall of Fame di tahun 2004 oleh Federasi Bulutangkis Dunia.

Bang adalah Tipe Pemain Penyerang yang selalu melakukan smash terus-menerus sehingga lawan down. Motivasi dan latihan yang keras membuat dia masuk di jajaran Putri elit berperingkat 2 dibawah Susi. Susi pun dijuluki sebagai pemain yang komplit dan lebih bisa mengatur pola permainan. Keduanya sangat diingat oleh publik dunia, dibandingkan oleh peraih Olimpiade lainnya.

Satu dari persamaan keduanya yang menurut saya yang sangat perlu diingat adalah, Sepeninggal Bang dan Susi dari dunia bulutangkis, belum ada pebulutangkis Korea dan Indonesia yang mampu menyamai prestasi keduanya…

salam duaribuan…