Maria Kristin dan Krisnatan Yulianto

salam duaribuan…

Nama besar seorang atlet biasanya akan diikuti ekspose media terhadap keluarga dan riwayat kehidupan atlet itu. Tak termasuk Maria Kristin Yulianti, si anak emas Bulutangkis Putri Indonesia. Cerita kehidupannya paling sering diwarnai tentang cedera berkepanjangan yang menimpa lututnya.

duaribuan kini akan membahas mengenai kehidupan sang keluarga dan awal keberhasilannya menempati Tunggal nomor 1 Indonesia di tahun 2008 lalu.

Yuli Purnomo dan Herbiyati adalah sosok orang tua teladan sekaligus ‘nekat’. Dibilang teladan karena berhasil mendidik anaknya menjadi seorang peraih medali dan nekat karena menjerumuskan anaknya ke lubang dimana ia harus berhenti dengan tragis lewat cederanya. Medan yang berat mungkin menjadi tantangan bagi media untuk menuju ke kediaman Yuli dan Herbiyati, oleh karena itu sangat sedikit yang mengekspose keluarga Kristin. Ayah Maria, Yuli hanya seorang Penyuluh Pertanian Lapangan berstatus PNS.

Pendapatannya ditunjang oleh pendapatan dari Persatuan Bulutangkis (PB) Kumala milik Yuli yang berada di Desa Singgahan, dekat rumahnya yang berlantai 2 itu. Karena itulah, Yuli sudah mengenalkan Putri kecilnya tentang bulutangkis pada usia yang sangat belia, 3 tahun.

Lapangan Gedung KUD Sembung dekat rumah mereka adalah tempat latihan rutin dari Maria dan sang Ayah. Lewat latihan di tempat ini, Kristin berhasil menjuarai Porseni se-Tuban untuk Tunggal Putri di Kelas 3 SD.

Pelajar dan Pebulutangkis

Maria Kristin punya catatan tersendiri mengenai sekolah. Jikalau Lilyana Natsir menganggap hidup itu pilihan, Kristin memilih mengambil semua pilihan, termasuk sekolah dan bulutangkis. Kristin mengawali pendidikan formal di SD Rayung, namun hanya sampai Kelas 3.

Setelah menjuarai Porseni di Kelas 3 SD itu, Maria dipindahkan sang Ayah ke Jember. Lagi-lagi untuk mengasah potensi bulutangkisnya. Di Jember, ia melanjutkan sekolah dari SD hanya sampai kelas 2 SMP. Dari Jember, sang ayah memindahkan Maria Kristin ke Kudus sekitar tahun 1998. Disanalah ia meneruskan pendidikan SMP nya hingga lulus dan juga menjadi punggawa besar dari PB Djarum kala itu.

Setelah menjadi Runner Up di kejuaraan berlevel nasional, Kristin dilirik ke Pelatnas. Pendidikannya pun berlanjut di SMA Ragunan. Menginjak usia ke 23 adalah masa-masa keemasan Maria Kristin Yulianti. Wanita kelahiran 25 Juni 1985 ini menjadi Runner Up Indonesia Open, Pembawa Tim Putri Indonesia ke Final Piala Uber dan membawa pulang medali perunggu Tunggal Putri Olimpiade Beijing.

Mau tahu tekat bulat Maria?

Menurut penuturan sang ayah, Yuli Purnomo, Maria punya sifat yang keras. Termasuk ketika sudah cinta pada bulutangkis, berbagai hal yang Kristin lakukan pasti terlihat bertekad bulat. Lihat saja kelakuannya ini.

  • Maria sempat keranjingan ingin terus memegang raket, sampai-sampai akan tidurpun ia selalu membawanya dan ketika dipisahkan, ia akan marah.
  • Maria ini mood-mood an kalo lagi latihan atau maen. Pernah saat sedang semangat latihan fisik, tanpa dihitung pun ia akan mengelilingi lapangan sesuai dengan perjanjian atau ucapan yang dikatakannya. namun jika sedang down, sering pelatih fisik pelatnas Cipayung kebingungan yang melihat Maria yang langsung meninggalkan tempat latihan ke kamarnya saat diminta melakukan pemanasan. ternyata Maria mengaku kakinya sedang sakit dan terasa ngilu saat dibuat lari.
  • Ketika sedang semangat, Maria bisa mengalahkan Zhang Ning, namun Maria pernah kalah dengan pebulu tangkis non unggulan asal Bulgaria karena gara-gara sakit gigi.
  • Maria ini pun tak seperti kacang lupa kulitnya, terhadap keluarga, ia merenovasi rumah di samping berlantai 2 itu.

Krisnatan Yulianto

Maria Kristin Yulianti bukan anak tunggal. Lihat saja foto diatas, jangan dibayangkan Maria Kristin bersama cowok dan anaknya. Cowok dan perempuan kecil itu adalah adik-adik Kristin. Yang paling kiri adalah Maria Kristin, sang cowok adalah adik pertama Maria, bernama Krisnatan Yulianto dan yang kecil di tengah adalah si bungsu, Mahdatalia Yulianti.

Informasi mengenai adik Maria masih sangat minim. Namun saya akan mencoba menceritakan secara umum mengenai adik pertamanya, Krisnatan Yulianto. Sedangkan Mahdatalia Yulianti yang masih kecil tetap bercita-cita menjadi pebulutangkis seperti sang Kakak.

Cita-cita Mahdatalia itu sudah diwujudkan terlebih dahulu oleh sang kakak kedua, Krisnatan Yulianto. Jika anda mencoba search di Google dengan kata kunci “Krisnatan Yulianto”, maka di deretan pertama muncul account twitter tak berava bernama @NathanKeceng yang terakhir aktif sejak setahun lalu. Entah account Krisnatan atau tidak, but menurut saya sudah ganti account.

Selidik mengenai Natan, kariernya di junior sempat cemerlang di 2007 lalu. Dalam ajang yang kini memperebutkan Piala Taufik Hidayat, yakni MILO School Competition 2007 Seri Ketiga yang digelar di Surabaya. Kala itu, ia tak berhasil membawa pulang gelar dan hanya menjadi Runner Up di Ganda Putra dan Tunggal Putra.

Di Final Tunggal Putra kala itu, Krisnatan yang mewakili SMP Mardisiwi kalah dari Chandra Dwi Pratama, wakil dari SMPN 4 Gresik degan skor rubber 5-21, 21-18, 16-21. Di Nomor Ganda Putra, ia bersama pasangannya dari SMP Mardisiwi, Nurwahid gagal menjuarai ajang itu setelah dikandaskan Ganda dari Bonapius/Chandra dari SMP N 1 Gresik.

Namanya pun masuk ke PB Jayaraya Suryanaga Surabaya. berbeda dengan Maria Kristin, sang kakak yang menekuni latihan di PB Djarum. Selain di event itu, nama Krisnatan juga muncul tahun 2010 di dua event berbeda, yakni Sirnas Surabaya dan Indonesia International Challenge yang juga digelar di Surabaya.

Di Sirnas Surabaya, Krisnatan Yulianto juga tampil di 2 nomor, Tunggal dan Ganda Putra. Di Tunggal ia lebih berjaya, ia sampai ke babak Round 3 alias 32 besar. Ini hasil pertandingan Tunggal Taruna Putra dari Krisnatan Yulianto.

  • R1 : Krisnatan Yulianto bt Sumanardi [PB Muding Agung Bali] : 21-18, 21-11
  • R2 : Krisnatan Yulianto bt Candra Wijaya [PB Jaya Raya Jakarta] : 21-15, 21-14
  • R2 : Fikri Ikhsandi Hadmadi [PB Tangkas Alfamart] bt Krisnatan Yulianto : 21-13, 20-22, 21-5

Di Nomor Ganda Taruna Putra, ia bersama Singgih Yulianto harus gagal ke Round 2 pasca dikalahkan Unggulan 5/8 asal PB Djarum, Lukhi Apri Nugroho/Rizky Susanto dengan straight set 15-21, 15-21. Jika saat ini Lukhi Apri Nugroho sudah menjadi pemain pelatnas, kemanakah Krisnatan?

Sedangkan di Indonesia International Challenge 2010, Krisnatan hanya bermain di Nomor Tunggal Putra. Ditempatkan poll atas, Natan berhadapan dengan wakil Kanada, Chang Mark dan menang dengan skor 21-14, 21-19 dalam waktu 25 menit. Di Round 2, perjalanannya terhenti setelah kalah dari pemain unggulan 11 asal Malaysia, Zainuddin Iskandar Zulkarnain. Hanya dalam waktu 23 menit, Zainuddin mengalahkan Natan dengan skor 21-13, 21-12.

Namun, saat itu usianya sepantaran dengan Shesar Hiren Rhustavito yang kemarin sudah menjadi skuad Tim Axiata Cup Indonesia Rajawali, mandeg kah Natan? Mampukah ia mengalahkan nama besar sang kakak?

salam duaribuan…

Iklan