Garuda dan Piala Axiata

salam duaribuan…

Setelah menang 3-0 pada laga leg pertama melawan Indonesia Rajawali, Tim Garuda mencatatkan kemenangan 2-1 di leg kedua Final Axiata Cup. Kemenangan Garuda sekaligus membuktikan tim senior Indonesia masih lebih baik dibandingkan Tim Junior.

Kemenangan Garuda atas Rajawali ini sekaligus menandai bahwa masih belum ada pemain masa depan yang bisa menggantikan para senior yang sudah berlaga di kancah sekelas Olimpiade. Taufik pun sedikit kecewa, karena tak ada gereget saat tampil melawan Shesar Hiren Rhustavito, pemain termuda dalam pergelaran Piala Axiata 2012 ini.

Kemenangan Garuda di leg kedua diawali dari laga ulangan leg pertama antara Tommy Sugiarto dari Rajawali menghadapi Simon Santoso dari Garuda. Diawali set pertama, Simon yang tipe permainannya sudah bervariatif terus menekan Tommy. Sang ayah, Icuk Sugiarto yang duduk di bangku penonton pun sering berbicara kepada rekan di bangku sebelahnya.

Jika di leg pertama Simon menang 21-19, 21-7. Kali ini hampir sama. Simon yang leading terus menerus menekan hingga menang 21-16. Sudah hafal betul permainan Tommy, Simon pun tak gencar melakukan smash keras, netting sampai drive-drive menukik. Hingga di set kedua Simon menang 21-10 sekaligus membuat kedudukan 4-0 dan Garuda menang.

Tak salah jikalau Simon sudah menjadi Tunggal terkuat Indonesia. lewat defence, smash keras, netting ia bisa mendikte lawan. Namun sangat disayangkan seperti pada laga melawan Tommy di leg pertama, saat kedudukan 17-12, Simon terkejar sampai kedudukan 19-19 namun ia bisa menang 21-19. Hal ini juga terjadi ketika Simon dikalahkan Chen Jin di Semifinal Australia Open 2012 lalu. But, saat permainan kemarin saya lihat Simon jarang melakukan dropshoot.

Setelah Simon, Ganda Rajawali, Alvent Yulianto Chandra/Angga Pratama yang baru dikombinasikan melawan Pasangan Ganda Garuda peraih perunggu Kejuaraan Dunia 2011 lalu, Muhammad Ahsan/Bona Septano. Jika di leg pertama Rajawali menurunkan Angga Pratama/Ryan Agung Saputra yang kalah 14-21, 17-21 dari Markis Kido/Hendra Setiawan, leg kedua justru Rajawali mampu mendikte Ganda Nomor 1 Indonesia itu.

Kejar mengejar angka terjadi di set pertama, Alvent/Angga yang leading dapat disamakan oleh Bona/Ahsan. Sempat terjadi beberapa kali deuce, Alvent/Angga menang 23-21. Di set kedua, Bona/Ahsan menekan terlebih dahulu, hingga menang 21-12 dan memaksakan terjadinya rubber set. Di set ketiga, giliran Rajawali yang menekan Bona/Ahsan. Leading terlebih dahulu, kini Rajawali lebih cepat mengakhiri pertandingan set ketiga dalam skor 21-13.

Di permainan ganda dengan sistem reli poin 3×21 ini, meminimalisir kesalahan adalah salah satu hal utama yang harus dikuasai. Tipe permainan Ganda adalah cepat dan jarang sekali terjadi bola reli, tak hayal para pebulutangkis junior Indonesia banyak menggeluti nomor ganda.

Kembali lagi ke Axiata Cup, masih leading 4-1. Partai terakhir sekaligus penutupan gelaran Axiata Cup ini mempertemukan Taufik Hidayat, pemain tertua melawan Shesar Hiren Rhustavito, permain termuda.

Di leg pertama, Taufik harus berkeringat-keringat terlebih dahulu sebelum mengandaskan Dionysius Hayom Rumbaka dengan skor 21-17, 25-27, 21-16. Di leg kedua, Taufik tak terlalu kesulitan menghadapi pemain muda berusia 18 tahun.

Di set pertama, kejar mengejar angka sebelum interval set pertama terjadi. Sempat leading 9-6, Shesar menyamakan kedudukan 9-9 hingga Taufik pun mengakhiri interval set pertama dengan 11-10. setelah interval set ini, Taufik terus melaju sedangkan Shesar dengan ekspresi datar dan dingin mencoba mengimbangi permainan cantik Taufik hingga 21-14, Taufik menang set pertama.

Di set kedua, Shesar memberikan tekanan. Lagi-lagi persaingat sengit terjadi sebelum interval set. Namun, pasca Interval set kedua, Taufik leading hingga menang 21-15. Kemenangan Taufik ini pun dibumbui omongan Taufik yang ceplas ceplos mengenai tidak gregetnya pemain termuda Indonesia Rajawali itu. Bahkan, ia meminta Shesar untuk ditendang dari Pelatnas.

Ia pun menambahkan Regenerasi tunggal Putra menurutnya sangat dibutuhkan, mengingat nomor ini adalah satu nomor bergengsi. Lewat nomor Tunggal Putra, nama besar Alan Budikusuma, Rudi Hartono, Liem Swie King, Heryanto Arbi, Hendrawan sampai Taufik Hidayat masih diingat masyarakat luas.

Kemenangan Taufik ini sekaligus melengkapi kemenangan Garuda atas Rajawali dengan skor 5-1 dengan agregat poin 151-117. Selain mendapatkan uang sebesar USD400.000, Tim Garuda juga diberikan trofi Piala Axiata oleh President & Group Chief Executive Officer dari Axiata Group Berhad Malaysia,  Dato’ Sri Jamaludin Ibrahim. Setelahnya, lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Tennis Indoor Senayan sekaligus mengakhiri rangkaian Axiata Cup 2012.

 

Komposisi Thomas dilihat dari Final Axiata

Dilihat dari Final Axiata Cup 2012, sepertinya komposisi Tim Thomas Indonesia yang akan berangkat ke Wuhan, China, 20-27 Mei mendatang akan berbeda dengan komposisi tim Thomas pada Kualifikasi Zona Asia di Macau lalu, terutama dari sektor Ganda. Jika saat ini 4 Ganda Putra sudah memiliki kans bagus, yakni Ahsan/Bona, Markis/Hendra Setiawan, Alvent/Hendra Gunawan dan Angga/Ryan, PBSI harus menentukan 6 orang terbaik untuk Ganda Putra diboyong ke Wuhan, pasalnya kuota maksimal untuk Piala Thomas maupun Uber adalah 4 Tunggal dan 3 Ganda.

Jika dilihat dari kombinasi kemarin, Muhammad Ahsan bisa dipasangkan dengan Hendra Setiawan, Alvent Yulianto pun bisa dipasangkan dengan Angga Pratama. Komposisi Alvent/Ahsan juga berhasil menyabet perunggu Asian Games 2010 lalu. Jadi, tinggal PBSI pilih siapa yang kira-kira bisa masuk ke Tim Thomas. Jawabannya tanggal 7 Mei mendatang.

Pulang Axiata, berangkat ke Qingdao

Pasca gelaran Axiata Cup, sore hari, seluruh tim bulutangkis Indonesia langsung berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta untuk melanjutkan perjuangan membela bangsa di Qingdao. Mereka diantaranya adalah Taufik Hidayat, Tommy Sugiarto, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka. Keempatnya di Tunggal Putra mendapatkan status unggulan.

Untuk Ganda Putra, Alvent Yulianto/Hendra Aprida Gunawan dan rekannya di Rajawali, Angga Pratama/Ryan Agung Saputra akan berjuang bersama Yohanes Rendy Sugiarto/Afiat Yuris Wirawan, Ganda Putra yang akan digenjot oleh PBSI. Sementara itu, Markis Kido dan Hendra Setiawan tidak akan tampil di Qingdao karena Kido sedang menjadi “Suami Siaga” bagi sang Istri yang kemungkinan melahirkan minggu-minggu ini.

Jika Rendy/Afiat jadi genjotan baru PBSI di tingkat Asia untuk nomor Ganda Putra, Ganda Campuran yang juga menjadi andalan lain Indonesia mendebutkan Fadilah Irfan/Anggraeni Weni dan Juara Osaka International Challenge, Riky Widianto/Puspita Richi Dili. Sayang, Draw mereka kurang menguntungkan, pasalnya Riky/Richi harus bertemu V. Diju/Jwala Gutta di Round 1.

Masihkah anda mengingkari Indonesia negara bulutangkis?

Indonesia masih negara bulutangkis, itu tercermin dari boyongan Piala Axiata dan USD600,000 ke tanah air lewat tim Garuda dan Rajawali. Selain itu, antusiasme penonton sangat besar terhadap turnamen bergengsi di Asia Tenggara ini, terlihat dari aksesoris yang dipakai oleh para suporter dari penyisihan Grup sampai Final. Jika di Cheras Badminton Stadium, di babak penyisihan Grup K sepi, malah di Semifinal tepokan “Indonesia.. prok.. prok” terdengar jelas dari siaran televisi langsung dari Malaysia. Di Final, tepokan itu tak ada karena All Indonesian Final, siapa saja yang menang, tetap Indonesia..

Berbeda dengan sepakbola, yang selalu diperbincangkan, sebut saja dari masalah kecil seperti transfer pemain, peluncuran musim liga baru, sampai stasiun televisi banyak membuat program khusus bola, seperti Galeri Sepakbola Indonesia di Trans7. Sampai masalah terbunuhnya penonton gara-gara nonton Final SEA Games 2011 lalu, hemh… Sampai Bonek pun jadi perbincangan dipesenin Kereta Api sendiri lo sama pemerintah Kota Bandung waktu Persebaya VS Persib beberapa waktu lalu.

Suporter Indonesia menjadi suporter paling fanatik, makanya Indonesia menjadi salah satu tempat uji mental para pebulutangkis dunia. Karena itulah, titel Superseries yang melekat di Indonesia Open pada tahun 2011 naik kasta ke tingkat Premier mendampingi Korea Open yang naik kasta karena total hadiah USD1 juta, All England karena menjadi turnamen tertua, Denmark Open karena menjadi negara Eropa tersukses dalam bulutangkis dan China Open sebagai negara tersukses di dunia bulutangkis dalam dekade terakhir.

Itulah beberapa informasi menarik mengenai bulutangkis dunia…

salam duaribuan…

Iklan