Thomas & Uber Cup 2004 dalam Suasana Pemilu

salam duaribuan…

Olahraga dan politik memang layaknya dua sisi mata uang, berbeda dan jika saling dipertemukan akan mempengaruhi satu sama lain. Namun kali ini duaribuan akan sedikit menyinggung gelaran Thomas dan Uber Cup tahun 2004 yang diselenggarakan di Jakarta yang bertepatan dengan Pemilihan Umum.

Bertitel “2004 Bank Mandiri Thomas & Uber Cup”, digelarlah Thomas-Uber 2004 di Jakarta yang kembali memperebutkan Piala Thomas dan Piala Uber. Kala itu Tim Thomas Indonesia masih menjadi Juara Bertahan setelah di tahun 2002 mengalahkan Malaysia dengan skor 3-2. Inilah beberapa hal mengenai gelaran Piala Thomas-Uber 2004 berkaitan dengan Pemilu langsung pertama di Indonesia tahun 2004.

Apes di awal!

Dari Hasil Drawing Grup Piala Thomas dan Uber 2004, Tim Indonesia harus kehabisan akal dimana di fase grup harus mempertemukan mereka dengan tim China. Tim Thomas berada di Grup A bersama China dan Amerika Serikat. Dalam laga Penyisihan Grup A itu, Indonesia kalah 0-5 dari China. Berikut hasil pertandingan Penyisihan Grup A Thomas Cup.

  • Lin Dan [CHN] VS Sony Dwi Kuncoro [INA] : 17-16 15-3
  • Cai Yun/Fu Haifeng [CHN] VS Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto [INA] : 15-9 15-10
  • Bao Chunlai [CHN] VS Taufik Hidayat [INA] : 15-13 15-6
  • Sang Yang/Zheng Bo [CHN] VS Candra Wijaya/Tri Kusharjanto [INA] : 15-13 2-15 15-11
  • Xia Xuanze [CHN] VS Simon Santoso [INA] : 15-11 15-4

Sementara Tim Uber Indonesia lebih parah kali, turun dengan pemain duet senior-junior, Tim Indonesia juga kalah 0-5 dari China dalam laga Penyisihan Grup W Piala Uber.

Belanda jadikan Indonesia juru Kunci

Tim Uber Belanda yang satu grup dengan Indonesia berhasil melibas tuan rumah dengan skor tipis 3-2 dalam laga penyisihan Grup A. Pasca dikalahkan 0-5 dari China, Tim Indonesia dipastikan jadi juru kunci setelah ditekuk Belanda dengan skor 2-3. Mia Audina, mantan pebulutangkis Indonesia yang juga tergabung dalam Tim Uber Belanda tidak diturunkan dalam laga melawan Indonesia.

Meskipun tidak diturunkan, pada kenyataannya tim Belanda berhasil melibas Indonesia 3-2. Hal ini juga merupakan pukulan berat bagi tim Uber Indonesia, karena terjadi degradasi prestasi putri Indonesia.

Kekalahan dari Belanda dan China membuat Indonesia harus menjadi Juru Kunci Grup W dan harus mengikuti Playoff berhadapan dengan Runner Up Grup X, Jerman. Dalam Playoff memperebutkan tiket ke Kuarterfinal itu, Indonesia menang 3-0. Kemenangan itu tidak berlanjut ke Kuarterfinal dimana Indonesia kalah dari Korea 1-3.

Digelar dalam Jeda Pemilu

Digelar saat jeda Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada 7-16 Mei 2004 di Istora Senayan, sempat mendapatkan kritikan dari berbagai pihak, terutama tim China yang mengancam absen dalam gelaran bergengsi dua tahunan itu.

Kekhawatiran China disebabkan Jeda Pemilu yang memicu terjadinya kericuhan dan kondisi keamanan yang dianggap rawan. berbagai ancaman bom yang saat itu masih menimpa Indonesia juga sehingga menimbulkan rasa waswas. Jeda antar pemilu adalah pemilihan parlemen yang dilaksanakan 5 April dan pemilihan presiden-wakil presiden tahap I dilaksanakan 5 Juli .

Kekhawatiran China bahkan meminta jaminan keamanan dalam segala hal. Termasuk transportasi dari hotel tempat para pemain menginap ke Istora. Negeri terpadat di dunia itu pun menghendaki agar tempat menginap semua tim dipisah.

China pernah tak ambil bagian pernah ditempuh oleh musuh bebuyutan Indonesia tersebut ketika digelar Indonesia Terbuka 1999. Situasi keamanan tanah air yang rawan membuat mereka tak mengirim pemain. Mereka baru kembali aktif berlaga di Indonesia Terbuka 2001, karena kondisi keamanan telah dianggap kondusif.

2004, Format Baru

Mulai 2004, format putaran final berubah lagi, kali ini diikuti 12 tim dari lima zona, baik di kejuaraan Piala Thomas maupun Uber. Kali ini, ke-12 tim tersebut dibagi ke dalam empat grup.

Tak seperti tahun sebelumnya saat peserta putaran final terdiri dari delapan tim, format dengan 12 tim ini memberi peluang bagi semua peserta untuk lolos dari babak penyisihan grup, karena tak hanya tim berperingkat pertama di grup yang berpeluang lolos ke perempat final. Dua tim lain dari grup punya peluang sama ke perempat final melalui babak play-off.

Dengan format ini pula, penerapan strategi sejak awal pertandingan menjadi sangat penting untuk menentukan perjalanan tim, bahkan memilih lawan. Tak heran jika adu strategi menjadi hal yang menarik disimak pada pergelaran Piala Thomas dan Uber.

Namun, edisi ini berganti lagi di tahun 2008, dari 12 tim berubah menjadi 16 tim yang berlaga di Putaran Final Thomas dan Uber yang kala itu digelar di Jakarta. Juara dan Runner Up Grup lah yang melaju ke Perempat Final.

Selain format baru, Istora Senayan juga baru saja direnovasi dengan total dana Rp 7 miliar. Selain itu, seminggu sebelumnya juga dilakukan penyemprotan terhadap nyamuk, saat itu demam nyamuk dan penyakit DBD melanda Indonesia.

Target tidak tercapai semua, semua karena ‘Debutan’

Jika Target Indonesia di Piala Thomas-Uber 2004 adalah kembali mempertahankan gelar juara bagi Tim Thomas, sedangkan tim Piala Uber diharapkan masuk semifinal. Namun, semua itu gagal.

Digelar di Jakarta, Tim Thomas-Uber tidak mampu tampil mencapai target. Thomas Indonesia gagal mencapai Final setelah dikandaskan Denmark dengan skor tipis 2-3 di Semifinal, sedangkan Tim Uber hanya sampai Perempat Final sebelum kalah dari Korea 1-3.

Semifinal Thomas Cup 2004 Result – INA VS DEN

  • Peter Gade [DEN] VS Sony Dwi Kuncoro [INA] : 4-15, 8-15
  • Lars Passke/Jonas Rassmussen [DEN] VS Flandy Limpele/Eng Hian [INA] : 15-13, 15-7
  • Kenneth Jonassen [DEN] VS Taufik Hidayat [INA] : 5-15, 15-13, 7-15
  • Jens Eriksen/Martin Lundgaard [DEN] VS Chandra Wijaya/Tri Kusharyanto [INA] : 15-10, 2-15, 15-4
  • Peter Rassmussen [DEN] VS Simon Santoso [INA] : 15-3, 15-13

Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia pada tahun 2004 hampir sebagian besar adalah debutan di turnamen bergengsi ini. Namun meski debutan, banyak pemain yang sudah akrab, bahkan mereka saling memberi julukan.

  • Sony Dwi Kuncoro  “Low Profile” dan “Sulit Bicara”
  • Taufik Hidayat “Selebriti Lapangan”
  • Tri Kusharyanto “Tukang Bercanda” dan “Bikin Heboh”

Thomas Indonesia : Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat, Simon Santoso, Wimpie Mahardi, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto, Flandy Limpele/Eng Hian, Chandra Wijaya/Tri Kusharyanto. Hanya Taufik Hidayat dan Chanda Wijaya/Tri Kusharyanto yang pernah mengikuti Thomas sebelumnya, lainnya debutan.

Meski debutan, Flandi/Eng Hian sudah kenyang pengalaman. Mereka sudah menghuni Pelatnas Cipayung sejak akhir 1990-an, tapi selalu gagal masuk tim karena kalah bersaing dengan para senior. Eng Hian sendiri mengaku takut akan atmosfer di Istora yang kala itu bisa sangat ricuh. Ia mengatakan suporter kita bisa berbalik arah bila pemainnya tampil jelek.

Simon Santoso dan Wimpie Mahardi masih kategori Junior, ini merupakan keberanian dari Indonesia menurunkan tim-tim muda. Namun, pelatihnya sendiri mengaku mereka ditampilkan untuk bermain nothing to lose dan tanpa beban.

Sementara Tim Putri Indonesia lebih parah lagi, tak ada bintang bersinar di Uber Indonesia. Tunggal pertama saja, Silvi Antarini berperingkat 76 Dunia.

Uber Indonesia : Silvi Antarini, Maria Kristin Yulianti, Adrianti Firdasari, Francisca Ratnasari, Jo Novita/Lita Nurlita, Enny Erlangga/Lilyana Natsir, dan Greysia Polii/Rani Mundiastuti. Semua pemain adalah debutan.

Zhou Mi masih China di Jakarta

Tim Piala Uber China yang dimanajeri Li Yongbo masih bersama dengan Zhou Mi. Digelar sekitar beberapa bulan jelang gelaran Olimpiade 2004 di Athena, Zhou masih menjadi tumpuan China.

Dalam gelaran itu, Zhou Mi menjadi tunggal ketiga dalam perebutan Final Piala Uber di Jakarta. Dalam susunan pemain, Zhou Mi berhadapan dengan Ha Jung Eun (WS Korea yang kini menjadi WD bersama Kim Min Jung). Namun karena ini fase knockout stage, Zhou tidak bermain karena China sudah menang 3-1 terlebih dahulu atas Korea.

2 Piala ke Beijing

Setelah di Ghuangzhou, China gagal menyabet Piala Thomas di tahun 2002, di Jakarta mereka berhasil mengawinkan gelar Piala Thomas dan Uber. Di Final, Thomas China mengalahkan Denmark sedangkan Uber China mengalahkan Korea sama-sama dengan skor 3-1.

Thomas Cup 2004 Final Result

  • Lin Dan [CHN] VS Peter Gade [DEN] : 15-8, 15-13
  • Cai Yun/Fu Haifeng [CHN] VS Lars Paaske/Jonas Rassmussen [DEN] : 16-17, 6-15
  • Bao Chunlai [CHN] VS Kenneth Jonassen [DEN] : 12-15, 17-15, 15-12
  • Sang Yang/Zheng Bo [CHN] VS Jens Eriksen/Martin Lundgaard Hansen [DEN] : 15-13, 15-8

Uber Cup 2004 Final Result

  • Gong Ruina [CHN] VS Jun Jae Youn [KOR] : 7-11, 11-5, 11-7
  • Yang Wei/Zhang Jiewen [CHN] VS Hwang Yu Mi/Lee Hyo Jung [KOR] : 7-15, 10-15
  • Zhang Ning [CHN] VS Seo Yoon Hee [KOR] : 11-1, 13-10
  • Gao Long/Huang Sui [CHN] VS Lee Kyung Won/Lee Hyun Hwa [KOR] : 15-6, 15-2

Foto Jadul Thomas-Uber 2004

Kini duaribuan bakal share foto-foto jadul gelaran Piala Thomas dan Uber 2004 yang digelar di Jakarta.

Gade yang masih usia produktif

Lin Dan masih ting ting

Lin dan lagi

Lin Dan dan ekspresi kemenangan atas kembalinya Thomas ke China

Xie Xingfang masih ting ting

Bao Chunlai dengan pengaman lutut menyerupai warna kulit

Masih Bao

Cai Yun/Fu Haifeng masih muda, patut dipelajari, kenapa Mata Fu besar ya?

Taufik Hidayat juga masih tingting

Shoji Sato masih main tunggal, sekarang di MD Naoki Kawamae/Shoji Sato dan di XD Shoji Sato/Shizuka Matsuo

Zhang Ning

SDK Tunggal pertama Indonesia

Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto versi lawas

Maria Kristin Yulianti versi tanpa pengaman lutut

Firdasari masih potongan rambut lama

Chandra Wijaya/Trikus Haryanto

Piala Uber

China raih Uber lagi

Lee Hyo Jung

Zhou Mi dan Piala Uber

Jonas Rassmussen/Lars Passke masih memberi harapan Denmark di Final

Deretan Tim Thomas China

Tim Denmark dapat silver medalist

Kapankah Indonesia kembali mengangkat tinggi kedua Piala ini?

Buat jawaban pertanyaan terakhir, ayo pastikan berikan dukunganmu demi tim Bulutangkis Putri dan Putra Indonesia, minimal Semifinal lah…

salam duaribuan…

Iklan