Zhou Mi dan berbagai Kontroversi

salam duaribuan…

Siapa kenal Pebulutangkis Putri ternama ini? Yap.. Dialah Zhou Mi… Pebulutangkis berbakat yang harus menerima sanksi dari Federasi Bulutangkis Dunia. Kariernya pernah cemerlang sebagai wakil negara China, berbagai kontroversi termasuk kekecewaan kepada Li Yongbo di Olimpiade 2004 pun menjadi salah satu kontroversi karier bulutangkisnya, hingga namanya tenggelam di telan waktu.

Jangan salah dulu jika anda mengira Zhou Mi yang ini adalah personel Suju. Wah, ini Zhou Mi atlet badminton yang punya banyak kontroversi, melebihi personel Suju itu. Seperti biasa, duaribuan bakal mengupas tuntas ulas si Zhou Mi, pebulutangkis Hongkong.

2000 World Grand Prix Winner

Ini adalah gelar besar pertama bagi Zhou setelah menjuarai berbagai event bulutangkis di berbagai negara. Digelar pada tahun 2001 (tertunda setahun), World Grand Prix 2000 digelar untuk menentukan siapa pemain terbaik sepanjang tahun 2000. World Grand Prix 2000 mengundang Pemain di Top 8 Ranking IBF kala itu.

Digelar di Brunei, 8 Agustus 2001, Zhou mi berhasil meraih gelar Juara World Grand Prix 2000 setelah mengalahkan Gong Zhicao dengan skor 7–5, 5–7, 7–1, 7–0. Grand Prix ini merupakan Grand Prix terakhir dan setelahnya dihapuskan dalam kalender Bulutangkis.

Di Tahun 1998, Zhou bersama 11 pemain lain diundang untuk World Grand Prix 1998 yang digelar tahun awal 1999. Zhou hanya sampai babak Grup setelah dikalahkan Ye Zhaoying dalam rubber set 3-11, 11-5, 2-11 dan hanya menempatkannya di Runner Up Grup A dan tidak lolos ke Semifinal.

Silver Medalist 2001 World Championship

Ini adalah kali pertama ia ikut dalam Kejuaraan Dunia BWF. Perjalanan kariernya pada saat ini cukup meyakinkan. Digelar di Seville, Spanyol, pada Semifinal tanggal 9 Juni 2001, Zhou Mi berhasil mengalahkan rekan senegaranya, Zhang Ning dengan skor 11-5, 11-9 dan melaju ke Final.

Zhou yang lahir 18 Februari 1979, kala itu masih berumur 22 tahun menginjakkan kaki di Final Kejuaraan Dunia pertamanya. Di Final, lawannya adalah rekan senegaranya, Gong Ruina, dan harus kalah 3-11, 4-11 sekaligus memberikan gelar Juara Dunia kepada Ruina.

Gold Medalist Asian Games 2002

Dari 6-14 Oktober 2002, Asian Games digelar di Busan, Korea. Zhou Mi dipercaya sebagai garda pimpinan Tim Putri China. Dalam Final Women’s Team, China berhasil melibas Korea 3-1. Dan Zhou Mi menjadi salah satu punggawa China yang melibas Tunggal Korea.

Ditempatkan sebagai unggulan 1, Zhou Mi langsung melaju ke Final. Dia kembali dipertemukan dengan musuh bebuyutan sekaligus rekannya, Gong Ruina. ia melibas habis dengan skor telak 11-1, 11-1. Medali Emas Tunggal Putri Asian Games didapat Putri China ini.

Juara Asia 2002

Menjadi Runner Up Kejuaraan Dunia, namanya kian naik. Tahun 2001 saja ia mencatatkan namanya sebagai Jawara China Open, Runner Up All England dan Malaysia Open. Dan Di Tahun 2002, ia berhasil menyabet Gelar Juara Asia pada Asian badminton Championship 2002 yang digelar di Bangkok, November 2002.

Pada Final yang digelar 18 November 2002, Zhou Mi dipertemukan dengan Zhang Ning, dan harus bekerja keras terlebih dulu sebelum menang 6-11, 11-3, 11-8 dan meraih gelar Juara Asia.

Bronze Medalist 2003 IBF World Championship

Zhou yang masih membawa bendera China kembali tampil untuk kali kedua di Kejuaraan Dunia BWF tahun 2003 di Birmingham. Di Kuarterfinal, ia harus bekerja keras mengalahkan Wang Chen dari Hongkong dengan skor 11-6, 5-11, 11-4.

Berhasil melaju ke Semifinal, ia harus dipertemukan dengan rekan senegaranya lagi, Gong Ruina. ia harus kembali kalah 2-11, 4-11 sekaligus hanya pulang sebagai Bronze Medalist

Jawara All England 2003

Zhou Mi juga mencatatkan namanya sebagai jawara Turnamen paling bergengsi di dunia, All England. Ia mendapatkan gelar ini saat menjuarainya pada turnamen edisi tahun 2003.

Sebelumnya di tahun 2002, ia sudah sampai di Babak Semifinal, namun kandas. Dan Edisi 2003, ia berhasil juara setelah mengalahkan Xie Xingfang dengan skor 11-6, 11-5.

Ia hampir saja mengulang kemenangan di tahun 2004, namun ia harus menerima dikalahkan oleh Gong Ruina 7-11, 7-11 pada partai Final yang digelar 14 Maret 2004.

Trendsetter dengan Rok

Buat diketahui, tren Rok untuk Pebulutangkis Putri China tidak terlalu populer pada awal millenium. Namun Zhou mungkin menjadi salah satu trendsetter rok pebulutangkis Putri di China awal 2000an.

Meskipun bukan menjadi pebulutangkis Putri pertama yang memakai rok, ia mungkin menjadi salah satu pencetus para putri China lain, seperti Gong Ruina untuk memakai rok. Beri tepuk tangan buat dia… hebat…

Bronze Medalist Olympic 2004

Ini adalah salah satu pencapaian terbaik dari Zhou. Masih berbendera China, Zhou kembali tampil dengan kekuatan penuh meraih medali Perunggu.

Di Babak Pertama, ia bertemu dengan Xu Haiwen dari Jerman dan harus bermain ketat 9-11, 11-5, 11-2 dan Zhou berhasil melaju ke Babak Kedua. Di Babak kedua, ia bertemu Kaori Mori dari Jepang dan menang mudah 11-2, 11-4. Ke Perempat Final, ia lebih mudah mendapat lawan. Kali ini Petya Nedelcheva dari Bulgaria menjadi lawannya. Zhou menang 11-4, 11-1 dan melaju ke Semifinal.

Ia pun dipertemukan dengan Zhang Ning yang ditempatkan sebagai Unggulan 2. Dalam laga Semifinal itu, Li Yongbo, Pelatih China yang kecewa atas kegagalan Gong Ruina atas Mia Audina [NED] akhirnya menyuruh Zhou Mi untuk mengalah dari Zhang Ning. Di Laga Semifinal, Zhou Mi kalah 6-11, 4-11 dan menyerahkan tiket Final kepada Zhang Ning yang berhasil mengalahkan Mia Audina.

Kekalahan di Semifinal tak menghentikan langkah Zhou. Di Bronze Medal Match, ia bertemu dengan Gong Ruina. Zhou harus bermain ketat sebelum menang 11-2, 8-11, 11-6 sekaligus mendapatkan medali Perunggu.

Olimpiade ini merupakan kali mungkin menjadi penampilan terakhir Zhou di Olimpiade, karena di tahun 2008 ia masih terkendala perubahan kewarganegaraan dan di tahun 2012 ia masih harus terdepak dari bulutangkis dunia karena kasus Doping.

Kontroversi Olimpiade 2004 : Zhou Mi, Zhang Ning dan Li Yong Bo

Zhang Ning, Pemegang 2 medali Emas Olimpiade, dari 2004 dan 2008 punya cerita dengan Zhou Mi dan sang Pelatih, Li Yongbo di Semifinal Olimpiade Athena 2004.

Dalam beberapa pertemuan sebelumnya, Zhang Ning dapat dikalahkan oleh Zhou Mi. Namun kali ini, Sang Pelatih China itu, meminta Zhou Mi agar mengalah, demi pencapaian emas Olimpiade bagi China.

Dalam Semifinal sebelumnya, Gong Ruina yang sebenarnya menjadi Unggulan pertama harus dipertemukan dengan Mia Audina. Ruina harus kalah telak 4-11, 2-11. Kekalahan Ruina ini membuat Li Yongbo marah. Guna mempertahankan medali emas, Zhou Mi pun disuruh mengalah, karena di beberapa pertemuan sebelumnya, Zhou selalu kalah dari Mia Audina.

Zhou Mi pun harus puas menurut pada sang Pelatih. Zhou “mengalah” bukan “kalah” dari Zhang Ning dengan skor 6-11, 4-11. Bronze Medal Match di depan mata. Zhou Mi tak ingin pulang sia-sia ke Beijing. Ia pun melibas Unggulan 1 Gong Ruina sekaligus rekan senegaranya. Sikap “Mengalah” itu tergantikan dengan Perunggu. Namun sebenarnya itu tak sebanding.

Li Yongbo berarti punya sikap ketidakpercayaan kepada sang anak didik. Meskipun realistisnya, di Final Zhang Ning berhasil mengalahkan Mia Audina meskipun harus bekerja keras. Zhang Ning menang 8-11, 11-6, 11-7. Pasca turnamen ini, Hubungan Li Yongbo dan Zhou Mi merenggang. Bahkan pasca Olimpiade, Zhou sempat rehat beberapa saat.

Rehatnya Zhou Mi

Pasca Olimpiade, Zhou Mi rehat dari lapangan dan memilih untuk berdiam diri pada tahun 2005. Lama tak terdengar, ternyata di tahun 2006 ia memilih untuk bermigrasi ke Hongkong.

Rumor rehatnya Zhou Mi banyak dikaitkan dengan kontroversi Olimpiade 2004. Kekalahan di set pertama atas Zhang Ning membuat Li Yongbo menginstruksikan agar Zhou Mi mengalah atas Zhang Ning. Zhou Mi menganggap dirinya memiliki kinerja yang kurang baik di Olimpiade itu, sehingga ia rehat.

Namun, ternyata di tahun 2006, ia juga mengumumkan bahwa ia terkena cedera lutut kanan sehingga rehat. bahkan, Tim Bulutangkis nasional China mengeluarkan Zhou Mi dari Timnas China atas usul dari Li Yongbo karena cedera lutut yang tidak lekas sembuh.

But, hanya Zhou Mi dan Tuhan yang tahu pasti alasan rehatnya ia dari bulutangkis selama hampir 2 tahun itu.

Berganti Bendera

Mungkin bentuk kekecewaan atas kepelatihan di China yang dinilai terlalu keras, apalagi oleh Li Yongbo, akhirnya Zhou Mi memutuskan kepindahannya ke Asosiasi Bulutangkis Hongkong [HKBA], bukan pindah Kewarganegaraan.

Zhou Mi yang ditawari bergabung dengan tim Hongkong pada 2007 lalu  Ia bergabung dengan Hongkong namun tidak berganti kewarganegaraan.

Kepindahan Zhou Mi itu bahkan sempat dikomentari sang Pelatih Kepala, Li Yong Bo yang mempertanyakan patriotisme Zhou Mi. Namun, ternyata tidak mudah bagi Zhou untuk berganti bendera. Ia harus tinggal di Hong Kong selama tiga tahun, atau mendapat izin khusus dari BWF untuk bermain dalam turnamen besar internasional.

Berganti bendera berarti harus memulai dari awal. Namun ternyata tak sulit bagi Zhou untuk kembali bersinar. Dengan Pelatih Kepala baru, Chan Chi-choi yang lebih sabar mungkin, meminta Zhou untuk kembali bermain ketika ia sembuh dari cedera lututnya.

Meskipun kala itu berusia 27 tahun, Zhou ternyata masih merasa dirinya muda dan masih menginginkan berada di Perbulutangkisan Dunia.

Ulang Sukses Korea Open

Pada tahun 1999, Zhou yang masih berkewarganegaraan China, berhasil memenangkan gelar Korea Open. Pada tahun 2008, ia sukses kembali meraih gelar sebagai Pebulutangkis Hongkong.

Pada edisi 2008, ia kembali dipertemukan dengan Zhang Ning yang menduduki Unggulan kedua. Kali ini Zhou Mi melibas Zhang Ning dengan skor ketat 21-19, 23-21 pada laga Kuarterfinal.

Di Semifinal, lawannya cukup mudah, Jun Jae Youn, ia menang 21-16, 21-12 dan melaju ke Final. Di Final, ia bertemu dengan Lu Lan. Mengejutkan, Zhou menang 21-18, 15-21, 21-15 dan kembali mengukir namanya di Korea Open.

Kritikan Pedas Yong bo

Selain mengkritik Zhou Mi akan kepindahan Zhou Mi ke Hongkong, Yongbo juga banyak membuat kritikan pedas yang membuat kepastian hati Zhou Mi pindah ke Hongkong.

Ini nih saya rangkum beberapa hal yang Yongbo buat kepada Zhou Mi.

  • Zhou Mi dikeluarkan dari Timnas Bulutangkis China di tahun 2006
  • Kepindahan Zhou Mi ke Hongkong lewat program Top Talent Importing yang dilakukan RRC dan Hongkong kala itu.
  • Instruksi Yongbo agar Zhou Mi Mengalah di Semifinal Olimpiade 2004 atas Zhang Ning.

Hubungan tidak baik pelatih-atlet ini berlanjut bahkan setelah Zhou Mi pindah ke Hongkong. Li Yongbo berbicara di koran Xinhua bahwa ia yakin Zhou Mi bisa bermain kembali, ia tetap menilai Zhou tak lagi ancaman bagi pemain putri Cina. Apalagi, cara bermainnya bisa memacu cederanya kambuh. Saya anggap ia tak bisa lagi ke permainan terbaiknya seperti masa lalu.

Padahal awalnya, Zhou Mi punya kenangan manis dengan Yongbo. Zhou yang masuk timnas Cina sebagai anggota tim lapis kedua pada tahun 1996. Hanya dalam dua tahun, ia sudah promosi ke lapis pertama. Meski mampu juara di berbagai ajang, kariernya ada di bawah bayang-bayang pemain top putri Cina yang jumlahnya banyak, seperti Gong Zhicao, Gong Ruina, Zhang Ning, atau Xie Xinfang.

Mungkin Yongbo adalah pelatih yang paling tega dan kasar, namun dibalik itu semua ia dijuluki Coach of Champion. Sebut saja Zhang Ning, Xie Xingfang atau Wang Yihan. Mereka adalah anak didik sukses dari Yongbo. Mungkin Jika Zhou Mi masih jago dan bebas cedera, tak mungkin Yongbo bakal melepas pemainnya.

Tampil Perdana di Singapore Open 2007

Image

Zhou Mi tampil perdana sebagai Wakil Hongkong di Singapore Open SS 2007. Absen lama dari turnamen membuat Rankingnya harus dinaikkan jika ia ingin tampil di Olimpiade.

Di Singapore Open 2007 adalah debut pertamanya di Superseries. Ia harus mengawali laga dari babak Kualifikasi. Di Babak Kualifikasi pertama, ia berhasil mengalahkan Diana Dimova [BEL] dengan skor 21-4, 21-15. Di Babak Kualifikasi Kedua, ia berjumpa rekan lama Wang Lin [CHN] dan menang ketat 21-9, 14-21, 21-11. Di Final Kualifikasi, dia berjumpa wakil tuan Rumah, Chen Jiayou dan menang 21-16, 21-5 sekaligus mendapatkan tiket di Babak utama.

Di Babak pertama, Zhou harus langsung bertemu unggulan 6 asal Perancis, Pi Hongyan. Di set pertama, kejar mengejar angka terjadi antara Zhou dan Pi. Namun, Zhou lebih dulu menyaber dan menang 21-19. Di set kedua, Hongyan balik memimpin dan menang 21-17 sekaligus memaksakan rubber. Sayang, Zhou kalah tipis 20-22 dari Pi Hongyan.

Ini merupakan awal yang bagus bagi Zhou Mi. Ia merintis karier benar-benar dari bawah lagi, dari babak kualifikasi dan berhasil menjadi Ranking 1 di tahun 2008. Hanya dalam waktu setahun. Luar biasa..

2008 Memories : 2 Superseries Title and 1st World Rank

Di tahun 2007, Zhou Mi akhirnya come back ke bulutangkis dengan bendera baru. Meskipun harus bolak balik ijin ke BWF. Akhirnya ia mendapatkan hasil sebanding di tahun 2008.

Zhou menunjukkan kelasnya sebagai Pebulutangkis Putri yang pernah menjadi Nomor 1. Ia berhasil kembali menjadi World Rank 1 pada tahun 2008.

Dari 12 Superseries yang digelar, Zhou berhasil membawa 2 titel Superseries di Korea Open dan China Masters serta beberapa kali menjadi Runner Up di Singapore, Jepang dan Denmark. Zhou juga berhasil membawa titel Superseries Final 2008.

Beberapa Titel itu membuatnya naik ke Ranking 1 BWF, sekaligus menepis kritikan Li Yongbo bahwa Zhou Mi tidak bisa menyaingi pemain China. Namun dominasi Zhou Mi hanya sampai di tahun 2008. Mungkin karena faktor usia, di tahun 2009 ia hanya menyabet 1 Superseries Title di Singapore Open 2009. Setelah itu, namanya tak terdengar lagi.

Kalah dari Maria Kristin Yulianti

Setahun berlalu setelah Superseries Singapore 2007, Zhou Mi bertarung di Indonesia Open. Hampir setiap Superseries ia lakoni guna menaikkan Rankingnya serta membuktikan kepada Yongbo bahwa perkataanya tak benar.

Namun, ia punya kenangan pahit dengan beberapa pebulutangkis Indonesia, diantaranya Maria Kristin. Setahun setelah Singapore Open 2007, Zhou Mi telah tampil sebagai Unggulan 7 di Djarum Indonesia Open 2008. Namanya sangat cepat naik, bukan sebagai Putri China, sekarang dia wakil Hongkong. Namun, ternyata Zhou Mi pernah dikalahkan Maria Kristin.

Pada laga Djarum Indonesia Open 2008, Di Round 1, Zhou Mi menang mudah atas wakil England, Elizabeth Cann [ENG] dan di Round 2 melibas Hwang Hye Youn [KOR]. Di perempat Final, dia berjumpa wakil Tuan Rumah, Maria Kristin Yulianti.

Seperti biasa, laga yang dimainkan Kristin selalu tak dapat dipastikan siapa pemenangnya. Kristin bisa saja menang, namun bisa saja kalah. dan kebanyakan, ia memaksakan rubber kepada lawannya.

Di set pertama, Zhou Mi ternyata kalah oleh Kristin. Lop-lop atas yang dipadukan smash membuat Kristin menang 21-17. Zhou Mi balik menunjukkan kelasnya pada Kristin. set 2 Zhou menang 21-15 dan memaksakan rubber kepada Kristin.

Di set penentuan, Zhou banyak melakukan error (mungkin faktor usia), sehingga akhirnya Zhou pun kalah 16-21 sekaligus memuluskan jalan Kristin ke Semifinal. Kristin sendiri kala itu juga berhasil mengalahkan Unggulan 2, Zhang Ning rubber set juga 21-14, 20-22, 22-20.

Kristin sendiri mengaku tidak menyangka bisa mengalahkan para unggulan itu. Sempat ia merasakan sakit di lututnya saat berjumpa Zhou Mi. Bahkan sakitnya terasa ke pinggang hingga membuatnya sesak nafas.

Namun, kekalahan di Indonesia Open itu dibalas Zhou di Kejuaraan Dunia 2010. Di Perancis, Zhou Mi berhasil menang 15-21, 21-18, 21-16. lagi-lagi Rubber Set. Padahal kala itu Zhou Mi adalah Unggulan 2 dalam turnamen bergengsi itu.

Selain dengan Kristin, hal serupa juga dialami Zhou dengan Adrianti Firdasari. 2 pertemuan terakhir mereka berakhir kemenangan bagi Firda dalam rubber set.

Kekalahan pertama Zhou terjadi di Japan Open 2009, Zhou yang kala itu menjadi unggulan 1 kalah dari nonunggulan dengan skor 17-21, 21-18, 18-21. Dipertemukan kembali di Singapore Open 2010, Zhou yang kala itu menjadi unggulan 3 kalah kembali oleh Firda dengan skor 12-21, 21-10, 11-21. Memang faktor usia sangat berpengaruh ya…

Olimpiade 2008 Tertunda

Olimpiade Beijing 2008 sebenarnya merupakan target besar dari Zhou Mi, namun kepindahannya ke Hongkong ternyata menjadi batu sandungannya untuk berlaga di Beijing.

Menurut aturan BWF, Pemain yang berpindah negara/bendera diperbolehkan mengikuti olimpiade jika sudah 3 tahun berpindah negara/bendera. Sedangkan pada Olimpiade 2008, Zhou baru hampir dua tahun pindah bendera mewakili Hongkong, meskipun ia belum berpindah kewarganegaraan.

Padahal kala itu, Zhou adalah pebulutangkis Putri dengan Ranking di Top 10 dan mampu mengurangi dominasi pebulutangkis Putri China di Top 10. Tak berlaga di Beijing bukan akhir bagi Zhou. Hongkong masih diwakili oleh Wang Chen yang juga berdarah China.

Olimpiade 2012 nanti Zhou Mi juga tak akan tampil, selain masih diberi status larangan tampil di kejuaraan BWF maupun nasional dan lokal di Hongkong, Zhou Mi harus menerima nama nya masih di cap buruk sebagai atlet dengan kasus Doping.

Kasus Doping

Ini adalah perjalanan paling buruk dalam karier seorang atlet. Zhou Mi akhirnya harus terdepak dari bulutangkis dunia karena terbukti melakukan Doping. Sanksi berat dijatuhkan BWF kepada Zhou Mi pada 4 September 2010 lalu. Zhou Mi diskors dua tahun karena terbukti bersalah dalam kasus doping. Doping adalah kasus dimana seorang atlet menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan stamina sehingga ia bisa menang.

Dengan skors itu, Zhou Mi tidak bisa tampil di semua even yang diselenggarakan BWF. Sanksi berat tersebut dijatuhkan setelah BWF mengadakan hearing di Kopenhagen, Denmark, 23 Agustus lalu. Zhou Mi juga hadir dalam pertemuan itu. Tuduhan doping terhadap Zhou Mi sebenarnya muncul pada Juni lalu. Tes yang dilakukan BWF terhadap Zhou Mi adalah tes acak di luar kompetisi. Dalam tes itu didapati bahwa darah Zhou Mi mengandung clenbuterol. Clenbuterol adalah golongan 1 dari agen anabolitik dalam daftar zat terlarang yang dirilis World Anti Doping Association, asosiasi yang mengawasi Doping dalam dunia Olahraga.

Memang, sesuai dengan pengakuan Zhou Mi, dia tidak sengaja memasukkan clenbuterol ke dalam tubuhnya. Beberapa saat menjelang tes dia memang mengonsumsi obat-obatan karena kondisinya drop. Sial, obat-obatan itu ternyata mengandung unsur terlarang. Zhou Mi mulai dicekal pada 4 Agustus. Skorsnya juga berakhir pada tanggal yang sama pada 2012.

Zhou Mi menjelaskan, pada 21 Mei badannya merasa tidak enak. Lalu, dia membeli obat di apotek. Ketika berlatih di Singapura pada 13 Juni, kesehatannya drop, dan dia demam. Dengan rekomendasi dari staf toko obat, dia membeli obat tradisional Tiongkok. Zhou Mi tidak tahu mana di antara obat tradisional atau modern itu yang mengandung zat terlarang.

Untuk diketahui, kasus Doping Zhou Mi adalah kasus Doping pertama yang ditangani oleh BWF di era modern. Atlet memang tidak bisa minum obat sembarangan. Banyak kasus doping berawal dari konsumsi obat-obatan yang dijual bebas. Kasus seperti itu juga pernah terjadi pada pebulu tangkis Indonesia, yakni Sigit Budiarto yang terkena skandal Doping pada 1998.

Sigit pernah dikenai sanksi tidak dapat bertanding selama setahun dari 1998-1999. Padahal, saat itu Sigit yang berpasangan dengan Candra Wijaya di Nomor MD sedang bersinar. Akhirnya Candra Wijaya dan Sigit dipisah, Candra pun dipasangkan bersama Tony Gunawan sedangkan Sigit dipasangkan dengan Halim haryanto. Kini, Sigit menjadi Pelatih bagi atlet-atlet Junior Indonesia.

Selain Sigit, ada Minarti Timur yang sukses meraih medali perak Olimpiade Syned bersama Tri kusharyanto. Mereka kalah di Final oleh pasangan Zhang Jun/Gao Ling dengan skor 15-11, 13-15, 11-15.

Minarti pernah diskorsing karena terbukti menggunakan doping. Namun setelah diselidiki, ternyata zat terlarang itu berasal dari obat anti alergi yang ternyata mengandung Doping. Jadi, bukan berarti semua atlet yang terkena kasus doping sengaja melakukan untuk meningkatkan staminanya..

Yah, akibat kasus ini, ia diskors selama 2 tahun dan boleh berlaga mulai 4 September 2012 mendatang. Namun, apa daya, Tahun ini, usia Zhou Mi sudah mencapai 33 tahun. Rasanya sudah terlalu tua untuk menjadi atlet lagi. Masih ada sang penerus, Pui Yip Yin yang juga naik daun.

Menikah dan Hamil

Zhou Mi tak lama terdengar pasca kasus Doping akhirnya memutuskan menikah. Memang Zhou sejak sanksi dijatuhnya berusaha mencari apa yang menyebabkan Clenbuterol itu bisa ada pada tubuhnya. Dalam masa pencarian penyebab itu, Zhou pun memutuskan menikah.

Zhou Mi menikah pada 18 Februari 2011 lalu. Itu foto diatas diambil saat hari perkawinannya. Dalam perkawinnanya itu, beberapa pebulutangkis juga datang, termasuk Gao Ling.

Menikah di Februari, Zhou Mi ternyata langsung hamil beberapa bulan kemudian. Dan pada bulan Oktober 2011, ia didampingi sang suami menggelar Konpres guna mengungkapkan apa yang terjadi sekaligus membersihkan nama baiknya.

Usaha membersihkan nama

zhou-mi-4

Setahun yang lalu, tepatnya di Bulan Oktober 2011, Zhou Mi yang sedang hamil, mengungkapkan bahwa obat yang dia ambil tidak mengandung Clenbuterol. Itu datang kemungkinan besar dari daging babi yang terkontaminasi.

Zhou awalnya berpikir bahwa hasil tes positif mungkin saja karena Zhou mengambil obat tradisional Cina untuk mengobati penyakitnya di sekitar Mei 2010. Tapi ia lalu teringat bahwa sebelumnya ia mengambil obat yang sama untuk flu, jadi ia memutuskan untuk mengirim sampel obat yang akan diuji di laboratorium Intertek di Australia, dengan biaya sendiri, dan laporan yang datang kembali pada tanggal 6 Oktober 2010 dikonfirmasi bahwa obat tidak mengandung Clenbuterol apapun.

Namun saat diajukan ke Pengadilan, ternyata Zhou gagal, ia tak bisa kembali ke bulutangkis dan hanya bisa menunggu waktu. Ternyata Clenbuterol itu tidak berasal dari obat tradisional itu, ternyata itu berasal dari daging babi yang terkontaminasi.

Zhou Mi mengatakan, ia tidak akan bersaing lagi dan berharap namanya dibersihkan untuk ‘dapat berkontribusi pada olahraga Bulutangkis yang telah memberikan segala sesuatu bagi Zhou Mi’

Apakah mungkin kasus Doping ini ada hubungan dengan pencobaan pembunuhan karakter Zhou Mi. Apakah ulah Li Yongbo lagi??

salam duaribuan…

Iklan