tvOne ulas ‘Akhirnya Juara Lagi’

salam duaribuan…

Keberhasilan Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir menyabet gelar All England 2012 membuat berbagai televisi menayangkan beritanya. Dan untuk kali pertama mungkin, saya melihat bulutangkis dibicarakan dalam jangka waktu cukup lama.

Di tvOne, tepatnya dalam program Kabar Petang, informasi mengenai bulutangkis disiarkan dengan perbincangan dengan beberapa pebulutangkis (Terakhir kali lihat pebulutangkis diwawancara dan diundang ke TV Swasta waktu Taufik kawin ama Amy kali ya..)

dalam acara itu, Diundang Richard Mainaky, Christian Hadinata, dan Juara XD BWF World Junior Championship 2011, Alfian Eko Prasetyo/Gloria Emmanuel Widjaja dari Indonesia. Christian Hadinata dan Imelda Wiguna sendiri berhasil meraih gelar All England tahun 1979. Dan baru Tontowi/Lilyana yang kemarin memecahkan rekor itu setelah menjuarai All England dengan mengalahkan Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl dengan skor 21-17, 21-19.

Dalam wawancara bertajuk ‘Akhirnya Juara Lagi’ itu, tvOne dalam beberapa narasi menyebut gelar All England ini masih menjaga muka Indonesia sebagai kiblat olahraga Bulutangkis dunia. Namun, pertanyaan dari semua pihak ternyata juga dilayangkan oleh tvOne, ‘akankah kabar gembira ini terdengar kembali saat Olimpiade?’

Richard Mainaky yang masih setia menjadi Pelatih di Pelatnas Cipayung, sedangkan para saudaranya telah meninggalkan Indonesia juga berkomentar bahwa di Sektor XD, persaingan sangat merata, bahkan semua pasangan punya kans untuk menang di Olimpiade. Saingan terberat pasangan Indonesia ada di Ganda Campuran negara China, Denmark, Korea dan Inggris, karena Inggris sendiri merupakan tuan rumah dan tidak boleh diremehkan.

Gloria dan Eko sendiri dipuji oleh Richard Mainaky yang kini bertugas sebagai pelatih Ganda Campuran di Pelatnas sebagai pasangan masa depan Indonesia. Di Nomor ganda Campuran, pemain Junior Indonesia punya taji, bahkan terjadi All Indonesian Final di BWF World Junior Championship lalu.

Setelah jeda iklan, dibahas lagi mengenai kepelatihan bulutangkis sebelum era Djoko Santoso dan setelah era Djoko. Nih bedanya.

  • Era Djoko, pelatihan Bulutangkis berpusat di Jawa sedangkan dulu pelatihan seimbang antara Jawa-luar Jawa.
  • Era Djoko saat ini, banyak atlet yang dikirimkan ke luar negeri dibanding dulu, termasuk atlet junior.
  • Atlet Junior kala kini pun lebih banyak dari atlet senior, dulu atlet Senior lebih banyak, makanya ketika terjadi perubahan besar Pelatnas ketika beberapa atlet Senior hengkang, Pelatnas seperti kehabisan pemain.

kesimpulannya gini, kalau dulu seniornya berprestasi, regenerasi belum diperhatikan dan atlet junior sedikit, sekarang seniornya kurang berprestasi namun regenerasi sudah diperhatikan detil sampai Sirnas pun digelar sepanjang tahun demi menggaet banyak atlet Junior.

Dampaknya belum masa kini memang, coba lihat dua atau tiga tahun ke depan, Gloria/Eko mungkin menjadi salah satu punggawa besar Pelatnas. Dilihat dari turnamen Junior, Indonesia kemarin menyabet 2 gelar di German Junior 2012 di nomor MS dimana terjadi All Indonesian Final yang dimenangkan oleh Kho Henrhiko Wibowo dan di nomor WD yang dimenangkan Melati Daeva/Rosyita Eka Putri.

Kalau mau timbang menimbang Olimpiade 2012 sudah telat, kemungkinan beban ada di Tontowi/Lilyana untuk mempertahankan tradisi emas. Namun di 2016, Indonesia rasanya sudah punya simpanan. Tinggal mematangkan simpanan itu, supaya mapan di masa depan.

Btw, setelah ngomongin wawancara itu, sebenarnya, kenyataan yang gue lihat dari lapangan, begini.

  • Memang presenter yang ngaku ‘presenter olahraga’ banyak tapi soal bulutangkis buta banget, bahkan Adi Nugroho pun gak ngerti masalah bulutangkis, saat penayangan Final Kualifikasi lalu nama-nama pebulutangkis pun gak ngerti.
  • Begitu juga komentator yang asalnya dari MNCTV, saat laga final Kualifikasi Uber, ada koment ‘Wang Lin kayak baru maen bultang’ padahal dia udah World Champion loh bos…
  • Katanya dulu Ricky Subagja bakal diundang ke MNCTV, nyatanya sih gak lihat tuh…
  • But, gue punya persamaan bulutangkis dan bola, sama-sama ‘LEADING THEN LOSING”, maksudnya, Bulutangkis dan Bola sama-sama mengirimkan tim dan di babak awal menang, bahkan beberapa kali masuk Final, namun kandas. Leading terus, lalu kalah (losing)
  • banyak Pemain Bola Luar Negeri datang ke Jakarta diliput habis-habisan dan masuk Studio TV, tapi lihat pebulutangkis Luar Negeri, paling pol hanya diwawancara di court. Bahkan Pemain Nomor 1 yang sering datang, Lee Chong Wei gak pernah tuh lihat masuk Studio TV.
  • Dulu pernah lihat Tim Uber yang masuk Final masuk ke berbagai acara TV, kayak Empat Mata dan Kick Andy. But, kala itu memang event besar Thomas & Uber Cup digelar di Jakarta tahun 2008.
  • Tapi gue senang bulutangkis gak terlalu diliput sama TV, soalnya parah banget kalo diliput, bisa-bisa kayak Gaston yang prestasinya kemana gitu… atau Irfan Bachdim yang kebanyakan di TV.. Bolanya ilang..
  • Trus ingin bebas politik. Lihat Piala AFF lalu… gara-gara wara wiri pengajian segala sama Bakrie… kalah di Final.. Malu malu… Yah itu Politik, Bakrie yang dapat untung, sedangkan pemain kecapekan dan kalah. Syukur aja gak ada pebulutangkis yang diajak pengajian segala…
  • Taufik pernah jadi Idola dunia. Dan kehidupan pribadi nya diliput habis-habisan gara-gara menikahi Amy Gumelar, tapi setelah itu, gak ada pebulutangkis yang diliput ampe segede topik.

Yah, itu cuma sekedar komentar gua… Inget, kalo copas blog orang.. pake sumber ya kawan.. OK…

salam duaribuan…

Iklan