Misi dibalik Kemenangan Taufik Hidayat atas Chen Jin

salam duaribuan…

All England Badminton Championship hari ini mempertandingkan babak Kuarterfinal. Namun karena memang berbagai jejaring sosial media yang sudah berkembang dan memberitakan secara update dan aktual mengenai berbagai macam berita olahraga dan live scoring, jadi duaribuan akan mengabarkan hal-hal menarik seputar turnamen yang berlangsung.

Kali ini duaribuan mencoba menwatch kemenangan Taufik Hidayat atas Perunggu Beijing 2008, Chen Jin di Putaran Kedua All England 2012.

Ada beberapa misi tersembunyi dibalik kelincahan Taufik yang tidak seperti biasanya. Pada pertandingan biasanya, apalagi melawan unggulan, Taufik biasanya melempem. Peraih Emas Olimpiade Athena ini bahkan menyebut bermain bulutangkis hari ini untuk tetap mempertahankan nama negara, dan akan mundur bila pemain muda yang kompeten menggantikannya.

Ini dia misi tersembunyi yang duaribuan bisa ungkap..

Tak inginkan Dominasi China di Wembley

Chen Jin Bronze medalist Chen Jin of China celebrates after the Men's Singles Medal Matches held at the Beijing University of Technology Gymnasium during Day 9 of the Beijing 2008 Olympic Games on August 17, 2008 in Beijing, China.

Taufik Hidayat yang pada Babak Kedua dipertemukan dengan Chen Jin berusaha mengalahkan pemain peraih Perunggu Beijing 2008 itu, Taufik berharap agar langkah Chen Jin terhenti dan mengurangi dominasi China di Wembley Arena, Juli mendatang.

Skenario seperti ini, Jika Chen Jin berhasil menang atas Taufik, Chen Jin akan melaju ke Kuarterfinal dan bertemu rekan senegaranya Lin Dan. Lin Dan pun inginkan agar Chen Jin bisa melengkapi kuota maksimal Pebulutangkis China di Wembley, jadi kemungkinan Lin Dan akan berbuat seperti di Final Singapore Open 2011 lalu, saat Lin Dan memutuskan Walkover dan menyerahkan gelar ke Chen Jin.

Jika Lin Dan memutuskan menyerah dari Chen Jin, dia kemungkinan bisa melaju ke Final karena lawan di Semifinal kemungkinan adalah rekan senegaranya, Chen Long. Jika Chen Jin menjadi setidaknya Runner Up, peluang Chen Jin menggeser posisi Peter Gade di posisi 4 Dunia semakin besar, sehingga menangguhkan dominasi China di Bulutangkis.

But, syukurlah itu hanya skenario, karena kenyatannya Taufik kemarin berhasil mengalahkan Chen Jin 21-19, 21-19. Memang dilihat dari performa nya, Chen Jin hanya sampai babak kedua di Jerman dan All England. Mungkin sudah tua dan prestasi puncaknya hanya sampai Perunggu itu.

Mengumpulkan poin untuk diri sendiri

Taufik Hidayat juga memikirkan diri sendiri, semakin jauh bertanding, semakin tinggi poin di dapat. Apalagi selevel All England, turnamen tertua.

Kuarterfinal kali ini Taufik menjajal Unggulan kedua asal China, Lin Dan. Dari 12 kali bertemu, Taufik kalah 9 kali. Taufik pun menang terakhir kali di Asian Games Doha 2006, ketika itu sudah memakai sistem rally poin.

Semakin hari, kariernya menurun, sepertinya ia sekarang menikmati diri sebagai pebulutangkis sebelum meninggalkan court badminton. Bahkan ia tidak ngotot ketika dirinya terlempar dari Top 10 BWF Ranking.

Dan kali ini adalah momentum bagus bagi Taufik. Sebagai underdog, seharusnya Taufik sudah kenal luar dalam permainan Lin Dan. Semoga Taufik bisa memberi perlawanan berarti.

Taufik incar Gelar pelengkap

Taufik pun juga punya ambisi untuk gelar ini meskipun kemungkinannya kecil. Taufik inginkan Gelar All England yang kini menjadi turnamen kasta tertinggi Superseries Premier bersama dengan Korea Open, Indonesia Open, Denmark Open dan China Open.

Taufik sendiri belum bisa mengikuti jejak Rudi Hartono atau pun Liem Swie King. Di All England, Taufik hanya puas sebagai Runner Up dalam ajang Bulutangkis tertua.

Di Tahun 1999, dirinya berhasil mencapai Final, namun kalah dari Peter Hoeg Gade dengan skor 11-15, 15-7, 10-15. Kejadian serupa terulang setahun kemudian di All England 2000, kali ini Taufik kalah cukup telak dari Xia Xuanze dari China dengan skor 6-15, 13-15.

Simpati terhadap Gade

Peter Hoeg Gade punya cerita dari Birmingham. Pebulutangkis Ranking 4 Dunia itu kalah dari Pebulutangkis tuan Rumah, Rajiv Ouseph dengan skor 21-17, 16-21, 14-21.

Ada cerita unik dibalik kekalahan Gade ini. Ia menunggu selama berjam-jam untuk menunggu waktu mainnya. Kala itu sebenarnya sudah dipersiapkan 5 court, namun peraturan Superseries bahwa hanya 4 court yang diperbolehkan. Jadi, jadwal pertandingan menjadi molor dan penonton pun sudah mulai merayap pulang.

Gade sendiri pun kecewa dan marah karena penonton yang ingin menonton dirinya ternyata lebih dulu pulang. Itu pun membuatnya tidak fokus dan kalah di Babak awal. Ia protes kepada BWF.

Gade adalah salah satu pemain legenda dalam dua dekade ini. Ia pernah menduduki Ranking 1 di tahun 1997 namun prestasinya di dua olimpiade tidak begitu mengesankan. Namun, Pada Olimpiade, baik di tahun 2004 atau 2008, Gade selalu kalah di Kuarterfinal, dari Gold Medalistnya.

Di Athena ia dikalahkan Taufik di Perempat Final dengan skor 12-15, 12-15 (kala itu Taufik berhasil meraih emas) sedangkan di Beijing ia juga hanya sampai Kuarterfinal dan dikalahkan oleh Lin Dan (peraih Emas kala itu) dengan skor 13-21, 16-21.

Dilihat dari hal ini, Taufik pun mencoba mengobati kekalahan Gade dengan menaklukkan Chen Jin dari China. Jadi, pergeseran poin tidak terlalu banyak bagi Chen Jin maupun Gade. Ranking mereka pun diperkirakan tak jauh berubah.

Taufik sempat protes kala melawan Kevin Cordon di Birmingham pada Rabu malam. Ia menunggu juga berjam-jam, namun menurut tuturannya, ia sempat kelaparan dan gemetar tangannya menunggu jam tanding ini.

Pertandingan Babak pertama bahkan sampai menunjukkan waktu pukul 3 dini hari waktu Birmingham atau sekitar pukul 10 pagi. Semoga di pertandingan selanjutnya tidak selarut ini…

salam duaribuan…

Iklan