Mengenang Olimpiade 2008 dan Menatap Olimpiade 2012

INVESTIGASI MARET 2012

” MENGENANG OLIMPIADE 2008 “

© duaribuan 2012

Gelaran terbesar tahun ini, Olimpiade 2012 akan segera dilaksanakan di London mendatang. Semua negara bersiap mengirimkan wakilnya dan menunjukan perkembangan olahraga masing-masing negara setelah 4 tahun gelaran Olimpiade lalu.

File:Beijing 2008 Olympics logo.svg

Gelaran besar tahun 2008 digelar di Beijing, China. Ini kali pertama China menjadi tuan rumah pesta olahraga sedunia itu. China yang sering ditobatkan sebagai Juara Umum Olimpiade itu akhirnya juga mentasbihkan diri kembali sebagai peraih medali terbanyak di Olimpiade 2008. But, kita gak akan lihat perjalanan China, cz Mengenang Olimpiade 2008 kali ini kita tunjukkan buat Indonesia.

Indonesia lewat KONI kala itu (belum KOI) mengirimkan 24 atlet dari 7 cabang olahraga ke Beijing, China. 7 Cabor itu adalah Panahan, Atletik, Bulutangkis, Layar, Menembak, Renang dan Angkat Berat.

Tahu tidak, faktanya ada 3 peserta yang meraih tiket ke Beijing lewat Wildcard dari International Olympic Comittee. 3 atlet yang mendapatkan wildcard yakni Dedeh Erawati (Atletik), Yosefin Shilla Prasasti (Menembak) dan Fibrina Ratnamarita (Renang).

Pendulang medali ada di dua cabor, Angkat Berat dan Bulutangkis. Indonesia membawa pulang 1 emas, 1 perak dan 3 perunggu. Mereka adalah sebagai berikut.

  1. Markis Kido/Hendra Setiawan [Badminton MD Gold Medalist]
  2. Nova Widianto/Lilyana Natsir [Badminton XD Silver Medalist]
  3. Eko Yuli Irawan [Weightlifting Men’s 56 kg Bronze Medalist]
  4. Triyanto [Weightlifting Men’s 62 kg Bronze Medalist]
  5. Maria Kristin Yulianti [Badminton WS Bronze Medalist]

Hasil pencapaian terbaik itu menempatkan Indonesia di ranking 42 Dunia. Di ASEAN, Thailand menduduki Rank 1 dengan 2 emas dan 2 perak disusul Indonesia 1 emas, 1 perak dan 3 perunggu.

Untuk diketahui, Malaysia mengirimkan 33 atlet namun hanya mendulang 1 perak lewat Lee Chong Wei. Hal ini sangat mengenaskan. But, kita bakal lihat 2 cabor peraih medali Olimpiade 2008.

Weightlifting

4 Lifter Indonesia berhasil lolos ke Beijing. Posisi Indonesia semakin diperhitungkan, apalagi kuota Indonesia di 2012 nanti naik menjadi 5 Lifter. Ini merupakan salah satu kesempatan yang baik.

Pelifter Indonesia itu antara lain Eko Yuli, Triyatno, Edi Kurniawan, Shadow Nasution. Keempatnya turun di nomor berbeda namun punya prestasi sendiri di nomornya.

Sebut saja Eko Yuli Irawan yang turun di nomor 56 kg. Berumur 23 tahun, ia pernah menjadi Silver Medalist Kejuaraan Dunia Junior tahun 2006 dan menjadi Gold Medalist setahun kemudian.

Karier junior cemerlangnya membawanya ke tingkat Kejuaraan Dunia, ia menjadi Silver Medalist di Kejuaraan Dunia 2009 dan Bronze Medalist di Kejuaraan Dunia tahun 2007 dan 2011. Mengingat umurnya masih muda, ia pun berhasil lolos ke Shenzen dan di Universiade 2011 namanya tercatat sebagai Gold Medalist. Jelang Olimpiade 2012, ia punya Prestasi baik untuk mendulang medali di London mendatang. Semoga prestasi baik diraihnya lagi.

Nama yang kedua Triyanto, dia peraih Bronze Medal di Olimpiade 2008 serta di Kejuaraan Dunia 2009 dan 2010. Shandow Nasution adalah Peraih Runner Up Asian Weightlifting Championship 2007 lalu. Kemungkinan Triyanto dan Eko Yuli masih bisa dimasukkan dalam list Lifter Indonesia di London mendatang.

Badminton

Bulutangkis mengirim skuad terbanyak di Olimpiade kali ini. Memang cabor paling menjanjian mendulang medali bagi Indonesia di Olimpiade adalah Bulutangkis. Berikut list skuad Tim Bulutangkis Indonesia di Beijing.

  • Men’s : Taufik Hidayat [MS], Sony Dwi Kuncoro [MS], Luluk Hardiyanto [MD], Alvent Yulianto [MD], Markis Kido, [MD] Hendra Setiawan [MD], Flandy Limpele [XD], Nova Widianto [XD]
  • Women’s : Lilyana Natsir [WD-XD], Vita Marissa [WD-XD], Maria Kristin Yulianti [WS]

Dari Tunggal Putra, Taufik langsung gugur di babak awal oleh Wong Choong Hann dari Malaysia straight set 19-21, 16-21. Hal yang serupa dengan Taufik diawali Luluk hardiyanto/Alvent Yulianto dan Vita Marissa/Lilyana Natsir. Luluk/Alvent kalah dari Keita Mashuda/Tadashi [JPN] rubber set 21-19, 14-21, 14-21 sementara Vita/Natsir kalah dari Zhang Wei/Yang Jiawen [CHN] dengan straight set 19-21, 15-21.

Sony Dwi Kuncoro punya cerita sendiri. Si Perunggu Olimpiade Athena 2004 ini mencoba suksesi ulang 2004. Namun, perjuangannya terhenti di Kuarterfinal. Runner Up Kejuaraan Dunia 2007 ini dikalahkan musuh bebuyutannya Lee Chong Wei 9-21, 11-21.

Yang tak terduga Maria Kristin Yulianti dari Indonesia meraih perunggu sekaligus mengembalikan prestasi Tunggal Putri Indonesia yang sering diremehkan. lawannya pun tak tanggung-tanggung. Kristin sempat gagal lolos dari serangan Juliane Schenk [GER] di Round of 64. Tapi ternyata Kristin diberi keajaiban mengalahkan Schenk 18-21, 21-13, 22-20. di Round of 32, Kristin bertemu lawan yang lebih mudah, Yoana Martinez. Kristin [ESP] menang 21-9, 21-14. 1 Tiket Round of 16 didapatnya.

Di Perdelapan Final, ia harus bertemu Tine Baun yang kala itu masih bernama Tine Rasmussen [DEN]. Tine dikalahkannya 18-21, 21-19, 21-14. Tine yang masih muda dan diunggulkan di tempat keenam dilibasnya. Untuk diketahui, kala itu Maria memiliki Ranking 21.

Kristin melaju ke Kuarterfinal dan dipertemukan dengan pemain muda berbakat Saina Nehwal dari India. Kristin yang sudah malang melintang dan lebih senior memanfaatkan kesempatan itu dan menang rubber 26-28, 21-14, 21-15. Tiket Semifinal didapat.

Kali ini ia dirubung oleh para pebulutangkis China, Zhang Ning, Xie Xingfang dan Lu Lan. Kristin pun harus kalah oleh Zhang Ning di Semifinal. Kristin kalah 15-21, 15-21 karena banyak melakukan error sendiri. Zhang Ning sendiri berhasil mempertahankan medali emas yang diraihnya tahun 2004 saat melawan Mia Audina dari Belanda.

Kejadian Olimpiade 1992 kala Pasangan Medali Emas Tunggal, Susi Susanti dan Alan Budikusuma menikah hampir terjadi di Olimpiade 2008. Lin Dan yang saat telah mempersunting Xie Xingfang seharusnya bisa mengawinkan medali emas, namun Lin Dan yang meraih emas tak diikuti Xie Xingfang yang kalah dari Zhang Ning di Gold Medal Match lalu, yang membuatnya hanya meraih Medali Perak.

Kembali ke Kristin, kalah dari Zhang Ning bukan berarti kehilangan kesempatan medali. Bronze Medal Match dihadapinya. Kali ini lawannya Lu Lan yang di tahun sebelumnya dikalahkan Maria. Kali ini lebih parah, Lu Lan kalah di depan publik Beijing (China), kala Olimpiade (Pesta Olahraga Tertinggi) dan oleh Pemain Nonunggulan asal Indonesia, Maria Kristin.

Bermain apik di set awal, membuat Lu Lan memenangkan set pertama 21-11. Publik Beijing mungkin sudah berpikir, 3 medali Tunggal untuk China. But, permainan Lu Lan makin menurun di set kedua, tak terduga Kristin menang 21-13. Permainan Lu semakin jelek dan tak menunjukkan bahwa ia pernah menduduki Ranking 1 Dunia.

Kristin membuat publik Beijing tercengang, Queen of Three Games ini berbalik di atas angin, unggul 15-8 di set pertama, Kristin makin melaju ke 18-8. Di angka 18, Lu Lan berbalik bangkit dan disemangati publik Beijing. 19-14 sampai 20-15, Lu mendekat. Lu Lan frustasi. Smash silang Lu Lan saat keadaan Bronze Medal Point untuk Maria Kristin Yulianti ternyata keluar dari garis lapangan, Kristin menang. Publik Beijing tercengang. Kristin menang 11-21, 21-13, 21-15. Perunggu untuk Indonesia.

Hal unik kala itu terjadi ketika Maria menang, ia menyalami sang pelatih Hendrawan (kala itu masih di Pelatnas, sekarang di Malaysia, jadi pelatih Mohd Arif Abdul Latief yang beberapa waktu lalu mengalami cek cok dengan Asosiasi Bulutangkis Malaysia dan tidak dikirim ke turnamen All England dan Swiss Open padahal prestasinya di Junior cukup bagus). Sedangkan ekspresi Kristin hanya datar namun ketika diminta menghadap kamera, ia pun tersenyum sambil menggenggam tangan tanda kemenangan. Lalu ia menyalami Lu Lan yang kembali dengan menutup hidungnya, ia menangis.

Hal yang lebih baik dilakoni oleh Indonesia lewat Markis Kido/Hendra Setiawan. Masih bertitel Ranking 1 dan diunggulkan di tempat pertama, Markis/Hendra menemui lawan yang tidak terlalu berat. Pertandingan yang benar-benar terjadi ketika Markis/Hendra bertemu dengan Cai Yun/Fu haifeng di Gold Medal Match. Di set awal, Markis/Hendra kalah 12-21 dari Cai/Fu. Di set kedua, Markis/hendra menunjukkan kelasnya dan menang 21-11 dan berbalik menang di set ketiga 21-16.

Kido yang saat posisi kemenangan berada di depan langsung tertunduk sedangkan Hendra langsung memeluk sang pelatih. Saat prosesi Victory Ceremony MD, Bendera Indonesia dan Lagu Kebangsaan berkumandang, Kido dan Hendra berkaca-kaca, apalagi Kido yang tak bisa menahan haru akan kebanggaan.

Nomor Ganda Campuran ketika dua ganda Indonesia menempati unggulan 1 dan 3, Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Flandy Limpele/Vita Marissa berhasil melaju ke Semifinal. Nasib berbeda dialami dua pasangan ini. Nova/Lilyana yang ditempatkan diunggulan pertama bertemu dengan He Hanbin/Yu Yang dan menang cukup tipis.

Kala itu, Nova/Lilyana kalah di set pertama 15-21 dan dibalas kemenangan di set kedua 21-11. Di Set ketiga Nova/Lilyana dan Hanbin/Yu seimbang dan mulai mengalami tekanan masing-masing. Namun, Nova/Lilyana menang 23-21 sekaligus menghantarkan tiket Final. Di Final, tak terduga Nova/Lilyana kalah dari pasangan nonunggulan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dari Korea. Nova/Lilyana kalah 11-21, 17-21. mereka pulang sebagai Silver Medalist.

Flandy/Vita yang dikalahkan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di Semifinal harus melakoni laga Bronze Medal Match melawan He Hanbin/Yu Yang. Terjadi rubber. Flandy/Vita yang menang di set awal 21-19 dibalas He Hanbin/Yu Yang di set kedua 21-17 dan di set penentuan, He Hanbin/Yu yang di depan publik Beijing menang 23-21 sekaligus tidak mempermalukan tuan rumah di nomor Ganda Campuran.

Jelang Olimpiade 2012, kekuatan bulutangkis dan angkat besi Indonesia dibilang berbeda. Dan berikut beberapa ulasan dari Jelang Olimpiade 2008 dan Jelang Olimpiade 2012.

Weightlifting Championship Result

Indonesia dipastikan mengirim 5 wakil putra untuk Weightlifting Olympic 2012 di London. Saat ini, potensial medali diraih oleh Eko Yuli Irawan.

Di Kejuaraan Dunia 2011 lalu, Eko menyumbang 1 perak dan 1 perunggu di dua nomor berbeda. Di Nomor Putra 62 kg kategori Clean & Jerk, ia berhasil membawa perak dengan mengangkat 171 kg sedangkan kategori total, Eko Yuli Irawan hanya membawa perunggu lewat angkatan 310 kg. Wauw…

Angkat Besi Indonesia kemungkinan bisa meraih minimal perunggu lewat putra kebanggaan Indonesia ini. Semoga pasca pensiun, negara bisa menghormatinya sebagai Pahlawan Olahraga.

Menengok ke belakang, Di Kejuaraan Dunia 2007 (setahun sebelum Olimpiade 2008), Indonesia juga punya prestasi tersendiri sehingga bisa meloloskan 4 lifternya.

Kala itu (2007), Eko Yuli Irawan juga memberikan kekuatannya untuk 2 medali perunggu bagi Indonesia. Hingga pada 2008 saat Olimpiade, kado manis Kemerdekaan Indonesia diberikan Eko Yuli Irawan dan Triyanto lewat Perunggu Beijing.

BWF event Result of Indonesia

kasta tertinggi Bulutangkis adalah Bulutangkis di Olimpiade. Namun, cerminan event itu adalah Superseries dan berbagai event tinggi dari BWF. Sebut saja BWF Superseries yang dihelat sejak 2007.

Jelang Olimpiade 2008

Penampilan menakjubkan ditampilkan para Pebulutangkis Indonesia di tahun 2007, dari 12 turnamen BWF Superseries, Indonesia membawa pulang 8 gelar, yakni :

  • Singapore SS 2007 dan French Open SS 2007 lewat Flandy Limpele/Vita Marissa
  • China Masters SS 2007 lewat Vita Marissa/Lilyana Natsir (kala itu menang atas 3 ganda China dan 1 ganda Korea, termasuk Ganda Yang Wei/Zhao Ting Ting, pasca kekalahan itu, Yang/Zhao dipisah dan tukar pasangan, Yang Wei dipasangkan dengan Zhang Jiewen dan masih naik daun sedangkan Zhao Tingting hilang dari peredaran, karena Vita/Butet ini..)
  • Candra Wijaya yang berpasangan dengan Tony Gunawan yang sudah berkewarganegaraan Amerika Serikat menyumbang gelar pada Japan SS 2007
  • Dua Ganda Nomor 1 dari Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Lilyana Natsir sama-sama memenangkan 2 turnamen SS terakhir, yakni di China Open SS dan Hongkong Open SS untuk MD dan XD.

Tahun 2008, Jelang perhelatan Olimpiade, pemain Indonesia masih sangat diperhitungkan, apalagi duel Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Lilyana Natsir. Tercatat ada 6 turnamen yang digelar sebelum Olimpiade. dan dari 6 turnamen Superseries itu, Indonesia mengoleksi 4 gelar Juara. Ini kisahnya.

  • Markis Kido/Hendra Setiawan masih menunjukkan konsistensi dimana mereka berhasil menang di Malaysia SS 2008 dan Runner Up di Swiss Open 2008
  • Nova Widianto/Lilyana Natsir penyumbang gelar SS di Singapore Open 2008 dan Runner Up di All England.
  • Indonesia Open SS 2008 memberikan 2 gelar sekaligus pada Indonesia lewat Sony Dwi Kuncoro dan Vita Marissa/Lilyana Natsir.

Bahkan kala itu, Nova/Lilyana dan Markis/Hendra menjadi Leader Progress di BWF Superseries 2008. Di Kejuaraan Dunia BWF 2007, Indonesia berhasil membawa pulang 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu. Emas disumbang Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Markis Kido/Hendra Setiawan. Perak disumbang Sony Dwi Kuncoro yang di babak kuarterfinal berhasil melibas Lee Chong Wei serta Perunggu oleh Vita Marissa/Flandy Limpele yang dihabisi oleh Zheng Bo/Gao Ling di Semifinal.

Dan di Olimpiade lah, ternyata nasib masih baik memihak Indonesia, Tradisi emas masih bisa dipertahankan lewat Markis/Hendra.

Jelang Olimpiade 2012

Olimpiade 2012 ternyata punya kisah berbeda. BWF Superseries 2011 hampir didominasi oleh China. Indonesia ternyata hanya kebagian 2 jatah lewat Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir yang memenangkan Singapore SS dan India SS sedangkan di Indonesia SSP hanya meraih gelar Runner Up.

Memang perubahan besar di Pelatnas pada 2010 ketika beberapa pemain senior memutuskan keluar dari Pelatnas, yakni Alvent Yulianto, Nova Widianto, Vita Marissa, Flandy dan beberapa pebulutangkis seperti langsung membobrokkan bulutangkis Indonesia.

Di tahun 2011, tercatat di level Superseries, hanya 4 pasangan pemain yang punya kelas, yakni :

  • Angga Pratama/Ryan Agung Saputra yang mencacatkan prestasi menjadi Runner Up MD India Open SS.
  • Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet yang menjadi Runner Up India Open SS.
  • Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir yang menjuarai India Open SS, Singapore Open SS dan Runner Up Indonesia Open SSP.
  • Muhammad Ahsan/Bona Septano menjadi Runner Up di Japan Open SS.

Selebihnya, pemain Pelatnas hanya berkutat di Papan tengah Ranking BWF. Pemain Nonpelatnas juga menunjukkan prestasi lain, ada Taufik Hidayat (Runner Up Malaysia SS), Alvent Yulianto/Hendra Aprida (Runner Up Singapore Open SS) dan Vita Marissa/Nadya Melati (Runner Up Indonesia Open SSP).

Di Kejuaraan Dunia 2011, Indonesia mencatatkan prestasi yang cukup membanggakan dengan 2 perunggu, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir yang menjadi unggulan kedua ternyata kalah dari pasangan tuan rumah di Semifinal, sehingga mereka hanya pulang dengan perunggu. Di Ganda Putra, Muhammad Ahsan/Bona Septano juga menorehkan perunggu. Ahsan/Bona sendiri berhasil melaju ke Semifinal mengalahkan beberapa pebulutangkis ternama, Chai Biao/Guo Zhendong dan Mathias Boe/Carsten Mogensen meskipun kalah oleh Ko Sung Hyun/Yoo Yeon Seong di Semifinal.

Memburuknya prestasi Indonesia karena lawan mudah sekali membaca permainan pebulutangkis membuat kans Indonesia untuk emas Olimpiade makin tipis. Dua turnamen Superseries di tahun 2012 tak juga mencatatkan prestasi baik. Paling pol hanya Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir yang mencapai Semifinal Malaysia SS 2012, itu pun saya kira karena mereka sebagai unggulan dan setiap drawing mereka akan dipertemukan dengan non unggulan.

Jika diprediksi, Tontowi/Lilyana mungkin bisa melaju ke Semifinal di Olimpiade 2012, sehingga kans Bulutangkis masih bisa mendapatkan emas, namun sistem pertandingan di Olimpiade 2012 berbeda dengan Olimpiade 2008.

Sistem Round Robin akan dipertandingkan. Tontowi/Lilyana mungkin bisa sampai ke Semifinal, namun jika mereka masih diunggulkan di tempat keempat, mereka akan bertemu dengan unggulan 1 yang mungkin bakal ditempati Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Keunggulan Tontowi/Lilyana ini mungkin bisa dipraktekkan di sektor lain. Lilyana yang sudah senior dan malang melintang bersama Nova Widianto, dipasangkan dengan pasangan baru, membuat lawan masih buta permainan mereka sehingga Lilyana bisa menang.

Skenario ini bisa dipergunakan untuk pemain senior seperti Greysia Polii yang masih berpotensi di Pelatnas untuk dipasangkan, misalnya dengan pemain muda. Kesulitannya Greysia Polii memang sulit sukses dengan pasangan tertentu. Tercatat sukses Greysia ditorehkannya bersama Jo Novita, Nitya Krishinda Maheswari dan Meiliana Jauhari.

Olimpiade 2012 sudah didepan mata, hanya bisa mematangkan pemain yang sudah terkualifikasi dan menunggu keajaiban layaknya Maria Kristin Yulianti. Ahsan/Bona punya peluang jika mereka bisa konsisten dalam permainan. Yang terpenting, junjung tinggi sportifitas…

investigasi 2000an © duaribuan 2012

Iklan