Love U-16 [Under 16]

Amanda termenung memandang langit-langit kamarnya. Ia sedang memikirkan seseorang, Junot namanya. Kakak kelas tampan yang dijumpainya tadi.

Kemarin sore, Amanda yang tomboy sedang main basket. Seperti biasa Janter menemaninya. Janter lah yang selama ini, Amanda anggap sahabat sejatinya. Sejak SD, mereka sudah berkawan. Asam manis persahabatan pernah mereka rasakan dalam 7 tahun pertemanan mereka.

Mereka saling kenal luar dalam. Janter adalah lelaki Manado yang pindah bersama keluarganya ke Jakarta karena ayahnya ada bisnis. Sedang Amanda, Putri salah seorang Anggota DPR, karena kesibukan ayah bundanya, Amanda tumbuh sebagai cewek tomboy.

Di SMA kini, mereka yang berbeda kelas sering berjumpa ketika bel istirahat berdenting. Suatu ketika, sepulang sekolah, Janter tidak bisa mengantar Manda. Amanda pun pulang jalan kaki.

Berjalan di trotoar, Amanda memperlihatkan ketomboyan-nya. Tak sadar melihat, Ia disrempet motor, Manda jatuh. Si pengendara pun memutar arah dan mendekati Manda. Pria itu mengenakan jaket kulit, Celana SMA dan motor Vixion. ‘keren’ batin Manda, masih sempat ia mengatakannya ditengah kesakitan itu.

Pria itu turun, ia mendekati Manda, membuka helm. Beberapa saat, Manda memandang wajah Pria itu, ‘tampan’ ujarnya lirih.

“Kau tidak apa-apa?” Ujar sang pria memperlihatkan giginya putih yang berbaris rapi itu. Manda masih diam terkagum akan sang pria
“hei… Kau tak apa?” tanya si pria sambil mengibas-ibaskan tangan ke muka Amanda.
“oh.., ah., sakit, gila lu..” Manda sadar lalu memaki-maki si Pria
“Yang sakit yang mana? Kita ke rumah sakit aja..” Ucap pria sambil menggendong Manda ke motornya dan mengantar ke Rumah sakit, Manda hanya bisa menatap kagum

Selesai pemeriksaan..
“Dia hanya kesleo, mungkin harus istirahat dalam beberapa hari”, Ucap dokter pada Pria itu.

Selesai mengurus administasi, Pria itu menemui Manda
“Lo cuma butuh istirahat beberapa hari, maaf ya” bilang Pria sambil memberikan minuman.
“Aku yang salah jalan kok, kenalin aku Manda”, Manda tiba-tiba berubah manis
“Gue Junot, kita satu SMA kan? gue kelas XI, lo yang dibilang anak pejabat DPR itu kan?”
“Ya, kakak tahu saya?”
“siapa sih yang gag tau cewek secantik kamu, yuk pulang”

Manda terbengong dibilang cantik, mereka berjalan cukup lama karena Junot harus memapah Manda. Ketika sampai lobi, Junot tak sabar, ia gendong sampai Parkiran lalu tancap gas.

“lo mau jatuh? Pegangan yang kuat, rumah lo kan jauh dari sini” Ucap Junot membuka helmnya. Reflek Manda memegang pundak Junot

Tiba-tiba Junot ngebut dengan kencang, pegangan tangan Manda pundak junot terlepas, Manda pun memeluk Junot.

Sesampainya di rumah, Junot memapah Manda ke kamar. Pembantu Manda di rumah khawatir.
“maaf ya bik, tadi aku nyempret Manda, Ibu atau ayahnya Manda ada?”
“gag ada orang di rumah den, terima kasih mengantar Manda ya”
“ya bi, saya pulang dulu ya?”
“ya sudah”

Dalam Kamar, Manda tersenyum-senyum membayangkan kejadian itu. Keesokan harinya, Manda bangun. Ia ingat, hari ini ia harus istirahat. ia pun tidur lagi.

Siang harinya, Bibi mengetok pintu kamar Manda
“Non, bangun, ada tamu”
Manda pun bangun, ia pikir yang datang Junot.

Setelah turun, ternyata Si Janter yang datang.
“tumben lo gag masuk, kenapa? tanya Janter
“nih, lihat, ganggu tidur gue aja lu” jawab Manda
“oh, abis ngapain bisa diperban gitu?” tanya Janter lagi

tiba-tiba ada suara motor datang, Manda mendekati jendela, ‘oh, Junot’
“Lu sembunyi bentar gih… Ada pujaan hati gue”
“pujaan hati siapa?” cecar Janter
“udah sana nyingkir bentar”

ting.. Tong.. Suara bel berdentang, Bibi yang datang disuruh Manda membuat 2 gelas jus. Sebelum membukakan pintu, Manda memeriksa penampilannya.

Saat Membuka pintu.
“Eh, Junot, masuk deh”
“ini buat kamu”, Ucap Junot memberikan tas berisi buah.
“gag usah repot juga”
“gue cuma mau ngepastiin aja kamu masih sehat”
“gue masih sehat kok, lihat nih” ucap Manda sambil meloncat, namun hampir jatuh. untung ada Junot yang siap menopang Manda. Janter yang melihat mereka dari jauh terasa panas hati.

Beberapa hari berjalan, Junot bersama Manda. Janter jarang bertemu Manda lagi, sampai suatu hari.

Kala itu, Manda meminta Janter untuk datang, ia mau curhat. Janter pun datang dan masuk ke kamar.
“jan, gue cantik gag?”
“apa? Ngapain kamu tanya gitu”
“Junot selalu aja ngomongin beberapa cewek, bahkan mantannya. Aku berpikir, apa aku cantik?”
“kamu tentu cantik, semua tahu itu”
“Jan, aku boleh minta tolong gag”
“minta tolong apa?”
“buat aku cantik!”
Janter terkejut
“Serius, dulu kamu bilang kamu suka jadi tomboy?”
“Demi Junot, aku akan lakukan apapun untuk membuatnya mencintaiku, aku ingin cantik”

Janter pun bersedia membantu meski sedikit kecewa karena Junot lah yang dicintai Manda.

Keesokan Harinya, Janter membawa Manda ke salon. Ini kali pertama Manda menginjakkan kaki di Salon. Ia gugup, Janter menenangkannya. Janter menemui pemilik salon kenalannya. Ia memperkenalkan Manda dan meminta ia membuat Manda menjadi wanita yang cantik.

Janter menunggu sambil membaca koran. Satu jam, dua jam, Janter tertidur. Mukanya tertutup majalah. 4 jam kemudian, Janter terkejut, koran di mukanya diambil. Janter mulai mengucek matanya. Mencoba melihat, namun ia terkejut melihat sosok di depannya.

Didepannya berdiri sosok wanita dengan gaun putih, jenjang, bersih, wajahnya cantik dan rambut yang tergerai sebahu. Janter tak berkedip. Mulutnya menganga. Ia pun tersadar karena celetukan Manda.
“hei jan, ini gue, jangan mangap begitu”
“eh, iya, yuk pulang” ucap Janter mengalihkan pandangan
“hello, duit gue elo yang bawa, bayar tuh!”
“oh, iya, lupa..”

Mereka pulang, Janter tak berani memandang Manda, memegang setir, jantung Janter berdegup kencang. Sesampainya di rumah Manda. Janter langsung pulang. Ia berkeringat, ia gugup.

Sehari setelahnya, Janter siap kembali mengubah Manda.
“Man, sekarang pelajaran kedua, mempermanis” ucap janter masuk kamar memegang tumpukkan buku. Manda masih tidur.
“Ya ampun, cewek jam segini masih tidur, percuma gue ke Salon mahal-mahal”, teriak Janter yang membuat Manda terbangun sambil menggaruk rambutnya.
“mandi sana, cepet”

Satu jam, Manda sudah keluar kamar mandi. Janter ngomel.
“kamu mandi apa tidur?”
“ya mandi lah, masak gue tidur di kamar mandi?”
“udah, ambil sepatu itu, cepet!”
“gag usah ngomel juga”
Amanda memakai, Janter menegakan cara berdiri Manda dengan sedikit gugup.

Ia mengajari Manda cara berjalan yang anggun, cara bicara, cara duduk dan beberapa hal yang disukai pria. kurang dari sebulan, Manda berubah dari cewek tomboy menjadi cewek cantik yang feminim.

Suatu hari, Manda menelpon Junot untuk meminta bertemu. Junot bersedia. Dalam pertemuan itu, Junot terkejut memandang penampilan Manda.
“kamu tambah cantik”, ucap Junot pada Manda. Manda senang mendengarnya. Tak sia-sia pengorbanan Janter.

Di tempat lain Janter bersama kawan-kawan basket, tanpa Manda.
“jan, akhir-akhir ini Manda gag pernah latihan, kemana?” ucap Erik, sang Kapten Basket SMA mereka.
“Gag tau tuh, keluarin aja! Gag guna tahu! Gue pulang aja dah” jawab salah seorang anggota yang pulang. Beberapa teman lain pulang.

Disana Janter dan Erik sendiri. Erik mencoba bertanya pada Janter.
“kamu pasti tahu kemana Manda?”
“dia udah punya pilihan” jawab Janter
“pilihan?” tanya Erik sekali lagi?
Janter tak menjawab dan langsung berlalu. Erik sadar, Janter kecewa.

Manda dan Junot sedang bersama di suatu taman.
“Man, gue mau jujur tentang perasaan gue?” tanya Junot
“boleh aja kok, ada apa?” jawab Manda yang jantungnya berdegup kencang berharap akan ditembak.
“mau gag kamu menjadi pacar gue?” ucap Junot yang mencoba memakaikan cincin pada Manda. Manda tersanjung. Namun, tiba-tiba meja digebrak.
“oh, ini yang lo bilang nganter nyokap?” teriak seorang wanita muda seumuran Manda dilanjutkan menamparnya.
“Jan, apa maksud ini?” tanya Manda.
“gue gag kenal dia, kita pergi aja yuk” ucap Junot menarik tangan Manda.
“oh, gini ya, dasar pengecut, kita putus, dan buat lo, cewek jelalatan, lo gag lebih baik dari para PSK.” teriak marah si cewek yang ternyata pacar Junot.
“eh,mbak, siapa mbak marah sama saya?”
“nih, gue kasih.. Dia pacar, oh bukan, Mantan Pacar Gue mulai detik ini” ucap cewek itu sambil memberi foto Junot yang mencium pipi cewek itu. Manda berlinang.
“apa ini? Dasar cowok bangsat!! Elo kejem.. Gue berubah buat elo..”
“maaf, bukan maksud gue.. Maaf” ucap Junot. Manda bangkit menghapus air mata, ia lepas pelukan Junot. Ia tampar pipi Junot. Ia pulang.

Sampai di gerbang rumah, Manda masih berjalan termenung dengan make up yang berantakan. Di gerbang ia berpapasan dengan Erik. Erik pun turun dari motor. Manda tak melihatnya.

“Man, gue nyariin elo… Eh, lo abis nangis? kenapa?” tanya Erik. beberapa menit, Manda hanya diam. Erik membawa Manda ke dalam.
“Junot rik.. Junot jahat..” ucap Manda lirih.
“apa? Junot? Dia ngapain kamu?” Manda termenung
“Gue bakal beresin dia besok, gue Janji.. Sebelum pulang, gue juga mau bilang, Janter mau pindah ke Bandung”
Manda terkejut mendengarnya.
“apa? gimana? Kenapa?”
“orang tua mereka pindah ke Bandung, tadi pagi gue di SMS, mungkin sebentar lagi berangkat. Tadi gue kesini ngabarin elo..”
“anterin gue kesana rik..”

Dalam perjalanan, Erik menceritakan keluh kesah Janter.
“dari dulu, sebenarnya dia suka sama lo, dia bahkan rela minta Junot buat ketemuan sama lo, mengubah elo, Dia rela elo sama Junot”, Manda menangis mendengarnya.

Sampai didepan rumah, Manda membuka pintu dan langsung berlari. Janter mengunci gerbang. Ia terkejut Manda memeluknya.

“gue sayang sama lo jan, maafin gue, Junot bukan cowok yang tepat, elo yang paling tepat, plis, jangan pindah”

“dia ngapain elo man?” tanya Janter
“Junot playboy, gue lupa ingetin itu” cela Erik.
“Gue juga sayang lo man”
“elo bakal tetep pindah?”
“maafin gue, kalo kamu mau, tunggu gue 2 tahun lagi Man, gue akan bersamamu.”
“gue mau, gue bakal nunggu kamu jan”
“udah, jangan nangis, Manda yang gue kenal gag punya kata ‘nangis’ di kamus hidupnya” ucap Janter sambil mengusap air mata Manda. Mereka berpelukan.

2 tahun berlalu, Manda dan Erik menjalani Ospek di salah satu Universitas ternama. Kala istirahat, Manda duduk sendirian. Ia mendengar nada dering ponselnya. Ia membaca nama yang memanggil, itu Janter. Manda senang. Ia mengangkat.

“man, gue dibelakang lo”, Manda terkejut.
“what, are you really Janter?” Manda tak berkedip, 2 tahun di Bandung membuat Janter berubah.
“hey, lupa sama pacar?” ucap Janter yang mencoba memeluk Manda.
“ehem..ehem.. Ini Ospek apa acara Temu kangen ya?” cela Erik. Mereka tertawa.

……………

Cinta itu sangat Indah bagi Amanda dan Janter. Kekecewaan cinta Amanda dan Keikhlasan cinta Janter mempersatukan mereka. Kenalilah cinta sebagai sesuatu yang indah,.,

Iklan