Bakpao Pingping, FTV Terbaik FFI 2011

salam duaribuan…

Kemarin malam tahu kan? yang jadi sorotan, FFI 2011 Piala Vidia, kategori paling utama yakni FTV Terbaik ternyata jatuh ke tangan Bakpao Ping Ping, bagaimana sih filmnya? kalian pasti bertanya-tanya. Namanya FTV alias sinema lepas pasti hanya tayang sekali dan punya akhir, beda sekali dengan sinetron yang berbelit-belit dan kadang tanpa akhir atau malah berakhir dengan aneh. Disini gue bakal nyeritain Bakpao Ping-ping, siapa, apa saja yang menarik dan kesan setelah melihatnya…

Film Produksi PT. Demi Gisela Citra Sinema yang bekerjasama dengan SCTV dengan membikin Sinema Wajah Indonesia membuahkan hasil. Mereka meraih penghargaan FTV Terbaik di Piala Vidia FFI 2011. Selain itu, mereka juga menyabet 4 gelar lain.

Bakpao Ping Ping adalah salah satu Sinema Wajah Indonesia yang ditayangkan di layar SCTV Satu Untuk Semua. Film ini mengambil lokasi si Singkawang, Kalimantan Timur, tempat dimana kebudayaan Tionghoa sangat berkembang bahkan menjadi salah satu pusat tionghoa Indonesia.

A Seng (Fandy Kristian) adalah generasi kesekian dari penjual bakpao. Film ini mengambil tema tradisi Kimpoi kontrak Amoy Singkawang dengan pria-pria Taiwan. Di Taiwan pria-pria Taiwan sangat sulit menemukan jodoh karena perempuan-perempuan Taiwan tidak ada yang mau menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya pria-pria mencari perempuan Singkawang yang terkenal cantik dan penurut untuk dijadikan istri kontrak. Para perempuan yang menikahi pria-pria Taiwan itu disebut Amoy.

Banyak masyarakat tionghoa Singkawang berfikir bahwa Taiwan adalah tanah lelulur mereka namun perbedaan ekonomi yang jauh berbeda membuat banyak orang Singkawang bemimpi hijrah dan berbisnis di Taiwan.  Banyak masyarakat Tionghoa Singkawang hidup miskin sehingga Taiwan dianggap sebagai tanah impian namun karena Taiwan sudah menjadi negara maju, para pria Taiwan sulit menemukan calon istri yang penurut dan mau mengurus rumah tangga, itu sebabnya banyak pria Taiwan mencari Amoy ke Kota Singkawang.

A Seng memilih Ping-ping (Metta Permadi) sahabatnya sebagai calon Amoy meski belakangan A Seng yang diam-diam mencintai Ping-ping menyesalkan keinginan Ping-ping menjadi Amoy.  Rupanya sikap Apa yang menentang dan membenci Taiwan karena kemiskinannya yang pernah melilit kehidupan mereka menyebabkan dulu Apa ‘menjual’ istrinya menjadi Amoy ke Taiwan. A Seng akhirnya faham apa penyebab kebencian Apanya pada Taiwan. Abu Amanya yang dikirim bersama surat terakhirnya akhirnya disebar di Sungai Singkawang agar kembali bersatu dengan tanah kelahirannya. Kemiskinan memang menyakitkan, demikian kata mendiang Ama di suratnya. A Seng yang mencintai Ping-ping akhirnya berusaha mencegah kepergian Ping-ping yang bertekad menjadi Amoy ke Taiwan demi melepaskan hidup Ibu dan adik-adiknya dari kemiskinan.

Pingping tidak jadi menjadi Amoy dan akhirnya Ping-ping melarikan diri dari Taiwan dan bekerja keras untuk mengumpulkan uang demi bisa kembali ke Singkawang. A Seng memutuskan tetap hidup di Singkawang dan membesarkan warung bakpao Apanya yang kemudian dinamainya, Bakpao Ping-ping.

Yah, memang ironis menganggap tanah kelahiran sebagai wilayah kemiskinan. Namun itu kenyataan, fakta dan sebuah realitas. Harus kita akui, Taiwan lebih maju. Tapi, apa kita mau meninggalkan tanah kelahiran hanya demi uang? Lebih memilih menjadi manusia kaya di negeri orang atau negeri sendiri?

salam duaribuan…

Iklan