Inspire : Iman Kita yang Berbeda

malam semakin larut.. Seseorang mengetuk pintu kamar Aulia… namun, Lia, panggilan akrabnya tidak membukakan pintu. Lia hanya terdiam dipinggir kasur sambil menangis. Ia baru saja putus dari pacarnya.

Selama 4 tahun berpacaran, Lia dan sang pacar memang cukup akrab, bahkan terbilang cukup dekat. Orang tua mereka bahkan saling dekat karena memang mereka bertetangga. Namun, hari itu, Lia diputus oleh pacarnya tepat dimana mereka pertama kali berjanji menjadi pasangan.

Lia pun tertidur dalam tangis di pojok kamarnya. Keesokan harinya, ia terbangun karena dering jam wecker yang dipasangnya hampir setiap hari. Akhirnya, ia pun dengan rasa sakit hati mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Ia hanya diam menuju meja makan. Ketika sang bunda bertanya, Lia tidak menjawabnya. Ia pun berangkat ke sekolah, masih tetap terdiam.

Beberapa temannya mengkawatirkannya, hingga ia pun diantar pulang teman-temannya. Di perjalanan pulang, ia tak sengaja bertemu sang mantan pacar, ia pun tergopoh hingga terjatuh.

Beberapa jam kemudian…

Matanya mulai terbuka, akhirnya Lia tersadar. Ia melihat sang bunda sedang mengompresnya. Lalu ketika ia melihat sekeliling, ia melihat sang mantan duduk bersama temannya. Ia hanya diam.

Keesokan harinya, Lia terbangun, ia sudah menyiapkan hari ini. Hari dimana ia harus berubah, ia harus ke Gereja bersama Keluarganya dengan senang. Ia kelihatan mulai ceria, ketika keluar pun, ia nampak gembira.

Ketika sampai di Gereja, Lia dan keluarga tampak senang, mereka berdoa. Namun, ketika ia melihat sang mantan yang juga ada di sekitar gereja itu, ia juga menyalaminya dan menanyakan kabar, sang mantan terasa tidak enak sendiri.

Ketika selesai berdoa, Lia memutuskan untuk tinggal sebentar di Gereja. Ia akan pulang sendirian karena ia menggunakan motor. Ketika ia sedang berdoa, tiba-tiba dibalik kaca terlihat bayangan orang, sepertinya ia sedang membersihkan kaca di dinding Gereja.

Ia pun penasaran dan mencoba melihat ke arah itu, ia terkaget-kaget sampai ia hampir terjatuh namun seseorang itu memeluknya sehingga ia tidak jatuh. Di kejauhan, sang mantan melihatnya. Ada rasa yang berbeda, kata sang mantan dalam hati.

Lia pun bangkit bersama pria itu. Mereka pun berkenalan. Ternyata ia bernama Alan. Lia dan Alan pun terlibat dalam perbincangan unik.

“Lan, sejak kapan bersih-bersih alat disini?”

“udah hampir setahun, ditawarin yaudah nrima, apalagi saya cuman orang biasa, pekerjaan apapun gak masalah”

“Jadi, kamu tiap hari berdoa disini”

“Nggak mbak”

“Nggak? Trus? trus Gereja lain?”

“Saya Islam mbak”

“Apa? Coba ulang?”

“Gak denger ya? Saya Islam mbak”

“Waw… Kamu Islam? bagaimana bisa orang Islam kerja di Gereja?”

“Ya bisa lah mbak… penting halal.. Saya disini cuma bersih-bersih kaca, bangku, lantai dan berbagai alat”

“Oh,,, Rumah kamu dimana?”

“Dideket Gereja ini, walaupun tempatnya sedikit ngeri menurut saya mbak, tapi saya kerja hampir tiap hari”

“Gak usah panggil mbak kenapa?”

“Oh, ya, sekarang sekolah?”

“Ya, di SMA Bakti Jiwa”

“Ha? itukan SMA gue juga, lo juga sekolah di SMA kristen?”

“Mbak, saya disana keterima beasiswa, ya milih disana saja.. Apa aja asalkan gratis, saya mau.. Tapi saya ini jarang terlihat, di dalam kelas terus”

Perjumpaan itu membuat mereka semakin dekat.. Hampir setiap minggu mereka bersama. Di sekolah, tak jarang mereka berjumpa dan saling sapa. Di setiap sore sepulang sekolah, Lia semakin rajin pergi ke Gereja, paling tidak mengantarkan Alan ke tempatnya.

Beberapa kali ia menunggu, namun menunggu dengan senang, Alan sedang Sholat, beribadah kepada Sang Tuhan. Ketika Alan sedang Sholat, Lia pun dengan salib di lehernya, ia berdoa. Mereka bersama-sama beribadah, namun berbeda cara, dalam satu tempat yang sama, Rumah Alan.

Kedekatan mereka ini berlangsung sampai Ujian Nasional SMA. Mereka berdua lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Lia tidak pulang ke rumah dulu, ia pergi ke Gereja, tak hanya sekedar berdoa, ia menemui Alan.

Ketika Lia sampai di rumah Alan, ia melihat Alan sudah mengemasi barang-barangnya. Alan akan pergi.

“Lan, kamm.. kam.. kamu mau kemana?”

“Aku mau pulang kampung, uang yang kuterima dari gaji membersihkan Gereja sudah cukup untuk aku pulang”

“Tapi, kamu kan seharusnya bersamaku?”

“Bersama bagaimana mbak?”

“Kamu tidak tahu, aku setiap hari kemari”

“Ya, saya tahu, mbak kemari untuk berdoa kan mbak, mbak nggak mungkin suka ama saya yang begini ini”

“Tapi.. Aku sebenarnya suka kamu”

“Tapi mbak, saya gak mungkin bersama mbak, kita beda mbak, sangat jauh berbeda, teman mungkin bisa, namun mungkin kita hanya cocok jadi atasan dan bawahan”

“Tapi, aku suka kamu, pliss jangan buat aku sakit lagi gara-gara cinta”

“Tapi, saya tetap harus pulang”

“…………(menangis)”

“mbak? Baiklah, maafin saya mbak, saya sebenarnya juga mencintai mbak Lia, tapi kita akan bisa bersama, kita berbeda”

“Bukan Kita Yang Berbeda, Tapi Iman Kita, Kita Tetap Manusia yang Butuh Cinta…”

Iklan