Olympic Badminton Day 8

Korea dan Indonesia bernasib sama di Bulutangkis Olimpiade London 2012, sama-sama mengandalkan satu nomor untuk mendulang medali emas, malah pemain-pemain yang diandalkan meraih medali emas harus tersingkir di babak Semifinal. Setelah kemarin Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir, andalan Indonesia kalah di semifinal oleh Xu Chen-Ma Jin dan berimbas pada kekalahan di bronze medal match, kini giliran pasangan ganda putra Korea, Lee Yong Dae-Chung Jae Sung kalah di Semifinal.

Bertarung di Wembley Arena selama 83 menit, penampilan Lee-Chung tidak terlalu meyakinkan melawan pasangan Denmark Mathias Boe-Carsten Mogensen. Meski menang di gim pertama 21-17, mereka tidak konsisten dan terkesan tegang di gim kedua dan itu membuat pasangan Denmark bermain lebih baik dan memastikan terjadi rubber gim 21-18. Di gim penentuan, pasangan Denmark makin percaya diri sementara pasangan Korea makin dibawah tekanan. Sempat unggul 11-10 di interval gim, pasangan Korea terus tertinggal 13-17 namun bisa menyamakan kedudukan 18-18, 19-19 sampai 20-2o. Dua poin terakhir diamankan Boe-Mogensen untuk menang 17-21, 21-18, 22-20 dan memupuskan harapan Korea meraih medali emas di Bulutangkis Olimpiade.

Mathias Boe dan Carsten Mogensen pun melangkah ke Final Olimpiade nomor ganda putra dan memastikan setidaknya medali perak bagi Kontingen Denmark dari cabang bulutangkis. Ini akan menjadi medali kedua setelah kemarin Bulutangkis Denmark menyumbang medali perunggu lewat Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen di nomor ganda campuran. Di Final 5 Agustus mendatang, Boe-Mogensen akan berjumpa dengan unggulan pertama asal China, Cai Yun-Fu Haifeng yang mengalahkan Koo Kean Keat-Tan Boon Heong dengan skor 21-9, 21-19. Kekalahan ini membuat Koo dan Tan membidik medali perunggu melawan pasangan Chung Jae Sung-Lee Yong Dae yang kalah dari Boe-Mogensen di Semifinal lain. “Saya sangat menyesal tidak memenangkan pertandingan semifinal ini tetapi kompetisi belum berakhir. Kami berharap untuk mendapatkan medali perunggu besok,” ujar Tan Boon Heong usai pertandingan.

Semenjak dipertandingkan di tahun 1992, medali emas di nomor ganda putra dikuasai oleh Indonesia dan Korea. Dan Tahun ini akan ada negara baru yang akan mencetak sejarah di nomor ini, yakni China atau Denmark yang akan memperebutkan medali emas untuk kali pertama. Meski diatas kertas pasangan Cai-Fu lebih berpeluang, namun melihat performa Boe-Mogensen ketika menghadapi World No #1, Cai-Fu tidak akan menang dengan mudah. Di Beijing empat tahun lalu, Cai Yun-Fu Haifeng gagal meraih medali emas setelah dikalahkan oleh pasangan Markis Kido-Hendra Setiawan di Final. Kegagalan Chung-Lee ke Final membuka harapan pasangan ganda China untuk meraih medali emas sekaligus melengkapi 4 gelar Juara Dunia yang mereka koleksi. “Kami gagal untuk meraih emas di Beijing. Kami bekerja keras di 4 tahun terakhir untuk mempersiapkan London. Kami disini untuk membuktikannya,” ujar Fu Haifeng.

Meski kalah, Korea masih berpeluang mendapatkan dua medali perunggu yang akan mereka perebutkan pada Minggu mendatang lewat Lee Hyun Ill yang akan menghadapi Chen Long di tunggal putra serta Chung-Lee yang akan menghadapi Koo-Tan di ganda putra. Namun melihat kekuatan Chen Long serta efek kekalahan yang pasti akan menjatuhkan mental Chung-Lee, akankah Korea dapat meraih perunggu? jika tidak, Korea akan bernasib sama dengan Indonesia, sama-sama pulang tanpa medali, ditambah kasus ganda putri yang melibatkan 2 pasangan Korea serta pasangan dari Indonesia dan China. Memukul dunia bulutangkis kedua negara…

Secara khusus, keluarga Lee Yong Dae datang secara langsung melihat penampilan sang anak emas di Wembley Arena. Empat tahun lalu, ketika Lee Yong Dae membawa medali emas dari nomor ganda campuran bersama Lee Hyo Jung, keluarga Lee tidak menyaksikan sang anak langsung di Beijing. Namun ketika disaksikan langsung oleh keluarganya di Wembley Arena tahun ini, Lee berpasangan dengan Chung Jae Sung justru kalah dari pasangan Denmark.

Empat tahun lalu di nomor ganda putra, pasangan Denmark memupuskan harapan Chung-Lee, saat itu mereka kalah dari Lars Paaske-Jonas Rassmusen di babak pertama dengan straight set 16-21, 19-21 dan kini mereka kembali dikalahkan pasangan Denmark, Mathias Boe-Carsen Mogensen dengan 21-17, 18-21, 20-22. Ini menjadi olimpiade terakhir mereka berpasangan, karena Chung Jae Sung akan memutuskan gantung raket pasca Olimpiade ini. Atas kekalahan ini, Chung tak mau bersedih, ia menginginkan catatan baik untuk mengakhiri karir bulutangkisnya. “Kami menyesal tetapi kami butuh perubahan cepat dan fokus untuk bronze medal match. Ini akan menjadi pertandingan terakhir saya di karir bulutangkis saya dan saya berharap untuk mengakhiri karir dengan catatan baik,” ujar Chung mengomentari kekalahannya.

Podium Tak Terduga

Di bayangan kita, podium ganda putri akan berisi dua pasangan China dan satu pasangan Korea, namun ternyata salah. Justru bendera Jepang dan Rusia lah yang berkibar disamping bendera China yang masih tetap mendominasi medali emas sejak 1996. Kasus delapan pebulutangkis ganda putri yang diputuskan terdiskualifikasi lah yang membuat hal ini terjadi. 4 pasangan yang merupakan pasangan kuat dari 3 negara, yakni Wang Xiaoli-Yu Yang, Meiliana Jauhari-Greysia Polii, Ha Jung Eun-Kim Min Jung dan Jung Kyung Eun-Kim Ha Na dianggap tidak berusaha untuk memenangkan pertandingan, ini menciderai kode etik atlet Olimpiade.

Dan akhirnya, medali emas nomor ganda putri kembali diraih oleh pasangan Tian Qing-Zhao Yunlei yang mengalahkan pasangan Jepang Mizuki Fujii-Reika Kakiiwa dengan skor yang sangat mendebarkan 21-10, 25-23. Ini tentu penghargaan terbaik yang diraih oleh bulutangkis Jepang setelah empat tahun lalu, senior mereka hanya finish di posisi keempat. “Senior kami Maeda-Suetsuna memperlihatkan kami di Beijing bahwa Jepang bisa melakukan yang terbaik di event sebesar Olimpiade,” ujar Fujii mengomentari medali perak yang diraihnya. Zhao Yunlei membuat sejarah dengan menjadi orang pertama yang meraih dua medali emas di satu Olimpiade, sebelumnya Gao Ling nyaris mendahului Zhao namun di tahun 2004 itu, Gao Ling berpasangan dengan Huang Sui gagal di Final oleh Yang Wei-Zhang Jiewen.

Sementara itu, medali perunggu didapatkan oleh pasangan Rusia, Valeri Sorokina-Nina Vislova yang mengalahkan pasangan Kanada, Li Michelle-Alex Bruce dengan skor 21-9, 21-10. Meski kalah, ini merupan pengalaman yang luar biasa bagi Li Michelle. “Untuk berangkat dari bukan apa-apa ke perempat final dan jalan yang dilwati untuk perunggu, ini adalah pengalaman yang luar biasa.” Sedangkan bagi Sorokina, ini tentu hadiah yang berarti atas kerja kerasnya. “Kami berangkat dari yang dieliminasi lalu mendapatkan kesempatan kedua. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ini adalah pembuktian bahwa ada reward atas kerja keras,” ujar pasangan Alexandr Nikolaenko di ganda campuran.

Ini tentu menjadi nafas bagi Bulutangkis Olimpiade karena berhasilnya Rusia mendapatkan perunggu akan membuat pemerintah Rusia (salah satu negara maju yang berpengaruh) bersama-sama negara-negara bulutangkis untuk mempertahankan cabang olahraga bulutangkis untuk tetap eksis di kancah Olimpiade.

Perjuangan Yihan hanya berujung Perak

Setelah melalui perjuangan yang sangat melelahkan dari penyisihan grup hingga Final, Juara Dunia 2011, Wang Yihan harus menerima kekalahan atas kompatriotnya Li Xuerui di Final nomor tunggal putri. Malam itu, Li menang 21-15, 21-23, 21-17 atas Yihan. Ini adalah kesekian kalinya dimana Yihan harus puas duduk di peringkat kedua, takluk dari Li Xuerui, ia menangis saat itu. Sementara perunggu diraih oleh pemain berbakat asal India, Saina Nehwal.

Rasanya ini sama seperti yang terjadi di Olimpiade tahun 2008, diawali Dimana saat itu ada empat tunggal putri yang berada di 4 besar, yakni Xie Xingfang, Lu Lan, Zhu Lin dan Zhang Ning. Saat it Li Yongbo memilih Zhang Ning untuk tampil di Beijing dan tidak memilih Zhu Lin, sama seperti pemilihan Li Xuerui dan meninggalkan Wang Shixian. Zhang Ning dan Li Xuerui yang sebenarnya tidak terkualifikasi dan hanya menggantikan rekannya malah meraih medali emas, sementara favorit juara yakni Xie Xingfang malah gagal di Final oleh Zhang Ning, seperti kekalahan Wang Yihan dari Li Xuerui. Yihan sendiri mengucapkan selamat atas medali emas yang diraih oleh kompatriotnya itu. “Akhirnya saya meraih perak, saya merasa performa saya sudah baik hari ini namun saya harus mengucapkan selamat kepada Li Xuerui atas performa yang luar biasa dan medali emas yang diraihnya. Saya tidak sedih, hanya perasaan saya campur aduk. Saya akan berbagi kesuksesan ini dengan rekan kami yang terdiskualifikasi (Wang Xiaoli-Yu Yang – red).”

Sementara Wang Xin bernasib sama dengan Lu Lan. Harus kalah di Semifinal, dalam perebutan medali perunggu melawan pemain non China, yakni Saina Nehwal, ia harus mengalami cedera, seperti yang terjadi pada Lu Lan. Bedanya, Wang Xin memilih untuk retired sedangkan Lu Lan masih tetap bertanding melawan Maria Kristin Yulianti. Wang Xin mengalami cedera saat akhir gim pertama yang ia menangi, sayang rasa sakit itu bertambah di awal gim kedua, hingga akhirnya ia memutuskan retired, keluar lapangan pun harus dibopong oleh sang pelatih. Saina menang 18-21, 0-1 Retired.

China masih berpeluang meraih dua medali emas sekaligus menyapu bersih cabang olahraga bulutangkis di Olimpiade tahun ini. Jika hal itu terjadi, bulutangkis sedang terancam tidak dipertandingkan di Olimpiade delapan tahun mendatang (untuk Rio 2016 sudah pasti tetap ada Bulutangkis) karena kasus 4 pasang ganda putri yang menciderai sportifitas olahraga dan popularitas bulutangkis yang makin menurun karena hal itu.

About these ads