Bangkit di Poin Kritis
Arya Maulana-Edi Subaktiar memiliki mental juara, begitulah kira-kira kata yang pantas kita berikan kepada pasangan ini. Menjadi wakil satu-satunya merah putih di partai puncak, mereka menggondol gelar Juara setelah mengalahkan pasangan Taipei dengan permainan berdurasi 45 menit itu.
Melawan pasangan Lin Wang Chi-Lin Wu Hsiao mereka menang 17-21, 22-20, 21-10 melalui pertarungan yang cukup dramatis. Pasangan Taipei memiliki 3 kesempatan untuk merebut emas di Kejuaraan ini saat kedudukan match poin 20-17 di gim kedua untuk Taipei, namun mereka lengah sehingga pasangan Indonesia tancap gas mengambil gim kedua.
Pasca kebangkitan itu, mereka jauh meninggalkan pasangan Taipei di gim ketiga. Mereka semakin percaya diri dan balik menekan duo Lin ini. “Setelah memenangkan gim kedua, kami semakin percaya diri dan yakin bisa menang. Pada gim ketiga kami bisa mengeluarkan semua kemampuan terbaik kami” kata Edi.
Edi juga mengaku sempat pasrah ketika lawan sudah match poin, tetapi ternyata karena hal itu ia balik menang. “Kuncinya bermain lepas, nothing to lose. Kami sempat pasrah saat match point bagi lawan, tapi ternyata malah mainnya lebih lepas. Kebangkitan di poin kritis ini sebelumnya juga terjadi di babak Semifinal ketika Arya-Edi nyaris kalah dari unggulan pertama asal Hongkong, Lee Chun Hei-Ng Ka Long. Tetapi mereka berhasil bangkit di gim kedua dan menang 15-21, 26-24, 21-15.
Meski meraih gelar juara, Edi merasa tidak puas dengan penampilannya di lapangan saat babak Final itu. “Kami puas dengan hasil yang diraih di turnamen ini, namun belum puas dengan penampilan di lapangan”. Memang jika dilihat dari performanya, Arya-Edi sempat kewalahan menghadapi permainan Lin-Lin yang cepat dan sempat membuat mereka tidak bisa keluar dari tekanan.
Edi Syok

Ditanya mengenai kemenangannya ini, Edi seperti syok terutama mengenai keajaiban yang terjadi di gim kedua saat ia mengamankan 3 match point dan balik menang. ”Saya tidak bisa mengingat bagaimana kami melakukannya di akhir game kedua,” kata Edi dengan wajah yang cukup syok.
“Aku hanya terus berpikir ‘Saya bisa melakukannya, saya bisa melakukannya’ meskipun rasanya mustahil saat itu,” tambah Edi.
“Hari ini lebih sulit karena ini adalah final dan saya sangat ingin memenangkannya. Saya sangat takut. Saya tidak tahu mengapa.”
Sementara ke depannya ia berharap untuk bisa menjuarai gelar Juara Dunia Junior setelah meraih gelar Juara Asia ini. “Saya berharap saya bisa bermain lagi di Kejuaraan Dunia Junior dan mungkin memenangkan ganda campuran juga,” ucap Edi yang berulang tahun tiap tanggal 13 Januari.
Hal yang sama juga ditekankan oleh Arya ketika ditanyai atas kemenangannya. “Kami senang sekali bisa persembahkan gelar bagi Indonesia, semoga prestasi ini terus berlanjut kedepannya, terutama di Kejuaraan Dunia Junior 2012.”
Mamota, 2 Emas dan Tunik Kazakstan

Kejuaraan Asia Junior ini menjadi hal yang membahagiakan bagi Kento Mamota (kanan), karena di Gimcheon ia menjadi satu-satunya peraih 2 medali emas, yakni di nomor tunggal putra dan beregu campuran bersama tim Jepang lainnya. Di Final tunggal putra, ia mengalahkan Song Joo Ven dari Malaysia dengan 21-13, 22-20.
Joo Ven sendiri memperpanjang daftar nama pemain Malaysia yang dijuluki spesialis Runner Up nomor tunggal putra di Kejuaraan Asia ini. Beberapa pemain Malaysia seperti Muhammad Arif Abdul Latif, Iskandar Zainnudin, dan Loh Wei Sheng beberapa tahun lalu hanya finish sebagai Runner Up sebelum mitos itu dipatahkan Zulfadli Zulkiffli yang menjadi Juara Asia Junior tahun lalu.
Melawan Joo Ven, Mamota nyaris dipaksa bermain tiga gim ketika ia tertinggal 19-20 di gim kedua, namun ia balik menang 22-20 dan memastikan emas keduanya. Setelah penyerahan medali emas keduanya, Mamota memakai pakaian tunik tradisional dari Uzbekistan mengajak kedua rekannya di nomor tunggal putri, yakni Nozomi Okuhara dan Ayane Kamaguchi untuk berfoto.
Kento Mamota sendiri punya wajah yang bisa dibilang layaknya bintang pop, namun ternyata dibalik wajah rupawan dan tentunya permainan cantiknya yang solid itu, sikapnya bisa dibilang dingin loh kawan.. Jangan marah kalo dicuekin..
Klasemen Medali Kejuaraan Asia Junior 2012
Selesai Kejuaraan ini, Seluruh Medali diberikan kepada para pemenang. Berdasarkan 6 nomor yang dipertandingan di Kejuaraan ini, yakni BS, BD, XD, GS, GD dan Mixed Team, Jepang memuncaki klasemen dengan 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu sedangkan Indonesia berada di peringkat ketiga dibawah Jepang dan Korea dengan 1 emas dan 2 perunggu. Berikut klasemen akhir Medali Kejuaraan Asia Junior 2012.
- Japan : 2 Emas (BS, Team), 1 Perak (GS), 1 Perunggu (GS)
- Korea : 2 Emas (XD, GD), 1 Perunggu (Team)
- Indonesia : 1 Emas (BD), 2 Perunggu (BD, BS)
- India : 1 Emas (GS), 1 Perunggu (BS)
- China : 3 Perak (XD, GD, Team), 2 Perunggu (XD, GD)
- Chinese Taipei : 1 Perak (BD)
- Malaysia : 1 Perak (BS), 2 Perunggu (Team, GD)
- Vietnam : 1 Perunggu (XD)
- Hongkong : 1 Perunggu (BD)
- Thailand : 1 Perunggu (GS)
Dan Berikut Hasil Final nomor individual/perorangan di Kejuaraan Asia Junior 2012 yang digelar 7 Juli 2012 di Gimcheon.
- GS : Sindhu PV (IND) bt Nozomi Okuhara (JPN) : 18-21, 21-17, 22-20
- GD : Shin Seung Chan-Lee So Hee (KOR) bt Yu Xiaohan-Huang Yaqiong (CHN) : 17-21, 21-15, 21-17
- XD : Choi Sol Kyu-Chae Yoo Jung (KOR) bt Wang Yilv-Huang Dongping (CHN) : 17-21, 25-23, 23-21
- BD : Arya Maulana Aldiartama-Edi Subaktiar (INA) bt Lin Wang Chi-Lin Wu Hsiao (TPE) : 17-21, 22-20, 21-10
- BS : Kento Momota (JPN) bt Soong Joo Ven (MAS) : 21-13, 22-20
Shindu makin tinggi di Podium teratas

Menjadi Juara Asia Junior, PV Shindu yang jangkung naik ke podium teratas di Gimcheon. Saat naik ke podium teratas, terlihat jamplang antara Shindu dengan lawan yang dikalahkannya di Final, Nozomi Okuhara yang kecil mungil itu.
Melawan si ulet asal Jepang itu, Shindu nyaris kalah di gim penentuan saat kedudukan 19-16 untuk keunggulan Okuhara. Shindu pun meyakinkan diri untuk menang. ”Dia terus memimpin pada game ketiga dan sampai 19-16, maka saya berpikir Aku harus memenangkan permainan ini. Ini adalah final dan aku harus menang.”
Dari kedudukan 19-16, Shindu pun mampu menyamakan kedudukan 20-20, dalam wawancara ia menyatakan sempat nyaris menangis. ”Saya hampir menangis. Pada saat kedudukan 20 sama, hanya dua poin dan dia akan menang atau dua poin untuk saya dan saya akan memenangkannya.”
Akhirnya dua poin terakhir diambil Shindu untuk memenangkan gelar Juara Asia Junior pertamanya dengan 18-21, 21-17, 22-20. Setelah pertandingan, ia menelepon keluarga dan pelatihnya yang bahagia mendengar kabar itu.
Televisi sangat berarti

Penyiaran televisi di Korea untuk turnamen ini membantu pasangan Lee So Hee-Shin Seung Chan mengabarkan berita kemenangannya kepada orang tua mereka. Di ganda putri, Lee-Shin menang atas Yu Xiaohan-Huang Yaqiong dengan 17-21, 21-15, 21-17.
“Orang tua kita di sini menonton, ini menjadi yang pertama bagi kami ketika semua orang tahu kami menang di sebuah turnamen dari semua turnamen yang pernah kami ikuti,” ujar Shin setelah meraih medali.
Dalam pertandingan itu, Shin mengaku gugup terutama di gim pertama. “Pada game pertama, saya benar-benar gugup, Jadi (Lee So) Hee terus memberitahu saya Tidak apa-apa, tidak apa-apa dan dia bilang kita hanya harus percaya satu sama lain dan kami akan bisa menang.”
Kegugupan itu ternyata datang ketika ia harus bermain melawan pemain China. Dikaitkan dengan Kejuaraan Dunia Junior lalu, ia menganggap kemenangannya sebagai Juara Dunia Junior karena tidak ada pemain China saat itu (nganggap lawannya di Final mudah gitu > Anggia Shitta-Shella Devi).
“Dalam Kejuaraan Dunia Junior, kita menang tapi tidak ada pemain Cina di sana sedangkan untuk gelar ini, kami tidak yakin untuk mengalahkan pasangan Cina,” ujar Lee So Hee menutup wawancara.
Dalam pertandingan kemarin diwarnai aksi protes Tim China karena beberapa kali pemain China yang melawan wakil tuan rumah Korea dikenai fault oleh umpire, service judge maupun umpire. Bahkan aksi Tim China itu membuat pelatih China meninggalkan lapangan alias WO (Anak didiknya ditinggal gitu aja??).

