Taufik sebatas Nominasi

salam duaribuan…

Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Taufik Hidayat tahun ini akan bersaing dengan para punggawa lapangan hijau tersohor tanah air untuk mendapatkan penghargaan pilihan anak-anak Indonesia, Indonesian Kids Choice Awards (IKCA) edisi 2012

Sejak ajang penghargaan ini diselenggarakan pada 2008 lalu, Taufik selalu masuk daftar nominasi kategori Atlet Terfavorit dalam Indonesia Kids Choice Awards (IKCA) dan kembali untuk edisi 2012, ia bersanding sebagai nominasi bersama 3 pemain sepakbola, yakni Andik Firmansyah, Bambang Pamungkas dan Christian Gonzales.

Namun hingga 2011 lalu, Taufik masih sebatas Nominasi untuk kategori ini dan kemungkinan bakal memperpanjang status langganan nominasi di tahun 2012 ini karena dibandingkan nominasi lainnya, Taufik kalah mentereng dibanding 3 bintang sepak bola itu.

Bambang Pamungkas juga menjadi nominasi sejak 2008, namun namanya menjadi pemenang Atlet Terfavorit di IKCA 2009. Nama Christian Gonzales menjadi nominasi di tahun 2011 lalu sedangkan Andik baru dinominasikan di tahun ini.

Untuk itu, sebagai Badminton Lovers, kita wajb mendukung Taufik Hidayat sebagai satu-satunya bintang Bulutangkis yang masuk nominasi IKCA. Cara mendukungnya via SMS dengan mengetik KCA 9D kirim ke 6288 (tarifnya biasanya mahal, ampe 2000), yang mudah via Web dengan klik http://www.globaltv.co.id/ikca.

Dalam sejarah 4 tahun terselenggaranya IKCA, Taufik hidayat bukan menjadi satu-satunya nominasi yang berasal dari dunia tepok bulu. Ada Maria Kristin Yulianti yang ternyata menjadi nominasi di tahun 2008. Atas prestasi membawa Tim Uber menjadi Runner Up, menjadi Runner Up di Indonesia Terbuka sampai meraih perunggu Olimpiade Beijing membuat ia menjadi salah satu nominator ajang penganugerahan anak-anak terbesar di Indonesia itu.

Namun sayang, Taufik dan Maria kalah oleh Chris John di tahun 2008 itu. Maria berhasil masuk nominasi karena IKCA tahun 2008 digelar 28 November 2008, dua bulan pasca kemenangan Maria atas perunggu Beijing. Meski meraih Perunggu, pemenang Atlet Terfavorit IKCA 2008 ada pada Chris John.

Tahun 2009, atlet terfavorit bergulir ke Bambang Pamungkas. Denny Sumargo yang memulai debut sebagai nominasi di tahun 2010 langsung menang. Irfan Bachdim pun begitu, ia langsung sukses menjadi atlet terfavorit di tahun 2011. Kali ini, 2012 sepertinya gelar tidak akan menjadi milik Taufik. Andik memiliki kans besar, karena performanya dipuji sampai ke klub Eropa disana. Kita buktikan siapa atlet Terfavorit IKCA 2012 pada 14 Juli 2012.

Diluar menang atau tidaknya Taufik, ia masih disegani sebagai icon bulutangkis Indonesia. Jika anda berkunjung ke berbagai negara, pasti banyak yang mengeluh-eluhkan nama Taufik Hidayat, dibandingkan Lin Dan atau Lee Chong Wei. berbagai julukan datang kepada ayah 2 anak in i. Apa saja? Kita intip yuk…

Bad Boy

Taufik Hidayat pernah dijuluki seorang bad boy. Ia selalu membuat kontroversi. Julukan Bad Boy ia dapatkan bermula dari Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Kala itu kantor berita transnasional memberitakan “perang dingin” antara dia dengan Lin Dan. Kontroversi Taufik bisa dibedakan menjadi kontroversi dengan sesama atlet, media massa, PBSI dan masyarakat secara umum.

Terhadap sesama atlet, Taufik mengatakan Lin Dan saat di Doha, bahwa Lin sebagai orang yang “arogan” dan tidak mau diajak berbicara. Kantor berita AFF dan Reuters memberitakan hal itu dalam beberapa hari ini. kemudian dilansir Qatar Tribun, koran terbesar di negara Teluk itu, juga dimuat di Harian Gulf Times. Dalam berita itu disebut-sebut Taufik sebagai “pemain top Indonesia”, “superstar” dan “menikahi puteri ketua Komite Olahraga Nasional”.

Jika dengan Lee Chong Wei. Lihat saja di Indonesia Open 2009, Saat itu, pemain Malaysia, Lee Chong Wei, yang mengalahkan Taufik di final, secara samar-samar menyarankan Taufik untuk mundur karena sudah melewati masa jayanya. “Tak elok cakap-lah,” kata Chong Wei. Reaksi Taufik? “Kalau lagi menang, memang ngomong apa aja juga enak. Dulu waktu saya menang terus kan dia juga tidak bisa ngomong apa-apa,” kata Taufik sambil tertawa-tawa.

Terhadap media massa, Taufik selalu sinis berkata kepada media terhadap wartawan lokal yang memuji-muji permainannya, Taufik dengan mudah berkomentar, “Sekarang Anda memuji saya karena menang. Nanti kalau kalah, tulis besar-besar tentang semua kelemahan saya….”

Terhadap PBSI, ini lebih dari sering, beberapa kali Taufik mengancam PBSI untuk keluar dari Pelatnas karena tidak menginginkan pelatih selain Mulyo Handoyo. Taufik rupanya lebih membutuhkan sikap seorang teman dalam diri Mulyo Handoyo daripada seorang Mulyo yang murni bersikap sebagai pelatih. Bahkan setelah Kejuaraan Dunia 2001, ia sempat mengancam akan pindah ke klub di Singapura karena disitu Mulyo berada. Tapi untungnya saat itu PBSI memilih mengontrak kembali pelatih itu.

Terhadap masyarakat secara umum, Taufik selalu mengemukakan kalimat yang sama, masyarakat selalu mementingkan dan menuntut juara, ketika kalah, banyak sekali yang mencemooh. disusul mengenai kesejahteraan para atlet yang setulus hati memutuskan memilih dunia olahraga untuk ditekuni dan meninggalkan kehidupan normal. Dan yang paling menampar dunia olahraga, sepakbola memang olahraga masyarakat yang paling digemari, namun bulutangkis adalah olahraga prestasi.

Berbagai kontroversi itu dilakukan Taufik tanpa sebab, karena sewaktu kecil, Taufik Hidayat memang termasuk anak pendiam dan pemalu, jauh dari kesan menonjol. Pergaulannya terbatas hanya dengan teman-teman tertentu. Bukan karena sombong, melainkan karena pemalu. Taufik kecil sama seperti anak-anak lain, pertengkaran selalu terjadi karena berbagai sebab. Tapi, ia cenderung mengalah jika harus bentrok dengan rekannya. Air matanyalah yang kemudian mengakhiri pertikaian.

Biasanya, tekanan-tekanan sewaktu kecil seperti itu akan berdampak pada anak ketika ia dewasa. Ia merasa masa kecil yang selalu ‘kalah’ oleh kawan-kawannya ingin ia lampiaskan. Dan ketika menjuarai berbagai turnamen, ia mulai ngoceh ke sana ke mari. Membuktikan kepada kawan-kawan lamanya, ia bisa menang tapi lewat cara yang sportif.

Kelakukan Taufik yang sempat membuat banyak sekali kabar miring terhadapnya diantaranya adalah pemukulan supir pribadinya, Ahmad Kalla. Diceritakan Ricky Subagja, ”Coba kalau sopir itu melawan, kemudian Taufik cedera. Ya, kasarnya kalau tangan kanannya sampai cedera parah, dia mau gimana? Nah dia kadang tidak memikirkan lebih jauh soal akibatnya”. Untung saja sang sopir tidak melawan. Emosi Taufik sedang tinggi-tingginya saat itu.

Kehidupan glamour juga hinggap ke diri Taufik. Ia terbiasa mencari hiburan ke kafe pada malam hari untuk sekedar refreshing. Tak tanggung-tanggung, sering dianggap indisipliner karena keluar malam. Kebiasaan itu terus berlanjut. Saat pelatnas Olimpiade masih berlangsung atau tiga pekan menjelang keberangkatan ke Athena, Taufik dengan seorang rekannya sesama pelatnas, kepergok wartawan tengah berada di Hard Rock Cafe Plaza EX Jakarta pada acara I Like Monday konser Padi. Padahal, arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.35 WIB.

Golden Boy

Ini sudah tidak diragukan, di tahun 2004 ia memperpanjang nafas tradisi emas Indonesia di Bulutangkis. Tahukah anda, padahal saat itu prestasi bulutangkis menurun dan sempat terlontar Ketua Umum saat itu, Chairul Tanjung disuruh mundur dari kursi Ketua Umum PB PBSI oleh masyarakat Indonesia.

Namun prestasi mendulang emas Olimpiade, Juara Dunia dan 2 kali Juara Asian Games membuatnya diagung-agungkan oleh masyarakat Indonesia. Julukan Golden boy pun disematkan pada pria kelahiran kota kembang itu.

Ia bahkan pernah menjadi Ketua Panitia 17-an dan kegiatan Idul Adha. Dari itu lah ia belajar bagaimana bertanggungjawab. Berkat kegemilangan kariernya, Taufik membeli banyak rumah, termasuk rumah di kawasan elite di Bukit Rafflesia Cibubur Jakarta yang merupakan hasil jerih payah selama menggeluti bulutangkis. Di dalam garasi rumah juga sudah ada mobil mewah BMW warna silver dan Nissan Sport warna merah. Belum lagi sekarang, setelah meraih emas di Olimpiade 2004, dia bakal mendapat bonus dalam bentuk kontan sebesar Rp 1 miliar dari KONI dan rumah seharga Rp 2 miliar dari ketua umum PBSI, Sutiyoso. Bonus itu akan bertambah lagi dari pihak lain termasuk dari Pemprov Jabar.

Dibayangkan lagi, saat menuju Kompleks Pelatnas dalam rangka pelepasangan Tim ke Kualifikasi Piala Thomas dan Uber 2012 di Macau pada Februari lalu, Taufik datang dengan Mobil Ferarri. Kedatangan Taufik dengan mobil sportnya yang berwarna abu-abu itu.

Taufik mengaku mobil ferrarri itu dibelinya sejak setahun yang lalu. Ini merupakan pembuktian kerja keras sepanjang karier bulutangkisnya yang dibilang sangat fenomenal. Dan Taufik lebih beruntung dibandingkan dengan peraih medali lain dari Indonesia, seperti Alan-Susi, Rexy-Ricky, Tony-Candra atau Markis-Hendra.

Bahkan keterkenalannya membuat ia dicantumkan sebagai duta untuk MILO School Competition yang menganugerahkan Piala Taufik Hidayat tiap tahun. Dan yang kini paling utama, Golden Boy’s menjadi nama dari salah satu tempat pelatihan bulutangkis yang pasti kebanjiran peminat, yakni Taufik Hidayat Arena.

Manusia Empat Olimpiade

Tidak banyak orang yang bisa berlaga dalam Olimpiade, utamanya lebih dari sekali. Taufik memulai debut Olimpiade di tahun 2000 sebagai unggulan pertama. Masih sangat belia, tersandung mitos bahwa unggulan pertama di nomor tunggal putra tidak bisa menjuarai Olimpiade.

Itu terjadi di Taufik, di babak pertama ia mendapat bye namun di dua babak selanjutnya ia harus melakoni drama rubber gim untuk menang. Ia menginjakkan kaki di babak 8 besar, sayang ia dikalahkan Ji Xinpeng dengan dua gim langsung 12-15, 3-15. Ji Xinpeng sendiri meraih emas di Sydney kala itu.

Luckynya terjadi di tahun 2004. Mitos gugurnya unggulan pertama kembali terjadi. Lin Dan gagal di babak awal, disusul Bao Chunlai yang saat itu menjadi saingan utama Taufik. Taufik pun mengalahkan Hidetaka Yamada di babak pertama, Wong Chong Hann di babak kedua, Peter Gade di babak perempat final, Boonsak Ponsana di Semifinal dan mengalahkan Shon Seung Moo di Final dengan dua gim langsung 15-8, 15-7. Ia pun menangis memeluk Mulyo Handoyo.

Semenjak itu, namanya sangat berkilau dan paling disegani. Teknik-teknik pukulannya banyak ditiru oleh para rivalnya kala itu. Taufik mendunia, menguasai berbagai turnamen yang diikutinya. Hingga ia pun kembali terpilih ke Olimpiade Beijing 2008. Taufik menjadi 50 besar atlet yang paling dinantikan di Olimpiade 2008, lebih dari andalan tuan rumah, Lin Dan. Ia pun sering di shoot oleh kamera saat pembukaan Olimpiade 2008.

Sayang seribu sayang, beberapa pekan sebelum Olimpiade. Taufik Hidayat menjalani perawatan di rumah sakit Pondok Indah. Namun ketika ada Pemeriksaan laboratorium, tidak ada kemungkinan Taufik mengalami gejala tiphus atau pun demam berdarah dengue (DBD) saat itu.

Taufik pun kembali berlatih di Pelatnas. Hasilnya ternyata tidak maksimal, Taufik kalah di babak pertama oleh Wong Chong Hann dari Malaysia yang ia kalahkan di Athena 2004. Wong menang 21-19, 21-16. Padahal kala itu Taufik menjadi unggulan 7 dalam turnamen paling bergengsi di dunia. Tapi kita bisa maklum, ia sempat mengeluh sakit beberapa minggu sebelum bertolak ke Beijing. Olimpiade itu dimenangkan Lin Dan yang menjadi unggulan pertama, akhirnya mitos unggulan pertama tersingkir sebelum perebutan medali pupus oleh wakil utama tuan rumah itu.

Tapi, ia kembali tampil ke kancah Olimpiade lagi. Kali ini di tahun 2012. Setali tiga uang, Peter Gade menjadikan ini Olimpiade keempatnya juga. Kali ini Taufik diunggulkan sampai babak Perdelapan Final Olimpiade nanti. Tidak ada target muluk-muluk soal Olimpiade, mengingat usianya yang bukan usia emas dan menurutnya ia sudah memiliki apa yang ia mau, Juara Olimpiade dan Juara Dunia. Tinggal bagaimana ia mempopulerkan bulutangkis di kancah dunia.

Di Indonesia Open lalu, Taufik mengakhiri dengan kegagalan di babak kedua dan saat konpres, ia bilang bahwa ini menjadi turnamen DIO terakhirnya dan tahun depan ia akan datang sebagai suporter setia merah putih. Benar saja jika ia menjadi Manusia Empat Olimpiade karena tahun 2012 menjadi olimpiade keempat sekaligus penutup terakhirnya.

Mr. Backhand

Kalau ini semua sudah tahu, Mr. Backhand. Seorang Taufik Hidayat mempopulerkan sebuah teknik yang sebenarnya digunakan bukan untuk mematikan lawan (mengembalikan bola), tapi lewat sosok Taufik, kepopuleran pukulan backhand mematikan ini belum bisa disamai.

Entah karena karunia Tuhan atau memang hasil kerja keras, backhand Taufik bisa menjadi sebuah serangan mematikan. Backhand smashnya tercatat menjadi pukulan yang tercepat hingga kini. Kecepatannya mencapai 260 km/jam.

Backhand adalah sebuah teknik atraktif yang tidak bisa ditebak pengembaliannya. Jika kita melihat backhand, banyak atlet yang dikembalikan lambung lurus, lambung silang atau dropshot (ingat ketika Bae Seung Hee mempermainkan Wang Yihan di Uber 2010, saat itu Bae memberikan umpan backhand pada Yihan yang mulanya hendak di dropshot namun tidak sampai).

Di tangan Taufik, backhand itu bisa menjadi sebuah senjata mematikan. Pukulan backhand menukik pelan maupun rendah dikembalikannya dengan akurat. Ini yang membuatnya sangat terkenal di berbagai penjuru dunia. Mungkin anak kecil yang sedang bermain di sebuah klub terpencil di Afrika sana diajari backhand, sang pelatih menyebutnya “Hidayat Backhand”.

Bagusnya, sampai kini belum ada pemain tunggal putra dengan backhand sesempurna Taufik. Bahkan ia memperlihatkan backhand seperti forehand, dan Taufik membuat itu terlihat mudah, tapi sulit untuk atlet-atlet meniru teknik backhand dari Taufik. Mungkin jika usianya tidak uzur lagi, ia masih merajai papan atas dunia. Ia dijuluki Mr. Backhand karena bakat besarnya itu.

Taufik punya cara berbeda saat memegang grip raket. Jika Lin Dan dan Lee Chong Wei selalu memegang grip dengan posisi jempol lurus pada bagian grip yang lebar. Taufik kebanyakan memegang grip dengan jempol menyilang (tidak lurus) pada bagian lebar grip. Inilah yang mungkin patut dijajal.

Playboy

Taufik hidayat sangat terkenal dengan image playboy yang melekat pada dirinya. Kisah cintanya membuatnya lebih terkenal sebelum ia meraih medali emas Olimpiade. dia bisa memikat hati petenis putri, Wynne Prakusya, yang saat itu menjadi petenis nomor 1 Indonesia, sebelum Angelique ”Angie” Widjaja (Petenis yang sampai di QF Wimbledon) muncul ke permukaan. Singkat cerita, Taufik dan Wynne pacaran.

Ternyata hubungan mereka tidak langgeng. Mereka putus karena perbedaan prinsip. Paling menghebohkan, Wynne mulai ”bernyanyi” ke media massa bahwa Taufik telah meminjam uang sebesar Rp 40 juta untuk membeli mobil. Wynne sempat menuntut agar uang tersebut dikembalikan. Namun, kelanjutan masalah itu diselesaikan mereka berdua.

Menjelang Olimpiade 2000 Sidney, nama dia makin meroket melebihi dari prestasi olah raganya. Taufik berpacaran dengan Riafinola Ifari Sari alias Nola, salah satu personel dari kelompok penyanyi ”AB Three”. Taufik pun mulai dikenal lebih luas, tidak terbatas pada kalangan olah raga lagi, tapi masyarakat yang senang menonton berita-berita infotainment.

Saat itu, di mana ada Nola, Taufik selalu mendampinginya. Ia seakan sudah mulai menjadi selebriti karena mulai masuk dunia hiburan. Nola pun bersikap sama. Ketika kekasihnya berjuang di Sidney, dia ikut menyusul ke sana. Bahkan, Taufik sempat marah kepada Pikiran Rakyat karena memberitakan dia keluar dari perkampungan atlet malam hari untuk menemui Nola.

Gagal meraih prestasi di Olimpiade 2000, nama dia tidak tenggelam begitu saja. Bahkan, makin berkibar karena setelah hubungan dengan Nola putus, dia berpacaran dengan artis cantik bintang sinetron, Deswita Maharani. Walau sudah gonta-ganti pacar, dia masih tetap bisa memperlihatkan prestasi bulutangkis.

Ia merebut medali emas di Asian Games 2002 Busan Korea. Hubungan dengan Deswita sendiri tampaknya lebih serius. Mereka secara resmi bertunangan. Mereka berdua sudah sepakat untuk melanjutkan hingga jenjang pernikahan, walau belum bersedia menyebutkan kepastian waktunya. ”Yang tahu hanya saya dengan Deswita,’ ujar Taufik pada saat penyambutan kedatangan Kontingen Indonesia di ruangan VIP Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno Hatta, dengan medali emasnya itu.

Kisah cintanya dengan perempuan berhidung mancung, deswita maharani yang harus berakhir di tahun 2005. Setelah itu kisah hubungannya dengan artis Linda Rahman. Dan yang paling menggemparkan yaitu munculnya Excel anak dari Fanny yang mengaku kekasih Taufik dan anak tersebut anak dari Taufik.

Padahal saat itu Taufik baru saja menikah dengan Ami Gumelar pada tahun 2006. Namun karena tidak terbukti, dan tidak ada pengakuan dari Taufik, berita itu hilang dengan sendirinya.

Setelah beberapa lama tidak di timpa gosip lagi. Pada tahun 2010 saat hamil anak keduanya, Taufik kembali di gosipkan dengan seorang wanita. Saat itu beredar foto wanita tersebut dengan taufik hidayat sedang berciuman di bandara. Namun sang istri yang tengah mengandung menanggapinya dengan tenang. Dan taufik juga memberi pengertian bahwa wanita di foto itu hanya temannya saja.

Kini ia bahagia setelah memiliki dua orang anak, Natarina Alika Hidayat dan Nayotama Prawira Hidayat. Bersama Ami, mereka menjadi keluarga bahagia. Karunia anak kedua itu membuatnya semakin dewasa, ocehannya yang dulu tajam kini makin tumpul. Taufik pernah berkata bahwa ketika ia punya prestasi, ia boleh bicara apa saja, ia membuktikannya, semua kontroversi itu membuat namanya banyak dicetak media dunia, tak hanya dari dalam negeri.

Benar, tanpa prestasi Taufik lebih banyak diam kini. Patut kita apreasi legenda hidup bulutangkis Indonesia ini. Ia telah menorehkan banyak prestasi dan membuat bendera Indonesia berkibar di kancah dunia. Sebagian dari informasi ini, terutama kisah cinta Taufik saya dapatkan dari catatan fanpage Taufik Hidayat Lovers.

Dan yang lagi-lagi saya ingatkan, dibandingkan Lin Dan, Lee Chong Wei atau Gade. Taufik akan banyak dikenang oleh dunia. Lin Dan belum menjuarai Indonesia Terbuka, bohong kalau dunia bilang ia memiliki gelar yang lengkap. Juara di Indonesia berarti Juara dalam hal mental atas tekanan dari pendukung Indonesia yang selalu solid.

Lee Chong Wei hanya berharap Olimpiade tahun ini atau tidak sama sekali, jika gagal ia hanya akan termakan oleh puluhan gelar Superseries yang ia terima tiap tahun. Sementara Gade hidup mendunia sebagai legenda Eropa, ia menikmati bermain bulutangkis yang membesarkan namanya.

Sedangkan Taufik akan melegenda dengan Juara Dunia, Juara Olimpiade ditambah kenangan dia seorang Mr. Backhand. Backhand adalah teknik dasar bermain bulutangkis. Setiap orang yang menekuni bulutangkis, teknik backhand pun akan ia terima dan Taufik Hidayat, namanya akan selalu disebut-sebut sebagai ahli dalam hal ini. Tapi untuk keempatnya, mereka layak mendapatkan Badminton Hall of Fame dari BWF karena keempatnya punya dedikasi tinggi terhadap bulutangkis dunia.

Wel untuk Badminton Lovers, gue ingatkan lagi, kita wajb mendukung Taufik Hidayat sebagai satu-satunya bintang Bulutangkis yang masuk nominasi IKCA. Cara mendukungnya via SMS dengan mengetik KCA 9D kirim ke 6288 (tarifnya biasanya mahal, ampe 2000), yang mudah via Web dengan klik http://www.globaltv.co.id/ikca…

salam duaribuan…

About these ads