Sony Dwi Kuncoro, Si Perunggu Athena 2004
salam duaribuan..

duaribuan absen lama pasca Thomas & Uber Preliminary Asia Zone 2012 lalu membawakan sebuah kenangan tak terlupakan dari Si Perunggu Athena 2004, Sony Dwi Kuncoro alias SDK. Lama tak terdengar kabarnya? bagaimana kiprahnya? 
Sony Dwi Kuncoro, layaknya Maria Kristin Yulianti, namanya pernah mengibarkan nama Indonesia, ketika di Athena tahun 2004 lalu, ia mengibarkan bendera Indonesia pada posisi ketiga di Tunggal Putra, bersanding dengan Taufik Hidayat yang meraih emas kala itu. Sony menyumbang 1 perunggu untuk Indonesia. Namun, dibalik sikap alimnya, stamina dan cedera selalu membayang-bayangi arek Suroboyo kelahiran 7 Juli 1984. Mungkin Perunggu Athena 2004 adalah prestasi tertinggi dan mungkin (terakhir) baginya? Sebelum kita kilas balik perjalanan SDK, kita lihat dulu nih Identitasnya.
- Nama : Sony Dwi Kuncoro
- TTL : Surabaya, 7 Juli 1984
- Klub : Jayaraya Suryanaga Surabaya
- Rank Tertinggi : 3 (Oktober 2004)
- Rank sekarang : 64
Setelah melihat identitasnya, kini Kita akan kilas balik perjalanan SDK, dulu dan kini…
Silver Medalist 2000 IBF World Junior Championship

Kejuaraan Dunia Junior, kala itu diselenggarakan masih oleh IBF (International Badminton Federation) merupakan salah satu prestasi terbaiknya di tingkat Junior. Kala itu, SDK masih berusia 16 tahun. Ia menjadi Runner Up di Kejuaraan Bulutangkis Junior tertinggi kala itu.
Kala itu, Sony kalah dari Unggulan 3 Bao Chunlai yang berusia 17 tahun. Sementara Lee Chong Wei dan Lin Dan menjadi Bronze Medalist. Kala itu Lin Dan berusia 17 tahun dan Lee Chong Wei berusia 18 tahun. Kala itu, di Semifinal, Sony mengalahkan Lee Chong Wei.
Masuk Pelatnas 2001

Kemenangan di World Junior Champion 2000 membuat nama Sony dilirik masuk Pelatnas. Ia pun akhirnya masuk pada tahun 2001 dan mengibarkan namanya.
Pada laga Indonesia Open 2001, adalah salah satu debut terbaiknya, ia lolos ke Kuarterfinal sebelum dikalahkan oleh Pulella Gopichand, 7-3, 7-0, 4-7, 5-7, 3-7.
Beat Lin Dan in Second Round Malaysia Open 2003

Sony Dwi Kuncoro dipertemukan pertama kali dengan Lin Dan pada laga ini. Saat itu, Lin Dan maupun Sony masih menjadi pemain-pemain muda berbakat. Sony kala itu dapat mengalahkan Lin Dan dengan skor 15-11, 15-7 pada Babak Kedua Malaysia Open. Meskipun mengalahkan Lin Dan, langkah Sony terhenti pada Kuarterfinal saat Wong Chong Hann mengalahkan Sony 15-13, 15-10. Ini adalah kali pertama Lin Dan dikalahkan Sony dan sampai saat ini masih yang terakhir karena setelah itu, Sony terus dikalahkan oleh Lin Dan.
Gold Medalist SEA Games 2003

Sony Dwi Kuncoro juga pernah meraih kemenangan saat SEA Games. Kali ini ia membalas kekalahan saat di Kuarterfinal Malaysia Open lalu, Di SEA Games 2003, ia meraih Emas setelah mengalahkan Wong Choong Hann dari Malaysia dengan skor 15-8, 15-5. Wong Chong Hann merupakan pemain Malaysia yang pernah meraih Silver Medalist pada Kejuaraan Dunia 2003 di Birmingham, dimana kala itu, Sony dikalahkan Wong di Babak Quarterfinal dengan 8-15, 5-15.
Bronze Medalist 2004 Summer Olympic Athens

Sony Dwi Kuncoro yang menjadi pelapis Taufik Hidayat di Athena berhasil memberi kejutan ketika menggondol Perunggu. Ini adalah salah satu prestasi terbaiknya. Road to Bronze Medalist MS 2004 Olympic
- Round 1 : SDK VS Roslim Hashim [MAS] : 15-6, 9-15, 15-8
- Round 2 : SDK VS Ronny Andersen [NOR] : 15-7, 15-6
- Kuarterfinal : SDK VS Park tae Sang [KOR] : 15-13, 15-14
- Semifinal : SDK VS Shon Seung Mo [KOR] : 6-15, 15-9, 9-15
- Bronze Medal Match : SDK VS Boonsak Ponsana [THA] : 15-11, 17-16
Setelah itu, ia menjadi salah satu andalan Indonesia di Tunggal Putra, sekaligus harapan pengganti Taufik Hidayat.
3rd Rank

Pasca kemenangan dan membawa Bronze Medal ke tanah air, Sony menjadi salah satu Tunggal berkelas dunia. ia menduduki Ranking tertinggi pada Oktober 2004 lalu.
Sony adalah tipe pemain yang sering kehabisan stamina, apalagi dengan sistem rally 3×21 poin yang menguras stamina para pemain, terutama sektor tunggal. Apalagi dengan cedera yang diderita arek suroboyo ini, sering ia harus absen dalam beberapa turnamen yang menyebabkan rankingnya terus menerus merosot. Saat ini ia bahkan menempati Ranking > 60.
But, gue tahu dia punya kelebihan sebagai seorang pemain sehingga bisa menjadi World Player Rank 3. Sesuai daerah asalnya, Jawa Timur, sifat ke-jawa-annya membuat tipe permainannya lebih lembut, tipe yang cendrung kurang agresif untuk ukuran cowok. Senjata pamungkasnya adalah Kombinasi rally dengan Lob yang di akhiri dropshot tajam dan sekali smesh keras yang mampu menghasilkan poin.
But, ia memang tipe MKY, dimana ada shuttlecock, ia akan mengejarnya. Meskipun kadang cedera, ia tetap memaksakan mengikuti pertandingan. Ia sangat ulet, Tiga game pun dilakoni SDK walaupun akhirnya kalah di game penentuan. Pernah saat bermain, ia harus jatuh bangun sampai lututnya lecet & berdarah, tapi cukup diusap pake ludah, lalu Sony langsung maen lagi. Salut…
Gelar Ranking 3 ini adalah ranking terbaiknya hingga kini. Meski belum meraih Rank 1, ia pernah mengalahkan nama-nama besar seperti Lin Dan, Lee Chong Wei, Chen Jin serta Bao Chun Lai meskipun di pertemuan berikutnya terkadang Sony sering kalah.
Sampai 2011, ia masih bertahan di Pelatnas meskipun Rankingnya jatuh merosot. Saat badai pemain senior yang keluar Pelatnas (era Vita Marissa, Markis/Hendra, Taufik Hidayat, Nova Widianto), Sony tetap bertahan di Pelatnas. namun PBSI pun mendegradasi Sony pada akhir 2011 karena tenggelamnya prestasi Sony.
Gold Medalist SEA Games 2005

SEA Games Gold Medal kedua bagi Sony didapatnya di Manila, tahun 2005 lalu. Pada partai Final, Sony mengalahkan Simon Santoso, sang rekan di Pelatnas. Sebelumnya, di Semifinal MS, Sony mengalahkan Muhammad Hafiz hashim sedangkan Simon mengalahkan Lee Chong Wei. Dengan ini, Simon meraih 2 emas SEA Games.
Juara Asia 2005

Sony Dwi Kuncoro melengkapi berbagai gelarnya. di tahun 2005 namanya tercantum sebagai Juara Asia setelah memenangkan Badminton Asia Championship di Hyderabad, India tahun 2005 lalu.
Pada laga Kuarterfinal, ia menang atas Boonsak Ponsana 11-15, 15-4, 15-11. Pada Semifinal mempertemukannya dengan Ng wei dan menang 15-3, 15-11 sekaligus menghantarkannya ke Final dan menang 15-10, 15-5 atas Kwan Beng Hong dari Malaysia.
Semifinalist Thomas Cup 2006

Pada Piala Thomas 2006 di Jepang, Tim Thomas Indonesia hanya sampai babak Semifinal sebelum dikalahkan China. Sebelum mencapai kemenangan, Sony sempat memberikan perlawanan berarti ketika partai itu berlangsung.
Di Tokyo, digelar Babak Semifinal Piala Thomas 2006 mempertemukan Indonesia dengan China dan Malaysia dengan Denmark. Indonesia kalah 0-3 dari China.
Pada partai pertama, digelar laga Taufik Hidayat dan Lin Dan. Taufik kalah 16-21, 8-21. Laga selanjutnya adalah Ganda Putra, Pasangan Alvent Yulianto/Luluk Hardiyanto kalah dari Cai Yun/Fu Haifeng dengan 22-24, 17-21. Sedangkan laga klasik Bao Chunlai VS Sony kembali digelar. Pada set pertama, Sony kalah 17-21. Namun di set kedua, duel ini berlangsung ketat. Sony berkali-kali membuat jus, hingga akhirnya Sony kalah 22-24.
Silver Medalist 2007 World Championship
![]()
Tak lama terdengar namanya, Sony tak terduga mampu menjadi Runner Up Kejuaraan Dunia BWF 2007 di Glasgow. Pada Babak pertama, ia mengalahkan Chietan Anand dari India, Babak kedua bertemu Nakanishi dari Jepang dan pada Babak ketiga bertemu Lee Chong Wei. Ia menang 21-11, 21-9 atas Lee dan memastikan tempat di Semifinal.
Di Quarterfinal, Gade menjadi lawannya, ia menang 22-20, 21-18. Semifinal ia menang tipis 18-21, 21-13, 21-15 atas Chen Yu dari China. Kemenangan itu menghantarkannya ke Final. Namun sayangnya, Lin Dan menghentikan langkahnya, Lin Dan menang 21-11, 22-20.
Hattrick Superseries title 2008

Tahun 2008 adalah salah satu tahun terbaiknya, ia memenangkan 3 titel Superseries secara beruntun. Ia memenangkan Superseries di Indonesia, Jepang dan China.
Di Final Indonesia Superseries, Sony mengalahkan Simon dengan 19–21, 21–14, 21–9. Di Jepang ia mengalahkan Lee Chong Wei 21-17, 21-11 dan mengalahkan Chen Jin 21-19, 21-18 di China Master Superseries.
Quarterfinalist Olympic 2008

Tak bisa ulang suksesi Olympic 2004, Sony harus puas tersingkir dari Lee Chong wei di Partai Perempat Final Olympic 2008 di Beijing. Saat itu Sony yang masih dibekap cidera memaksakan diri untuk tetap bertanding di Olimpiade 2008.
Round 2 mempertemukannya dengan Boonsak Ponsana dan menang 21-16, 21-14. Round 3 bertemu dengan wakil Finlandia, Ville Lang dan menang 21-13, 21-18 dan gagal ke Semifinal setelah dikandaskan Lee Chong Wei 9-21, 11-21.
Menikah

Banyak anggapan menikah bisa membuat prestasi atlet menurun. Tapi, itu tak berlaku bagi Sony. Baginya menikah justru akan memotivasi dirinya untuk berprestasi lebih baik. Karena itu, melepas masa lajangnya pada 24 Juli 2009. Sony menikahi wanita yang sudah tujuh tahun dipacari, Gading Safitri, di Hotel Garden Palace, Surabaya.

Pesta pernikahan dengan gading yang telah dipacarinya sejak masih di bangku SMA itu, akan digelar besar-besaran di Graha Samudera Komplek Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) Bumimoro, Surabaya, yang dihadiri ribuan undangan, termasuk tamu-tamu penting.
Pasca menikah, Sony tak bisa berbulan madu dengan sang istri, ia pun harus siap kembali ke Pelatnas menjalani latihan sebelum menuju Kejuaraan Dunia 2009 di Hyderabad, India.
Bronze Medalist 2009 BWF World Championship

Tahun 2009 namanya kembali berkibar, kali ini ia menjadi Bronze Medalist dalam ajang Kejuaraan Dunia. ini adalah kado emas baginya pasca perkawinannya dengan Gading Savitri yang saat ini menjadi istrinya.
Pada saat itu, Di Kuarterfinal, Sony dipertemukan dengan Lee Chong Wei. Lee sendiri mengalahkan Sony saat pertemuan di Olimpiade lalu. LCW meremehkan Sony. Namun Sony membalikan keadaan dan menang 21-16, 14-21, 21-12 atas Lee Chong Wei dan berangkat ke Semifinal.
Di Final pun, Lin Dan sebagai lawan harus berkeringat terlebih dulu sebelum mengalahkan Sony. Lin Dan menang 21-14, 13-21, 21-15. Dengan hasil itu, Sony hanya puas meraih Medali perunggu. padahal saat itu Sony juga masih dibalut cedera.
Gelar Superseries Singapore 2010

Sony Dwi Kuncoro dalam performa sehat berhasil menjuarai Superseries Singapore Open 2010. Ini adalah gelar Superseries pertama Indonesia di tahun 2010. Perombakan besar-besaran, keluarnya pemain senior kelas atas dari Pelatnas membuat perbulutangkisan Indonesia sepi. Gelar Superseries 2010 pun hanya disumbang Taufik Hidayat di Perancis dan Sony Dwi Kuncoro di Singapore.
Di Singapore, Sony kembali mengalahkan Lee Chong Wei 7-21, 21-19, 21-15. Di Final, Sony menang atas Boonsak Ponsana dengan skor 21-16, 21-16. Pasca turnamen ini, tak ada berita kemenangan Sony, Sony terbalut cedera berkepanjangan, layaknya Maria Kristin Yulianti.
Divya Amanta Kuncoro, Buah Cinta Sony-Gading

Buah cintanya bersama Gading Safitri akhirnya lahir pada 2011, namanya Ditya Amanta Kuncoro, putri pertama Sony. Putri Sony lahir pada 4 Maret 2011 dengan berat dan panjang normal. Ini merupakan kado manis bagi Sony sebagai seorang ayah setelah berbagai berita keterpurukannya di bulutangkis.
Hal unik dari Sony adalah, ia adalah salah satu atlet Gaptek, bahkan situs jejaring sosial milik Sony dibuatin oleh Sang Istri, Gading.
Cedera berkepanjangan

Salah satu masalah klasik Sony akhirnya terulang kembali. Cedera berkepanjangan membuatnya harus absen dari berbagai turnamen besar. Seiring berjalannya waktu, ranking Sony terus merosot, pernah mencapai angka ratusan namun 2011 menjadi titik baliknya, rankingnya mulai membaik, menjadi Ranking 67 BWF.

Sony memang telah menjalani masa-masa emasnya sebagai seorang atlet. Cedera adalah salah satu kekurangan Sony. Namun satu yang tak pernah saya lupakan, kalemnya Sony bukan berarti ia tak mampu menang, Perunggu Athena adalah buktinya…
salam duaribuan…

Berjuanglah di titik balikmu, sony pasti bisa
kami mengharapkanmu untuk menjadi yg terbaik kembali
artikel yang lama2 ga bisa di buka buat di baca lagi? soalnya kan aq baru nemu situsnya, nah pengen baca2 yg lama, bisa ga ??