First Chapter of My Live

Buat beberapa orang, SMP adalah masa-masa ‘Keemasan’, Tapi aku merasakan hal yang sebaliknya. Di usia belia, Laksana aku jatuh dalam lubang yang sangat gelap.

…………………..

Belum pula dilaksanakan UN SD, salah satu SMP Favorit memulai tes untuk label internasional pertama mereka. Awalnya aku tak suka, tapi aku terlanjur basah. Ayahku mengharapkanku.

Di Tes masuk saja, sudah ada cemoohan dari kawan yang belum ku kenal. Aku gagal, namun dalam hati aku bersyukur setengah mati. Tes itu kujalani dengan asal karena memang aku tak menginginkan SMP itu. Terlalu elite, batinku.

Pemikiran lugu ku itu terbuka setelah aku diterima lewat jalur lain. Ayahku ngotot memasukkanku kesana. Kekhawatiranku terjawab 3 tahun berjalan. Aku tak siap mengenal dunia bebas kala itu.

Awal masuk, aku sendiri. Satu teman bertanya, “Kamu anak mana?”, ketika ku dengar suara itu, spontan ku meliriknya, namun ia tak terlihat menatapku, ia memandang meja dengan gugup. Takutkah ia padaku?

Berjalan waktu, kepandaianku memang diakui. Tapi tak senada dengan sikapku, teman dekatku hanya seberapa. Bahkan banyak dari mereka yang mengolok-olokku karena sikapku. Awalnya sangat sabar, menuju ke batas kesabaran. Di depan teman lain, aku mempermalukannya. Sempat ku memoles kepalanya. Aku tersenyum, aku masih ingat kala itu.

Namun, dengan kelakuanku itu, lebih banyak yang mengenalku karena sikapku yang berbeda. Aku sangat sadar, banyak mata melihat dan mulut berbicara. Bahkan teman dekatku yang sangat kuhargai melakukan hal sama. Aku kecewa, tapi aku sadar, tanpa mereka, aku bagaimana?

Saat itu, ejekan banyak yang berakhir tangis. Aku pun sangat ceroboh karena suatu hal sepele, mataku berlinang, tapi teman-temanku tertawa lebar. Senang kalian? Batinku dalam hati.

Beranjak setahun, ini sangat mendebarkan. Setiap tahun diadakan pengundian kelas. Aku merasa tidak beruntung ketika ditempatkan di kelas yang menurut banyak orang menguntungkan. Aku semakin menanggung beban. Olokan bertambah.

Bahkan untuk teman sebangku harus berbagi tiap hari. Sangat menyiksa, tapi saat itu belum dikenal istilah ‘Galau’.. Jadi, Tiap Hari tetap kujalani santai.

Setahun berlanjut tanpa terasa. Aku bergumam, “tinggal setahun lagi disini”. Di Kelas IX, kelasku merasa ‘kompak’, tidak menginginkan pengundian kelas. Menginjak kelas Senior, guru juga senior. Disini aku makin menginginkan ketulian.

Tiap minggu ada saja perkataan guru yang menggunjingku. Walau begitu, 7 bulan kulalui. Aku beruntung cuma 7 bulan karena kala itu UN SMP digelar sangat awal. pengayaan dimulai 1 bulan. Aku sadar, aku mulai didekati, mereka memintaku menolongnya sewaktu UN. aku berbesar hati menolong, meski olokan mereka masih terdenting di telingaku.

UN menjelang. Aku merasa sukses prestasi tapi tidak dalam kehidupan sosial. Aku memutuskan Perubahan di moment 15 tahun hidupku.

Dibantu teman yang masih sangat membantu hingga kini, aku merubah diri 180 derajat berbeda. Orang-orang awalnya tidak memandang. ‘ini baru awal’, batinku.

Ijazah keluar, aku masuk SMA di kota yang sama. Aku bertemu mereka lagi, batinku. Awalnya Ibukota menjadi bidikanku, tapi orang tuaku tak setuju. Aku berpikir, tak ada salah tuk masuk SMA ini, “ini waktu menunjukkan, bukan balas dendam” ujarku pada seorang temanku.

Aku diterima di kelas yang katanya ‘favorit’ di SMA. Aku masuk dengan jiwa baru, Terima Kasih Sahabatku, Kau Mengubahku.

Bukan hanya tampilan luar, sikap juga laksana air dan api. Masuk dengan percaya diri, ramah pada guru, mengurangi omongan yang tak perlu, dan mulai mengikuti kegiatan di SMA.

Waktu menjawab, kini, olokan hanya sebatas candaan, itu pun sudah kebal kunikmati dalam 3 tahun SMP ku. Makin hari makin jadi, namaku jadi kontroversi. Tapi bukan karena olokanku sewaktu SMP, ini karena perubahan.

Selama 3 tahun itu, aku banyak mendapat pelajaran hidup, yang paling utama adalah ‘Sahabat itu bisa lebih tajam menusuk daripada pisau, tapi kita harus percaya dan yakin bahwa mereka tidak akan melakukan itu’

…………………..

Ini Sebuah Cerita Pendek diangkat dari kisah nyata.

About these ads