Cerpen : Sang Pemenang

Sang Pemenang

Pada suatu hari, di Sekolah diadakan perlombaan seru dalam rangka ulang tahun sekolahku. Hari itu kelihatan mendung, namun berbagai perlombaan tetap dilaksanakan. Perlombaan yang diadakan antara lain basket, sepak takraw, volley, tenis meja, catur dan berbagai perlombaan lainnya. Aku mengikuti perlombaan catur.

Pertandingan catur antarkelas diikuti oleh seluruh perwakilan kelas. Pertandingan catur akhirnya dimenangkan Mario sebagai juara pertama, kemudian disusul Bastian sebagai juara kedua dan aku sebagai juara ketiga.

Sambil menimang-nimang pialanya, Mario tertawa riang. Sedang aku dan Bastian cukup puas dengan hadiah yang terdiri dari beberapa buku tulis itu.

Setelah bel terakhir berdentang, kami lalu berlarian pulang. Jalan demi jalan kami tapaki. Namun di tengah jalan, ternyata hujan tiba-tiba menderas, kami pun terpaksa harus berteduh di pos ronda.

“Untuk mengisi waktu, siapa yang berani melawan aku?” Tanya sang pemenang sambil mengeluarkan kotak caturnya dari dalam tas.

“Perut lapar, Segan ah!” sahutku.

”Ah, juara ketiga takut rupanya, bagaimana dengan juara kedua?” tanya Mario pula.

“Males, ah!!” jawab Bastian yang sambil duduk memeluk lutut.

“Ah… payah, dasar pecundang, masa takut sama aku!!” sahut Mario yang menyombongkan diri.

Dan ketika itu masuklah seorang yang bertubuh kerdil, baju dan sarungnya basah kuyup. Sebelum duduk, orang itu mengambil sapu tangannya lalu menyeka muka dan tengkuknya.

“Untuk iseng pak, mari main catur!!” Tantang Mario kepada orang itu. Orang itu menyulut rokoknya baru menyahut, “Saya tidak bisa main catur, Nak!”

“Ah, masa!” Ujar Mario sambil membetulkan buah caturnya.

“Ajari jalannya, ya!” sahut orang itu sambil mengingsut duduknya.

Lalu dengan gaya seorang juara catur kelas berat, Mario memberi pelajaran kepada orang itu.

“Untuk langkah pertama, pion boleh maju dua langkah” kata Mario.

Dengan langkah ragu, orang itu memajukan sebuah pion dua langkah.

“Nah, saya juga maju dua langkah.”

“Kalau ini jalannya bagaimana?”

“O, itu kuda. Jalannya membentuk huruf L” jawab Mario.

“Ya, saya maju ke sini.” lalu orang itu memajukan kudanya.

Keduanya lalu asyik bermain. Tiap mau melangkahkan buah caturnya, orang itu hampir selalu menanyakan bagaimana jalannya. Namun, Mario tetap teguh pada pendiriannya untuk mengajarkan bapak itu mengenai catur, walaupun kelihatannya Mario kesal mendengar bapak itu menanyakan cara jalannya.

Hujan terus saja mengucur dengan derasnya. Kulihat Bastian senyum-senyum sambil memeluk lutut.

Aku hanya bisa duduk merunduk menahan lapar ingin segera pulang, segan mengikuti orang main catur. Saat aku melihat Mario, aku tertawa dalam hati ketika ia mulai kelihatan kebingungan.

Ternyata aku tahu mengapa Bastian tadi tertawa sendiri melihat Mario dan bapak itu saling beradu. Dalam hati aku berkata bahwa mungkin Bastian tertawa karena wajah Mario kelihatan gugup menghadapi orang itu.

“Yang ini, boleh maju dua langkah?” kata orang itu dengan suara agak keras.

“Itu ster, boleh saja.” sahut Mario jengkel.

Aku memutuskan tidur sejenak sambil memperhatikan mereka. Lalu aku bangkit dan memperhatikan permainan mereka berdua. Aku jadi tersenyum. Kiranya Mario semakin terdesak.

“Kalau kuda jalannya L ya? Nah, saya mau maju ke sini saja!” kata orang itu.

”Itu namanya skak,” suara Mario gugup.

”O, ya skak! Kata orang itu.

Mario memindah rajanya.

”Ster boleh maju tiga langkah, ya?”

Mario cuma mengangguk. Kelihatan gelisah sekali sekarang.

”Ya, saya maju ke sini!”

Kulihat muka Mario menjadi merah padam. Kiranya dia kena skak lagi. Rajanya terjepit. Tidak ada jalan lagi.

”Celaka, raja saya mati!” suara Mario parau.

”Heh, mati?” tanya orang itu.

“Ya, bapak yang menang.”

“Apa? saya yang menang, masa?” tanya orang itu seolah-olah linglung.

Mario mengangguk lalu memasukkan buah-buah caturnya ke dalam kotak. Sementara itu hujan telah reda. Kami pun berlarian pulang.

”Sialan, saya lengah dan jadi kalah.” gerutu Mario sambil berlari.

”Kau memang belum apa-apa kalau melawan orang itu,” sahut Bastian terus disambung dengan tawanya.

“Heh, jadi… jadi?” ujar Mario gugup.

“Lawanmu tadi Pak Fauzan namanya,“ sahut Bastian, “dia juara catur pertama tingkat kecamatan tahun lalu.”

“Oh, pantas… pantas…”, desis bibir Mario.

“Oh, jadi dia ini juara catur kecamatan tahun lalu, pantas…”, ujarku.

Terdengar gelak tawa Bastian. Tawaku pun tak bisa kutahan seiring ku ketahui ternyata orang itu adalah juara catur kecamatan. Sedang Mario kulihat nyengir kuda.

About these ads